Selasa, 15 Januari 2013

^ . . . Alangkah 'sesuatu'nya Punya Marga . . . ^

Selalu ada cerita di tiap jejak kehidupan. Seperti hari ini,  hari Minggu du-bi-du-la-la yang cukup mengukir senyum simetris di wajah wit-swit  saya ini. :-)
Jadi begini saudara-saudari sekalian..

Hari ini bumi terang benderang 12 jam kan ya…?? #emang selama ini berapa jam, cin? :D#. Oke, 6 jam pertama daku habiskan di kos tercinta dengan serentetan aktivitas domestik. Maklumlah, wiken itu hari membabu sedunia, ~versi saya dan beberapa rekan di jagat FLP~. Jadi yang namanya mencuci, ngobrak ngabrik kamar sudah tentu masuk dalam daftar kegiatan  hari ini. Masak? Pasti! Hari ini daku nge-sop daging euuuyy….enak kali lah pokoknya. *halah, macam si Lia ini saja yang makan daging bah! Hahaha* Tak hanya itu, sebelum nyuci dan masak, daku sempatin senam satu jam demi mempertahankan kecantikan… :D

Selepas sholat zuhur, daku keluar rumah. Kali ini daku menggandeng anak gadis ibu kos menuju Klambir V. Daku ingin bertandang ke rumah Nurganti, sobat semasa kuliah, sekaligus melepas kangen pada bidadari kecilnya “Ling-Ling Lubis”. *kunamai Ling2 bersebab wajahnya putih melopak, matanya cipit. Tak cocok bermarga Lubis*. :-)

Tiba di sana, apalagi yang dilakukan kalau buka kombur malotup. Cerita nostalgia, rumah tangga, de el el lah pokoknya, sambil menonton pilem India yang disuguhkan MNCTV. Kami baru berhenti ketika Ashar memanggil. Begitu selesai sholat, suami Nur ngajuin ide brilian, “di kulkas kan masih ada daging, buat sate yuk!” mendengar “sate”, semangatku langsung ber-api2. “Semua bahan lengkap, lontongnya juga masih ada”,  sambung Nur. Namun apalah arti semua itu tanpa kuah kental lagi pedas. Daku beri usulan untuk beli kuahnya aja ke tukang jual sate. Mereka setuju.

Daku dan Nur mulai menyisir jalan mencari gerobak sate. Meski sudah seperempat jam berjalan, penjual sate tak kunjung kami temukan. Kiranya para pedagang masih banyak yang enggan jualan. #kekenyangan kali ya?# Tapi daku tak patah semangat. “kita cari ke arah pajak”, kataku. Nur menurut saja, sebab daku yang megang kendali si Tomcat.

Alahai, mataku liar sekali ke sisi kanan-kiri jalan. Pantang ada steling atau gerobak, lirik truuusss…hingga beberapa meter lagi nyampe rel, daku melihat abang2 menggotong beratus tusuk sate menuju sebuah gerobak. “Yes, itu dia yang kita cari-cari”, ucapku. Daku meminggir, lalu perlahan berhenti tepat depan gerobak.

“Bang, jual sate ya? Boleh beli kuahnya aja?”, daku memburu si abang.

“Boleh, beli berapa?”, si abang tersenyum.

Kami beli sesuai dengan yang kami butuhkan. Di sela pembuatan, daku ajak ngobrol.

“Abang mau jualan kemana?”.

“Ke Pinang Baris”, jawabnya dengan kata Ke yang kental logat Batak. Nur nimbrung, “halak hita do abang?”. Kulihat wajahnya sedikit terkejut.

“iya, orang Mandailing”.

“Marga apa abang?”, tanyaku tak sabar. Daku mencurigai sesuatu.

“Siregar”.

Daku tertawa. Sudah kuduga. “aku juga Siregar, bang”. Kataku

“Dan aku Rotonga, bang”, sambung Nur.

“Hah? Iyanya? Kalo begitu kuah sate ini gratis sajalah untuk kalian”.

Dan kami pun menerima kuah sate dengan wajah sumringah. Kesenangan bukan main. Yang gratisan itu memang punya rasa tersendiri. Alangkah “sesuatu”nya punya marga. :-D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar