Memo Pilu

Kamis, 17 Januari 2013


“Tak guna kau menyesal, Laksmi. Lebih baik kau beranjak sekarang sebelum ibu pulang dan mengusirmu dari sini.”
Sebenarnya aku tak tega memperlakukanmu seperti ini. Kau saudara sedarahku. Tapi keputusanmu itu telah menggoreskan luka yang purna di hati ibu, Kak Ifa, Bang Yan dan aku, kakak yang paling dekat denganmu. Kau tak tau betapa ibu tiga hari tak sadarkan diri setelah membaca memo pahit yang kau tinggalkan di meja makan. Aku dan Kak Ifa pontang-panting mengurus ibu di rumah sakit. Sementara Bang Yan membatalkan keberangkatannya ke Jakarta mengikuti Speech Contest tingkat nasional yang sudah lama diimpikannya itu. Dan kau, ponselmu tak aktif. Mengisyaratkan bahwa kau benar-benar tak lagi peduli pada keluarga kecilmu.
“Tapi aku benar-benar menyesal, Kak. Aku ingin minta maaf pada ibu, Kak Ifa, Bang Yan dan kakak.” Kau sesunggukan.
“Pergilah, Laksmi. Pergi!” Aku membentak. Perlahan kau beringsut pergi.
Bukan aku tak mau memberimu kesempatan. Aku hanya tak ingin ibu pulang dan melihatmu di rumah ini. Ibu terlanjur sakit hati padamu, Laksmi. Aku masih ingat ucapan yang pertama kali keluar dari mulut ibu begitu sadar dari komanya, “dia bukan anakku lagi. Aku tak ingin melihat wajahnya. Jangan pernah kabarkan tentang keadaanku padanya.” Mata ibu menyalakan api kemarahan. Hatinya perih tak terkatakan. Pun Kak Ifa dan Bang Yan. Keputusanmu telah meluluh-lantakkan impiannya.
Aku sendiri menyimpan kekecewaan mendalam padamu. Kau telah merenggut kepercayaan yang kuberikan. Aku jadi merasa turut andil melukai hati ibu. Semua berawal dari keinginanmu menjadi seorang biduan.
Kau memang adikku yang memiliki suara merdu. Tiap hari kau bersenandung di rumah sambil mencuci, memasak, bahkan saat mengerjakan PR. Kau tak fanatik dalam bermusik. Pop, dangdut, melayu, religi, semua kau nyanyikan. Yang paling menggelitik hatiku ketika sapu kau jadikan microphone, lalu kau bergaya bak penyanyi ala diva Indonesia. Belakangan kudengar kabar dari teman sekelasmu bahwa kau sering bernyanyi di kelas bila gurumu tak datang. Hingga suatu kali guru agama menghampirimu.
“Tim nasyid sekolah ini lagi nyari vokalis. Ibu rasa kau orang yang tepat untuk itu.”
Kau kegirangan menyampaikan kabar ini pada seisi rumah. Apalagi tim nasyid sekolahmu akan mengikuti festival nasyid se-provinsi. Ibu, Kak Ifa dan aku mendukung. Bang Yan bahkan berjanji akan mentraktirmu makan sepuasnya bila kau tampil baik hingga timmu menjadi juara di festival itu. Kau jadi begitu bersemangat. Dan nyatanya, usahamu tak sia-sia. Tim nasyid sekolahmu menyabet juara terbaik satu di ajang festival tahunan itu.
Sayangnya, kau harus berhenti berjibaku di dunia nasyid pasca kemenangan itu. Sebab kau memasuki semester kedua di kelas tiga. Sekolahmu tak membiarkan siswa kelas tiga mengikuti segala bentuk ekstrakurikuler sekolah. Saatnya konsentrasi pada persiapan ujian nasional. Kau cukup kecewa kala itu. Namun aku tiada henti menyemangatimu, hingga akhirnya kau bisa menerima.
Begitu ujian nasional usai, ibu menawarkanmu untuk mengikuti bimbel sebagai persiapan masuk perguruan tinggi. “Gak usah, Bu. Laksmi cukup membahas soal-soal saja di rumah,” itu katamu. Kuakui kau memang bukan gadis bodoh. Nilai akademikmu selalu memuaskan. Sebab itu aku yakin kau bisa membahas soal-soal itu dengan baik.
Hasil ujian nasional baru akan keluar sebulan berikutnya. Hari-hari kau habiskan di rumah dengan membaca, bahas soal dan sesekali menonton. Tapi rupanya kejenuhan menggerogoti jiwamu tepat dua minggu ujian nasional usai.
“Laksmi ingin  kerja, Bu,” ucapmu memecah keheningan makan malam saat itu.
“Bukannya penerimaan mahasiswa baru dua bulan lagi? Fokus belajar aja, Nak,” ibu menyela lembut. Sementara aku, Kak Ifa dan Bang Yan saling pandang. Heran.
“Laksmi gak akan bekerja yang menyita banyak waktu, Bu. Laksmi akan tetap sering di rumah.”
“Yang namanya bekerja itu pasti menyita waktu. Kakak khawatir kau tak bisa membaginya dengan belajar,” Kak Ifa angkat bicara.
“Ini beda, Kak.”
“Pekerjaan apa yang kau maksud, Nak?” selidik ibu.
“Biduan.”
Glekk!! Ibu tercekat. Bang Yan melotot. Aku dan Kak Ifa spontan berhenti mengunyah. Seperti rem cakram yang tiba-tiba diinjak, mendadak menghentikan laju sepeda motor.
“Tidak. Kau tak akan pernah ibu izinkan jadi biduan”.
Sejak malam itu kau terus berusaha melunakkan hati ibu. Tak putus cara, kau mengajakku kompromi. Kau tiada henti memelas padaku agar membantumu membujuk ibu. Tampaknya kau tahu betul bahwa ibu sering menerima pendapatku. Untuk menyenangkan hatimu, kulakukan jua usaha itu. Meski aku tak yakin berhasil.
Terlanjur buruk citra biduan di mata ibu. Bercermin pada beberapa biduan yang ada di kampung kita. Hampir keseluruhan dari mereka berakhir dengan kawin lari, pecandu aktif obat terlarang, bahkan hamil di luar nikah.
Tiba-tiba aku teringat pada Mega, seorang biduan yang citranya tak seburuk biduan kebanyakan. Mega tak pernah mau tampil dengan pakaian minim, apalagi dandanan menor. Pun ia tak pernah menyanyikan lagu-lagu nyentrik, yang memancing gerombolan anak muda bergoyang di panggung. Jika harus manggung malam, ia hanya bersedia paling lama jam sebelas malam. Hingga dua tahun melakoni profesi biduan, ia dipinang baik-baik oleh owner penerbit Erlangga.
Aku menceritakan kisah Mega pada ibu. “Hanya ada satu dari seratus biduan seperti Mega, dan adikmu belum tentu bernasib sama dengan Mega. Pokoknya ibu tidak setuju. Titik.” Suara ibu meninggi. Aku tak lagi berani berkomentar. Aku beranjak menuju kamar. Dan kau yang menguping dari balik pintu pun memasang muka kecewa.
Besoknya dan besoknya lagi kau terus membujuk Ibu. Kau mengancam tidak akan kuliah bila tidak diizinkan jadi biduan. Akhirnya ibu menyerah. Dengan setengah hati ia memberi izin dengan syarat Bang Yan harus menemani tiap kali kau manggung. Kau tak boleh berdandan menor, apalagi berpakaian minim. Kau juga tak diizinkan bernyanyi dengan musik-musik ganas yang memancing birahi. Ah, kau meloncat girang sekali.
Rupanya kau membuktikan kata-katamu. Kau hanya menerima tawaran manggung dua kali dalam seminggu. Selebihnya kau menghabiskan waktu di rumah dengan belajar, bahas soal dan sesekali menonton. Sampai hasil ujian nasional keluar, kau menyabet nilai tertinggi di sekolahmu. Ibu bangga. Kami semua bangga. Kebanggaan kami terasa lengkap tatkala kau lulus di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang kau idamkan.
Jelang delapan bulan kau jadi biduan, Bang Yan tak lagi bisa menemanimu. Sebab ia harus bekerja sebagai pelayan di food court setelah perkuliahan. Untunglah Ibu sudah mulai percaya padamu, sehingga ibu mengizinkan kau pergi manggung sendirian. Selang dua bulan saja kau sedikit demi sedikit berubah. Kau mulai pulang di atas jam sebelas malam diantar seorang lelaki. Pakaianmu tak minim, tapi ketat. Membentuk jelas lekuk tubuh mungilmu.
Berangkat kuliah pun kau tak lagi sendiri. Seorang lelaki bersepeda motor gede selalu datang mengantar-jemputmu. Ironisnya, lelaki itu tak pernah pamit pada ibu setiap kali membawamu. Kau tak pernah mau menjelaskan siapa lelaki itu tiap kali ibu bertanya. Padaku pun kau tak lagi mau berkisah. Kau juga mulai sering membantah omongan ibu. Hingga suatu malam ibu sudah tak tahan.
“Mulai saat ini kau berhenti jadi biduan!”
“Tidak. Ibu tak bisa melarangku. Aku tetap jadi biduan,” suaramu meninggi satu oktaf dari nada bicara ibu. “Soal lelaki itu, tak perlu ibu pertanyakan. Yang jelas dia baik.” Kau berlari ke kamar dan membanting keras daun pintu, meninggalkan ibu terpaku berlinang air mata. Batinnya tersayat. Perih. Kau tak peduli.
Malam itu Kak Ifa izin pulang agak larut hingga tak menyaksikan perlakuanmu itu, sementara Bang Yan dikarantina. Sebab dua hari lagi ia berangkat ke Jakarta mengikuti Speech Contest Nasional. Jadilah aku sendirian menggamit hati ibu. Kusuruh ia istirahat. Sejam kemudian Kak Ifa pulang dan aku menceitakan perlakuanmu itu padanya. Hampir saja Kak Ifa mendobrak kamarmu, tapi kutahan. Kukatakan esok pagi saja bicara baik-baik denganmu.
Malam itu ibu gelisah. Sesekali terisak. Dalam waktu yang bersamaan kau sedang menjalankan misi. Entah setan apa yang merasuki hingga kau tega membunuh hati ibu saat fajar mengintip bumi, lewat memo yang memilukan.
Aku pergi bersama kekasihku, lelaki bermotor gede. Kuyakin ibu takkan pernah setuju dengannya. Tapi aku mencintainya. Aku rela kemana pun dibawanya, termasuk membawaku pada tuhannya.
Ibu terjatuh. Lama tak sadarkan diri. Sementara aku, hatiku bagai dikuliti. Pun Kak Ifa dan Bang Yan. Satu kesalahan yang tak termaafkan. Kau murtad!

*Cerpenku ini juara dua dalam sayembara cerpen internal FLP SU
   :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS