% . . . Untuk Imam, 21 . . . %

Senin, 28 Januari 2013


Kuharap malam ini kotamu tak berhujan. Agar kau bisa menemaniku menikmati rembulan yang kini tengah menggantung di perut langit, meski dari tempat yang berbeda. Ah, cobalah dongakkan kepalamu sekarang, cantik bukan? :-)

Jika kau tanya detilnya, aku sungguh tak ingat sejak kapan aku jatuh cinta pada purnama. Yang pasti kehadirannya selalu kutunggu, sebab itu akun twitterku bernama LiaRinduPurnama. Kurasa aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa di wajah purnama tersimpan dua senyum yang selalu kurindui; Senyum Bunda dan Senyummu.

Kau tau, dulu malam purnama adalah jadwal aku menyimak kisah cinta sepasang sejoli yang menjadi wasilah lahirnya aku ke dunia ini. Ya, kisah cinta Ayah Bundaku. Tiap kali purnama  menjelang, Bunda membimbingku duduk di teras menghadap langit, untuk kemudian membawaku sejenak menapaki masa mudanya.

Ayahku seorang pelaut. Tiap hari menerjang badai, melawan gelombang bersama perahu mesin yang ia punya. Kadang bermalam di atas riak yang bisa mengamuk kapan saja. Membuat Bundaku tak kuasa bermimpi indah meski malam kian gigil. Maka purnama adalah saat-saat penantiannya untuk bisa leluasa berduaan dan menjalin kasih bersama lelakinya.

Hmm…satu lagi kau perlu tau. Ayahku itu romantis. Purnama tak pernah disia-siakannya. Ia akan mengajak Bunda jalan kaki keliling kampung menikmati malam, sesekali bertandang ke rumah kerabat. Lantas aku? Oh, aku yang didulang di pundaknya, duduk manis melingkari tengkuknya sambil sesekali aku berceloteh. Lia kecil mulutnya bijak lagi celewet lho, Imam…. #kini pun masih bersisa celewetnya. Hehehe#

Ah, memaparkan kisah kasih mereka takkan cukup satu atau dua malam. Pun kurasa Bunda belum sempurna menamatkan kisahnya padaku saat ia kembali keharibaan. Tapi tak apa, setidaknya ia telah mengukir puing bahagia di wajah purnama untukku.  Makanya kukatakan ada senyum Bunda yang tersimpan di sana, tentu selalu kurindu.

Lalu senyummu. tentu saja. Yang jelas, bergegaslah kau datang menjemputku. Agar kita tak lagi menikmati purnama di tempat yang berbeda. Jangan pernah tinggalkan peta yang diberikan tuhan untukmu, agar kau tak tersesat.
Ini dulu ya,
Selamat ber-moon gazing… :-)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS