Jumat, 29 November 2013

Mitos Nenek Moyang #Part 2



Masih seputar cerita nenek moyang. Well, kita lanjutkan yang ketiga.

1.      Hantu Lapar
Sejak lahir postur badanku terlalu mungil, hitam, dan kerempeng. Lengkap sudah.  Anak kurang gizi adalah julukan yang acap kali kuterima. Jika aku berjalan dengan Bunda, sungguh teramat kontras. Bagi yang tak kenal, tak kan ada yang percaya aku ini anaknya, buah cintanya dengan lelaki terksihnya itu. Secara fisik, dari segi mana pun memang tak mirip. Bunda berbadan tambun, aku persis kayak tiang listrik. Bunda berwajah bulat, aku *kata orang* sedikit lonjong. Aku sendiri pun tak mengerti hingga kini berbentuk apa wajahku ini. Padahal sudah berpuluh ribu kali ngaca. Soal kulit, aku teramat legam. Sementara Bunda sedikit sawo matang.

Syukurnya orang-orang di kampung kebanyakan kenal dengan ayahku. Kata mereka, semua fisikku ini kuwarisi darinya. Bahasa membuminya “Aku Duplikat Ayahku”. Barulah aku agak tenang sedikit.

Masalahnya, status Bundaku yang pegawai negeri seringkali jadi kambing hitam akan kekerempengen badanku ini. “Percuma anak PNS, kok kurang gizi begini”. Itu ocehan yang sering sampai ke kupingnya. Membuat jantungnya gedebak gedebuk tak karuan. Ujung-ujungnya aku jugalah yang diomelin. Ya, mau gimana lagi. Lidah emang tak bisa bohong *jiaaaaaaahh, iklan banget kau Lia*

Dulu, aku emang gak doyan makan. Sayur apa pun tak suka, susu anti, segala jenis daging kumusuhi kecuali daging ikan. Dan yang lebih membuat Bundaku menderita, mulutnya harus berbusa membujuk dan mengejar-ngejar hanya untuk memasukkan sesuap nasi ke celah besar bibirku ini. Hingga kini, satu kalimat pamungkasnya yang paling kuingat, “orang yang gak mau makan akan ditangkap hantu lapar”, dengan suara yang sehoror mungkin. Itulah yang membuatku sering takluk dan berlutut di hadapan piring yang ada di tangannya.

Seiring pertumbuhanku, aku menyelidiki keberadaan dan keabsahan hantu lapar itu. Dan hasilnya, *jreeeeeeng* Ah, you know lah what. Semua akal-akalan dan bualan semata.

*sekedar klarifikasi bahwa posturku kini banyak berubah. Ciyeee… aku juga telah berdamai dengan beberapa sayur mayur, daging-dagingan, dan susu*

4. Kutuan, diterbangkan ke air panas
Hari gini kutuan? Sorry lah yawww! Malu-maluin kalo sempat uda gede begini masih akrab dengan kutu. Lain halnya ketika aku kanak-kanak dulu. Tercatat satu peristiwa konyol yang jika kuingat kini membuatku senyam senyum sendiri.

Dulu, setelah pulang dari sekolah dasar sekitar pukul satu, aku melanjutkan study di madrasah pada pukul dua siang. Kami sebut “sekolah pengajian Alwashliyah”. Entah tradisi apa pulak yang kami anut sehingga setiap istirahat tepat di jam sholat ashar begitu, kami serempak buka jilbab sambil bermain. Ecek-eceknya mau pamer rambut dan berlaga, rambut siapa paling bagus.

Suatu ketika, kami kelelahan bermain ampar-ampar pisang. Akhirnya kami duduk di sebuah pondasi rumah penduduk tepat di samping gedung pengajian kami. Aku menggaruk-garuk kepala. Melihatku begitu, kawanku malah mendekat dan membelah rambutku dengan kedua tangannya. Dia takjub melihat sesuatu menjalar bebas di atas kepalaku. Apalagi kalau bukan kutu. Aku sama sekali tak tau menau dari mana asal muasal kutu itu hingga beranak pinak membentuk kawanan di rambutku. Aih…. *nyembunyiin muka ke kolong meja*

Lalu salah seorang kawanku yang rambutnya terbebas dari serangan kutu mengambil seekor dari kepalaku dan meletakkannya di kepalanya. Katanya, dia ingin sekali dikerubungi para kutu. *makjaaaaaang, aku saja kepengen membasmi tuntas kutu-kutu biadab itu. gara-gara dia kulit kepalaku berundak-undak*.  

Anehnya, meski aku ingin membunuh kawanan kutu itu, aku sangat enggan kalo Bunda yang menelisiknya. Pasalnya Bunda tak sabaran hingga berujung pada sakit yang kurasa karena rambutku tertarik kuat. Kehabisan cara, akhirnya ia menggertakku dengan mengatakan bahwa orang yang kutuan akan diterbangkan ke air panas mendidih. Entah siapa yang menerbangkan aku pun tak tau. Sudah gak kepikiran lagi soal itu. aku sudah ngeri duluan membayangkan air mendidih itu. Akhirnya aku menyerah pasrah. Beberapa waktu sesudah itu, kutu-kutu itu kembali keharibaannya. Putus hubungan dengan kutu! Huh! *malingkan muka ke kiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar