Salah Kaprah

Sabtu, 09 November 2013



Ini kejadian lucu sekaligus memalukan. Andai saja wartawan tiba-tiba lewat, pasti peristiwa ini akan terabadikan dan menjadi topik terhangat di media lokal kota ini. Dan aku terpaksa menanggung malu dan akan tak punya muka keluar rumah meski untuk sekedar melalang pasar. Paling tidak beberapa waktu hingga berita ini benar-benar terkubur di perut bumi.

Rabu lalu, 6 November 2013, aku memulai aktifitas dengan kondisi tubuh yang sedikit gontai. Sebab sehari sebelumnya aku menguras tenaga ekstra untuk sebuah amunisi yang mendadak dangdut; Melatih Rebana dalam kurun waktu 10 jam nonstop. Istirahat hanya sekedar makan dan ritual sholat.

Grup ini akan ditampilkan Rabu malam ba’da magrib. Maka jadilah aku menguras energi sepanjang Selasa. Adalah tidak mungkin sebenarnya mencapai target menggondol juara dalam ajang festival tahunan ini dengan waktu latihan yang teramat irit begini. Ini benar-benar praktik “kapan kebelet, saat itu jua menggali lobang”. Tak ada akal sehat yang menerimanya. Tapi melihat harap yang menjuntai di wajah petinggi desa ini, maka puing-puing optimis berhasil kukumpulkan. Paling tidak, grup ini harus tampil maksimal dan tidak malu-maluin. Berharap menang tentu, tapi ini benar-benar harapan yang tau diri. Andai tertakdir belum mengisi tiga deret jawara, maka takkan ada rasa patah hati.

Akhirnya aku tiba di rumah pukul 21 Selasa malam. Bertemu dengan kasur adalah kebahagiaan tak terkira saat itu. Aku terlelap hingga subuh menjelang. Jika tak mengingat sholat itu wajib, mungkin aku akan memilih ngorok hingga matahari sepenggala. Macam mau remuk rasanya otot-otot ini. Apa daya, tanggung jawab telah melekat jauh sebelum keadaan ini ada. Maka dengan segala daya yang tersisa, aku berangkat ke sekolah menunaikan kewajiban.

Di sinilah peristiwa itu bermula. Mati-matian aku menahankan agar tak terkesan loyo di depan para bocah-bocah haus ilmu itu. Pun di hadapan rekan-rekan pendidik. Aku berusaha riang seriang bidadari di atas pelangi. Tapi sekuat-kuatnya aku, lemah itu merundung jua.

Saat azan zuhur bergema, para siswa berlarian ke mesjid untuk sholat berjamaah. Kebetulan guru yang bertugas sebagai imam hari itu tak tampak batang hidungnya. Mau tak mau, aku meminta kepala sekolah yang memimpin sholat siang itu, sebab hanya ia lelaki yang tersisa di kantor saat itu. Ia berkenan, tapi dia bingung sebab ia harus menjemput anaknya di TK.

“Biar saya yang jemput Ihsan, Pak”, aku menawarkan.

“Jika tak merasa direpotkan, OK lah”, ucapnya sambil bergerak menuju kamar mandi untuk wudhu. Dan aku bergerak mengambil Tom Cat (red. motor) di pelataran sekolah. Aku menyisir jalan, gang, hingga akhirnya aku membawa Ihsan ke sekolah.

Setelah itu, aku bergegas mengambil air wudhu dan melangkah cepat menuju mesjid. Saat tiba di tangga, jama’ah telah usai. Anak-anak kembali berlarian menuju pintu, mengambil sepatu lalu memasangnya dan dengan riang hati pulang ke rumah. Jadilah aku sendirian berdiam di mesjid besar berlantai 2 itu. Saat salam sholat usai, aku merasa badan ini tak sanggup lagi dibawa berjalan. Mataku sedikit berkunang-kunang, pemandangan sekitar seakan tak wajar. Jangankan bangkit, membuka mukena pun aku merasa berat. Lantas dengan pasrah kugolekkan diri di atas sajadah panjang yang tersusun. Tak sampai lima menit, aku tak tau lagi apa-apa. Aku melanglang buana ke dunia lain. Lelap.

Di luar sana, orang-orang kecarian sosok diriku.

“Mungkin masih zikir di mesjid”, pendapat seorang guru.

“Tapi ini sudah di ambang batas. Masa’ sampe bel pulang begini dia belum kembali juga”, ucap yang lain.
Sementara seseorang yang lain meminta Aji, anak salah seorang guru di sekolah itu untuk mencariku ke mesjid. Tak lama ia kembali ke kantor sekolah dengan nafas ngos-ngosan dan muka pucat pasi.

“I.ii.iibuuu, Buk Dahlia terkapar di mesjid. Mu..mungkin pingsan”.
Seisi kantor berlarian. Guru-guru bertumit tinggi berhasil memecah rekor lari secepat kilat dan menaklukkan lobang-lobang jalan menuju mesjid dengan sempurna. Sementara warga sekitar langsung berkerumun dan melakukan hal yang sama. Bahkan ada yang lagi menyuap nasi tak sadar berlari sambil membawa piring makannya menaiki anak tangga mesjid. Satu gang geger.

Yang ada di kepala orang-orang saat itu adalah aku dipukul seseorang saat sholat dan tak satu pun ada yang tau. Lalu aku terkapar tak sadarkan diri. Bahkan ada yang sudah berpikiran aku meninggal, sampe terucap kata-kata, “alangkah bagusnya Lia meninggal di mesjid”.

Begitu di mulut pintu, Bu Gus teriak sekencang-kencangnya memanggil namaku. Serta merta aku tersentak dan kebingungan. Aku tak mengerti kenapa orang rame berlarian ke arahku. Ada yang berucap Alhamdulillah tak apa-apa, ada yang ngos-ngosan menapaktilasi ia yang berlari kesetanan tadi, hingga tak berasa kalo ia sedang memakai tumit tinggi, dan macam-macam lagi. Yang pasti, aku langsung diinterogasi apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa tak balik-balik dan kenapa pula terlentang di mesjid pakai mukena. Setelah kujelaskan, barulah hiruk pikuk reda. Namun tentu saja menyisakan suasana yang teramat memalukan.

Aku meminta maaf kepada rekan-rekan guru yang telah panik karena keletihan yang menderaku. Sementara pada warga, aku tak berani menampakkan muka. Malunya setengah mati. Dan sehari itu aku tak konsen melakukan apa-apa karena kejadian itu terus membayangi.

*kisah ini tidak untuk ditiru* :-)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS