Rabu, 30 Maret 2016

~ Untuk Imam, 32 ~



Tiada henti syukur mengalir atas kemurahan Allah menebar rezeki dan kasih. Sepertinya aku takkan mampu membayar segala nikmatNya meski aku bersujud seribu malam. Semoga kita tetap kukuh menempuh jalan yang diridhoiNya.

Imam, lima bulan dua belas hari sudah aku hidup bersamamu. Aku tak lagi meraba dan mengeja sesiapa, sebab kau telah nyata di mata. Imamku kini telah bernama; Sunardi Akmal. Ah, kadang-kadang aku masih merasa bermimpi telah menjadi wanita bersuami. Tapi kala terbangun di pagi hari dan kau ada di sisi, kesadaranku pulih kembali. Konyol? Mungkin saja.

Perlahan aku mulai memahami bagaimana dirimu. Di mataku kau sempurna, meski sejatinya kesempurnaan hanya milik Allah Ta’ala. Kekuranganku sepertinya tak menjadi masalah bagimu. Padahal aku sendiri sering bosan dan pusing sendiri dengan itu semua. Pelupa, gampang terpeleset alias lunglai, lelet dan sedikit keras kepala.

Seleraku juga tak pernah kau atur. Aku yang gak doyan tahu tempe bukanlah soalan terberat bagimu. Masakan yang pedas dan asinnya berasa juga kau terima dengan qona’ah. Tampaknya kau sangat mengerti lidah Batak ini. Tapi walaupun begitu, aku tetap tau diri. Seleramu tetaplah kuperhatikan. Sebab nikmatnya makanmu adalah bahagiaku. Lahapnya suapanmu adalah suka citaku.

Sungguh, caramu mencintaiku kadang membuatku kehabisan kata-kata. Kau mungkin tak pandai berkata-kata romantis. Tapi sesekali aku tersentak dengan kalimat cinta yang mengalir dari bibirmu. Membuatku melambung sesaat ke nirwana. Sifatmu yang penyabar dan “ngademin” membuatku betah berlama-lama di dekatmu. Dan kekonyolan yang kau pertunjukkan setiap hari membuatku merasa tak perlu menonton lawak lagi di tipi-tipi.

Aduhai, kau memang penyempurna hidupku. Kepadamu aku selalu jatuh cinta lima kali sehari; subuh, pagi, siang, sore, malam. Dalam doa selalu kupinta agar kita berkekalan hingga ke surga. Dan marilah kita sama-sama belajar ilmu rumah tangga, sebab ke depan mungkin akan ada kerikil yang mesti di tapaki, gelombang yang mesti di renangi. Kau Imamku, sepenuhnya aku tunduk kepadamu.

Bengkulu, 30 Maret 2016
Saat matahari mulai mengerling.


4 komentar:

  1. Turut berbahagia....Komentar awak yg lain "no comment" la ��

    BalasHapus
  2. Hahaha..nyerah? Klo pun mnurutmu yg kuceritakan selama ini pancingan,maka wajar jg lah sbnrny kau berikan selamat pada si imam itu. Karena disitulah letak nilai plusnya. Tp aku yakin lbh steril dr yg sdh2. :p

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus