~ Bukan Dinner Biasa ~

Rabu, 22 Juni 2016



Malam itu malam minggu, tepat sehari sebelum sholat tarawih menghidupkan malam-malam Ramadhan. Suamiku ngajak dinner di luar. Tentu saja aku tak menolak, secara di traktir yayang gitu. Kami memutuskan untuk makan di sekitaran Pantai Panjang. Maka P*ndang 7* pun menjadi pilihan. Namun untuk pergi berdua gagal total, sebab beberapa jam sebelum berangkat teman si Abang bertandang ke rumah. Cerita ke cerita, terkuak jugalah rencana dinner di luar ini. Tak enak pulak kalo tak ngajak, mana teman si Abang ini membujang pulak di Bengkulu sebab istrinya dinas sekaligus studi di luar kota sana. Aku pun tak keberatan, itung-itung menyenangkan hati dan mengusir kegalauan dan kesepian si kawan ini.

Awalnya ia menolak, takut jadi umpan nyamuk binti kambing congek bin orang ketiga di tengah kemesraan dinner kami nantinya. Tapi kami meyakinkan bahwa kami tak merasa terganggu. Akhirnya setelah menimbang dan memperhatikan, maka kami memutuskan untuk mengajak satu orang kawan lagi biar ia tak sendirian. Sebut saja namanya Buyung. Ia bukan sekedar kawan si Abang, tapi sudah kami anggap sebagai adik yang tulus sekali dalam membantu. Jadilah aku Tuan Putri di tengah tiga lelaki ini.

Kami berangkat selepas Isya, pukul 20 lewat tepatnya. Di tengah jalan si Abang berubah pikiran, pengen makan di lesehan yang terbaru di Kota Raflesia ini. Belum pernah nyoba katanya. Tapi melihat situasi yang sepi-sepi aja, kami berekspektasi bahwa menu lesehan itu kurang menggigit. Kalo enak, pasti sudah rame yang nyerbu. *itu sih praduga kami saja, bisa jadi karena masih baru dan kurang promosi*.

Kembali ke awal, P*ndang 7*. Kawan yang dua ini pun semangatnya cuma ke situ. Sudah lama tak menyantap menu andalan 7* itu katanya. Baiklah, kami meneruskan perjalanan, meski perut sudah ribut dan hampir tak bisa di ajak kompromi lagi. Apa lagi si Abang yang sejak sore sudah kelaparan. Sebab sepulang kantor beliau rajia kulkas dan mesti tersenyum getir karena hanya mendapati sayuran mentah dan kunyit jahe di peti pendingin itu. lha, wong katanya mau makan di luar, ya saya tak masak. Hihihi.

Well, kami pun tiba di P*ndang 7* itu. kami bersegera memesan menu. Kata pelayannya, untuk menu andalan, kami harus menunggu setengah jam lagi karena menunya sedang cetak ulang. Eh, sedang di masak maksudnya. Kami setuju. Setengah jam tidak terasa lama sambi bertukar cerita, tapi tidak untuk perut. Aku dan si Abang mesan Nila Rica-rica. Kawan yang dua pesan menu Andalan (kayak nama alat tes kehamilan saja). Hehehe

Waktu yang ditentukan tiba, menu-menu itu terhidang satu persatu di meja. Pengunjung lain pun berdatangan. Tapi sudah beberapa menit dari menu terhidang, nasinya tak kunjung datang. Kami mencoba mengingatkan pelayan. “sebentar”, katanya. Semenit dua menit, hingga lima menit tak jua muncul. Kami mulai gelisah. Dan kegelisahan kami berubah jadi kegeraman saat pelayan menghadirkan nasi lengkap lauk pauknya pada dua lelaki yang baru saja tiba dan duduk di belakang kami. Terang saja kami emosi, apam karena dua lelaki itu bertampang elit sementara kami tidak, atau.. bla bla bla...

Intinya setelah komplain, nasi pun datang. Hanya semangkuk. Kami pikir akan datang semangkuk lagi, karena semestinya semangkuk itu untuk berdua. Tapi karena kelaparan semua, nasinya kami bagi empat. Jadilah di piring tersaji nasi ang lebih sedikit dari porsi makannya kucing. Kami panggil pelayan untuk minta nasi lagi, dan katanya habis.
Apa???

Aku makin emosi, si Abang juga, tapi beliau lebih bisa mengendalikan diri dari pada aku. Sementara kawan yang dua mencoba berdamai dengan emosi mereka. Sebagai wanita, naluri merepetku keluar. Aku ngoceh-ngoceh karena prihatin melihat kawan si Abang yang makannya sangat sangat sedikit sekali. Aku saja perempuan kurang dengan nasi segitu, apalagi laki-laki, kan porsinya doble. Sungguh tak sepadan dengan lauk yang terhidang dengan nasi yang ada. Lagian semestinya nasi itu memang dua mangkuk. Atas desakanku, si Abang memanggil pelayan yang mengantar daftar menu tadi.

“Mbak, coba lihat dan mikir, lauk sebesar ini mau di apakan kalo tak ada nasi?”
“Lha, tadikan sudah di antar nasinya?” kata pelayan
“Semangkuk itu? kami ini sudah pernah makan di sini ya, semangkuk itu untuk porsi dua orang, bukan empat. Lagian kalau sudah habis, kenapa gak bilang dari tadi biar kami tau cari tempat makan lain? Sia-sia waktu kami menunggu lama”.
Si pelayan mulai terbata-bata,
“Satu lagi, kami duluan datang kenapa yg di belakang kami duluan dapat nasi? Kami tidak terima, panggil atasan kamu”. Perintah si Abang tegas namun tetap berusaha bicara tanpa emosi meledak. Si pelayan mulai pucat dan berlalu. Sampai makanan kami habis, pemilik usaha makan ini tak kunjung datang. Si Abang sih sudah tak mempedulikan lagi. Kalo atasannya tak dipanggilkan pun tak apa-apa. Mencoba memaafkan. Tapi aku yang gak puas. Merepet terus aku di meja makan. Diam-diam sambil cuci tangan, aku suruh pelayan itu untuk memanggil kembali atasannya. “kami mau komplain dan kami tidak akan pulang sebelum bertemu atasan kalian”, kataku.

Akhirnya si pelayan pergi dan aku kembali ke tempat duduk. Saat si Abang ngajak pulang, kutahan. Kubilang aku sudah suruh lagi pelayan manggil atasan. Abang nepok jidat. “Ternyata belum selesai di hati ya, Dek? Baiklah, kita akan tunggu”.

Sembari menunggu aku kembali mengoceh samapi kubilang, gak sudi aku membayarnya kalo begini caranya. “gak usah dibayar, Bang”, kataku masih emosi.
“Tidak, Dek. Abang akan tetap bayar. Itu harga diri. Dan yang paling penting, haram makanan itu kalo kita tak bayar meski ada kasus begini. Istighfar, Dek”, suamiku menenangkan.

Alamak, untuk yang satu ini aku bersyukur bersuamikan Abang Sunardi Akmal. Itulah kelebihannya, orangnya ngademin, sabar, dan ganteng. Mana bisa move on aku coba? Apalagi dari dompetnya, dijamin gak bakal bisa move on aku sampe kapan pun. Hehehehe..

“Dekya pikir abang akan marah-marah nanti sama atasannya? Tidak. Abang cuma mau ajak bicara baik-baik agar dia mengingatkan karyawannya. Gak tega juga kalo tuh pelayan diberhentikan cuma gara-gara kita. Kan sekarang cari kerjaan gak mudah”.
“Trus untuk apa komplai?” dahiku sedikit mengernyit
“Ya untuk mengingatkan agar lain kali profesional. Dan harus sadar kepuasan pelanggan nomor satu”. Kata si Abang. Sementara kawannya yang dua menyingkir keluar karena gak kuasa ikut bertemu, takut tersulut emosi kata mereka.

Akhirnya si pemilik datang. Beliau meminta maaf sebelum memulai perbincangan. Suamiku yang tercinta ini mulai menceritakan kronologis kejadian dengan tetap berbicara tanpa emosi. Si Abang juga mengatakan bahwa kami tak minta pelayannya di kenai sanksi berat apalagi sampe di berhentikan. Abang hanya minta keprofesionalan dalam bekerja, bla bla bla...

Singkatnya, si pemilik mengaku salah, minta maaf dan berterima kasih serta tak lupa meminta kami untuk tak jera makan di tempatnya. Aku sih sudah blacklist, entah suatu waktu nanti berubah. Sementara si pelayan beringsut masuk dengan wajah H2C alias harap-harap cemas. Kami ke kasir, dan benar saja, di nota nasi semangkuk itu dibuatnya porsi 4 sehingga harus bayar 4 x 7 ribu. Tapi karena komplain ini dan memang mereka yang mengada-ngada, dicoretnya 4 itu jadi 2. Sehingga untuk nasi kami membayar 14 ribu rupiah. Setelahnya, kami kembali dengan hati nano-nano. Antara emosi, kepuasan karena komplain, dan akal yang tak habis pikir.

Sekian Pemirsah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS