Aku dan Karnaval Batik Besurek

Senin, 21 November 2016


Hari itu, Jum’at 18 November 2016 adalah hari digelarnya Karnaval Batik Besurek Kota Bengkulu. Terus terang aku tak pernah tau seperti apa acara itu, sebab aku adalah perempuan Batak yang baru satu tahun menetap di kota Raflesia ini. Alasan klise, ikut suami! Atas nama pendatang baru inilah aku jadi penasaran seperti apa acara karnaval dan pameran Bengkulu Expo itu. Karena itu, begitu kepala sekolah mengajak dewan guru mejeng ke sana, aku sangat antusias. Aku yang pada hari itu memakai seragam kebanggaan di suruh pulang sama Bu Kepsek guna untuk mengganti baju menjadi Batik Besurek. Namun malang, sejam sebelum berangkat ke lokasi aku membatalkan untuk ikut. Sakit!

Memang sudah dari malam Jum’at itu aku kurang enak badan. Rupanya jelang siang di hari Jum’at itu aku teler lagi.
Putus sudah harapan untuk ikut memeriahkan Karnaval batik Besurek  tahun ini. Aku memilih pulang saja ke rumah agar bisa istirahat. Kiranya rasa penasaranku belum menemukan muara jodohnya. Hehehe...

Well, kembali ke Batik Besurek. Ia adalah sejenis kain yang bercorak batik khas Bengkulu. Sebagaimana Batak yang punya ulos, Palembang dengan songket indahnya, maka Bengkulu pun tak kalah bangga dengan Batik Besureknya. Ia memiliki corak yang khas, apalagi kalau bukan Raflesia yang munculnya hanya setahun sekali, tumbuhnya pun hanya di kota ini pula. Kadang-kadan terpikir juga olehku, kenapalah Raflesia ini hanya tumbuh di Bengkulu saja, padahal di  Medan, Bontang dan Kalimantan bejibun hutan, kenapa si Raflesia ini sesekali tak mencoba hidup di tiga daerah yang sudah saya sebiutkan tadi? Ah, entahlah..macam tak beriman pula pertanyaan ini.




Tentu saja kain Besurek ini dikerjakan oleh tangan yang tekun. Sentuhan ukirannya seolah memiliki daya magis sehingga selalu enak di pandang. Warnanya bermacam-macam, sesuai selera. Pun jenis bahannya beragam, mulai dari yang agak kasar, semi sutera hingga sutra murni. Konon, saat acara karnaval itu berlangsung, stand Bengkulu Expo pun tak mau ketinggalan memamerkan aneka Batik Besurek sehingga stand-stand itu dipenuhi pengunjung domestik maupun luar daerah.


Meski tak bisa hadir menyaksikan pertunjukan besar itu, aku tetap mengikutinya di dunia maya. Hidup di zaman ini serba mudah. Bahkan nenek-nenek pesakitanpun bisa sesegera mungkin dapat info terkini dari balik layar mungil yang ada di genggaman. Apalagi aku yang masih muda unyu-unyu ini. Maka hanya dengan satu ketukan kelingking saja di layar hp, segalanya kelihatan seolah aku turut hadir di lokasi. Menakjubkan! Kostum yang dipakai peserta karnaval itu semuanya spektakuler. Pintar-pintar kali orang mendesign busana itu, sehingga peringatan hari jadi kota Bengkulu semakin semarak. Ckckckck..





Aku sendiri punya satu batik besurek itu. Ceritanya dulu baru-baru pindah ke Curup, Rejang Lebong, salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu, ada lomba berpidato yang sebenarnya ala-ala ceramah begitu. Aku ikut dan tenrnyata meraih juara pertama dalam ajang yang diadakan organisasi Wanita Islam itu. Hadiahnya ya bahan dasar kain Besurek itu. Lembut, adem, warnanya marun. Langsung kujahitkan baju itu dan kupakai mengajar di hari-hari tertentu.

Jadi, jika pemirsah janjalan ke Bengkulu ini, jangan lupa beli Kain Besurek sebagai oleh-oleh. Tenang saja, meski ulang tahun kota Bengkulu telah berlalu, kain besurek tetep mejeng terpampang manis di sepanjang jalan Anggut. Terakhir saya beli sekitar Rp. 30.000 rupiah per meter, untuk kualitas menengah. Cocok juga dijadikan seragam keluarga. Eh, kok jadi kayak ngiklan gini ya? Hehehe..dasar konyol!

Ok, baiklah..mata saya ini sudah satu watt. Tak konsen lagi mau menuliskan segala hal. Sampai ketemu di tulisan-tulisan berikutnya.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan #NulisSerempak dari #BloggerBengkulu tentang #BatikBesurekBengkulu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS