Selasa, 10 Januari 2017

Pesona Daun Ubi Tumbuk


“Jangan bilang punya istri Batak kalau belum makan daun ubi tumbuk ini!”



Begitulah kata-kata ultimatum yang kuucapkan pada sang suami saat pertama kali menghidangkan daun ubi tumbuk pasca pernikahan. Sebagai orang Palembang tulen, tentu saja menu ini aneh baginya. Satu hal yang patut kusyukuri adalah bahwa suamiku ini tidak rewel soal makanan. Sehingga apa saja kumasak dengan qona’ah diterimanya. Meski lidahnya lebih nyaman dengan yang manis, namun tetap tak menolak dengan hidangan yang pedas.

Ah ya, perlu kuceritakan sikit bahwa lidahku ini memang Batak kali. Aku suka makanan yang asin,  pedas dan asam. Tapi sebagai istri yang baik,
tentu saja aku menurutkan selera suami tercinta ini. Jadi baru-baru nikah dulu, setiap masak sambal pasti kubuat dua rasa. Semangkok rasa manis untuknya, dan semangkok yang asin pedas untukku. Selang beberapa hari dia bicara.

“Sayang, masaknya gak usah dua rasa. Repot! Masak yang pedas aja, kalo Abang gak tahan tinggal nambah kecap beres. Kalo sudah terlanjur manis kan gak bisa dipedasin lagi”. Alahaii.. baiknya suamiku ini.  “Hidup Abang ini gak rumit, Dek. Jadi masaknya santai aja, apa aja boleh kecuali satu, R.A alias Rebung Asam”, sambungnya.  Alamak..kalo sudah begini cemanalah aku tak makin cinta ya kan? 

Karena beliau sudah bilang begitu, makin tak ragulah aku untuk memasak masakan kampungku, termasuklah daun ubi tumbuk ini. Bagi sebagian orang, bikin daun ubi tumbuk ini repot karena harus menumbuk-numbuk ya kan. Itu jugalah yang dikatakan suamiku saat melihat aku di dapur.

“Masak yang gampang-gampang aja biar gak capek”.

“Santai aja, Bang. Jika disuruh pilih, istrimu ini lebih memilih masak 5 macam sehari ketimbang gosok dan nyuci piring”. Aku memang kurang suka pekerjaan gosok dan cuci mencuci ini. Tapi ingat ya, kurang suka bukan berarti gak mau ngerjakan sama sekali. Segalanya tergantung sikon.

“Ya udah kalo itu maunya, Abang senang-senang aja”.  

Aku melanjutkan pekerjaanku. Sepanjang masak aku berharap si Abang suka daun ubi tumbuk ini. Walaupun beliau bilang makan apa saja, tetap aja lidah kadang tak pernah bohong. Maka saat menghidangkannya aku agak-agak cemas. Untunglah kekhawatiranku tidak terjadi. Abang Sunardi Akmal tuat-tuit ini anteng-anteng aja makannya. Padahal salah satu material daun ubi tumbuk ini adalah sesuatu yang ‘kurang’ disukainya. Ialah Kincong kalo orang Medan bilang, Bungo Palang kata orang Barus, atau Unji sebutan di Bengkulu.




Tapi bukan Bang Sunardi namanya kalo gak mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang sering membuatku ternganga.
“Pake unji ya?”, tanyanya

“iya, kenapa?”

“Gak pa-pa. Abang kurang suka unji, tapi kalo ada ya di makan. Lagian ini enak kok”.

“Maksa namanya”. Mulailah aku gak enak hati ya kan.

“Dek, makanan itu rezeki. Apalagi kalo sudah terhidang begini. Tinggal makan aja kok repot. Lagian, orang yang masak itu capek buatnya. Jadi jangan banyak tingkah kalo udah dimasakin. Gak tau diri namanya. ‘kurang suka’ itu kan bukan berarti gak suka sama sekali”, ia tersenyum sambil terus melahap nasi dan daun ubi tumbuk ini. “Tenang aja, Abang gak bohong”, sambungnya.

Mulailah aku tenang sedikit. Aku sih percaya aja pada perkataannya. Sebab sepanjang kami hidup bersama, dia berlaku apa adanya. Kalo kurang garam ya dia bilang kurang garam. Kalo keasinan ya dia bilang keasinan, dan kalau kurang enak, ya dia jujur juga bilang kurang enak. Tentu mengungkapkannya dengan kalimat yang santun. Dan sampai hari ini, dia tetap lahap setiap kali daun ubi tumbuk tersaji.

Tapi aku gak mau egois. Aku belajar memasak menu Palembang. Agar ia tetap bisa merasakan suasana di kampung halamannya. Pindang Pegagan dan Pempek misalnya. Aku minta resep dan belajar pada para kakak iparku yang kece-kece saat kami mudik kedua April 2016 lalu. Alhamdulilah, tiga kali praktek di rumah, baru aku sah jadi istri orang Indralaya ini. Untung saja dia tak balik bilang, “Jangan bilang punya suami dari Indralaya kalo tak bisa masak pindang pegagan!” hehehe...

Well, balik lagi ke daun ubi tumbuk. Suatu hari aku membagi daun ubi tumbuk yang kumasak ini pada tetangga. Suamiku khawatir jangan-jangan tetangga gak suka, jadi beliau agak ragu membiarkanku membaginya. Tapi aku nekat dan meyakinkannya. Begitu tiba di pintu tetangga, kontan saja si tetangga heran itu apa. Kujelaskan sejelas-jelasnya itu namanya apa, dari mana, bla-bla bla. Begitu nyicip, ternyata tetangga suka. Dan entah bagaimana, di hari-hari berikutnya aku bertemu banyak orang non Batak, berkenalan hingga bicara kuliner, hampir semua yang pernah mencicipi mengatakan daun ubi tumbuk itu maknyos. Bangga kali lah aku sebagai wanita Batak ya kan.

Memang dari segi tampilan mungkin kurang meyakinkan. Pernah suatu ketika aku sedang memasaknya di rumah Lati di Curup, tiba-tiba kawanku datang bertandang. Dia ngakak liat yang sedang kulakukan.
“ini daun ubi, Teta? Kok ditumbuk kayak mainan masak-masakan?” tanyanya sambil terkikik.
“Jangan pulang dulu kau sebelum nyicip. Awas kalo ketagihan”, aku menantang.

Dia menunggu sampai tuh sayur matang. Perlu kukasih tau ya kalo kawanku yang satu ini susaaaaaaaaaaaah kali makan. Banyak kali gak seleranya. Porsi nasinya pun lebih sedikit dari nasi kucing. Ikan ini itu gak suka, cabe gak suka, ah..payah kalilah pokoknya. Tapi keajaiban terjadi di hari itu. daun ubi tumbuk kuhidangkan dengan sambal terasi dan ikan goreng. And you know what? Dia makan namboh-namboh. Aku saja telangap nengoknya. Seumur-umur berkawan dengannya, baru ini kulihat dia makan begitu.
“Asli Teta, enak banget. Minta reseplah biar kucoba di rumah”, katanya.

Kukasih la ya kan. Beberapa hari kemudian dia menelpon. Teta....daun ubi tumbukku gagal. Gak enak. Entah gimana rasanya. Aku terkikik. Masak daun ubi tumbuk itu memang gak gampang cuy, salah tehnik numbuk aja berubah warna dia.

Jadi kalo mau masak itu siapkan dulu bahan selengkapnya. Daun ubi seikat, kincong/unji, rimbang, bawang putih sesiung, bawang merah 3-5 siung, cabe 3 bijik. Tumbuk semuanya. Tapi ingat, sebelum numbuk, pastikan dulu santannya sudah terperas. Karena kalo numbuk dulu baru meras santan, tuh daun berubah warna jadi coklat dan berbau. Bagusnya santan sudah siap di atas kompor. Begitu tumbukan hampir selesai, jerang santannya. Tumbuknya jangan halus kali, kayak muntah kucing jadinya nanti. Jangan pulak kasar kali, keselek nanti kelen makannya. Yang sedang-sedang saja kayak kata lagu dangdut itu. Agak mendidih santannya, masukkanlah daun ubi yang di tumbuk tadi. Oh iya, jangan lupa lainkan santan kentalnya dikit. Menjelang matang, masukkan dia dan biarkan mendidih dikit lagi. Biar segar warnanya. Masukkan garam sesuai selera kelen. Jadilah itu daun ubi tumbuk. Jangan lupa masaknya pake hati, itu bumbu penyedap yang tak pernah ada dijual di pasar.

Nah, kelen-kelen yang belum pernah makannya, bolehlah dicoba. Kalo kurang enak, datangi saya di Pekan Sabtu, Bengkulu. OK ya...sampai di sini dulu, selamat menikmati daun ubi tumbuk!



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar