Senin, 06 Februari 2017

Pentingnya KDRT Dalam Rumah Tangga


Sebelumnya saya mau katakan bahwa saya sangat kesulitan memberi judul tulisan ini. Sebab jika KDRT kalian baca dalam bentuk aslinya, maka akan terjadi pengulangan kata yang berujung pada pemborosan dan kerancuan makna. Sehingga berantakanlah maksud dari judul tulisan ini.  Semoga ahli bahasa mengampuni ketololan saya ini,*uuhukk*.  Meski demikian, saya sarankan tetaplah enjoy membaca tulisan ini sampai habis. *maksa* 😁😁

Ledis en Jentelmen, sudah kita ketahui bersama bahwa berumah
tangga itu gak gampang. Ada banyak hal yang mesti dimengerti, dipahami, dan ditoleransi agar biduk pernikahan sampai di pelabuhan Sakinah dengan selamat sentosa. Mengantarkan rakyat keluarga ke depan pintu gerbang surga hingga masuk ke dalamnya yang penuhi dipan-dipan, permadani, piring-piring emas dan ribuan bidadari bermata jeli. Oleh karena itu, untuk membentuk suatu rumah tangga yang mumpuni, sehat dan bergizi lahir batin,  perlu kiranya kesiapan yang matang baik dari segi fisik maupun psikis sebelum menikah.

Lihatlah berita di tipi-tipi, banyak sekali kasus rumah tangga yang tak sedap didengar kuping. Perceraian yang kian menjamur tak ketulungan itu kebanyakan disebabkan oleh KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga, perselingkuhan, adu domba pihak ketiga, bahkan santet tujuh turunan. Yang lebih sadis lagi pembunuhan yang dilakukan suami terhadap istri atau sebaliknya. Allahu Rabbi! Kadang-kadang saya gak habis pikir, ini setan atau manusia? Saat memotong ikan saja kadang saya gak tega. Lha ini, istri sendiri, suami sendiri, yang dulu dicintai, dipertahanin walau keluarga tak nyetujui, malah dibantai dengan cara yang tak manusiawi. Biadab!

Ah ya, saya tak mau membahas kepedihan ini lebih jauh. Yang ada saya naik darah dan ngilu ulu hati. Saya hanya mau mengatakan bahwa sekalipun KDRT sering jadi biang kerusakan rumah tangga, tapi di lain sisi KDRT memang harus hadir untuk menciptakan keharmonisan dan menghidupkan suasana di dalam rumah. Ya, KDRT itu penting. KDRT yang dalam bahasa Mas Boim Lebon disebut Kekonyolan Dalam Rumah Tangga.

Seharian sang suami sibuk bekerja demi mencari nafkah istri dan anak-anak. Sedang si istri kelelahan mengurus rumah dan anak-anak yang tak berkesudahan. Tentu saja hal ini membuat otak dan otot kejang-kejang. Butuh hiburan dan refreshing yang bisa membuat hati dan pikiran riang gembira. Saat itulah humor ringan perlu berperan. Jangan khawatir, setiap manusia memiliki selera humor yang dibawa sejak lahir. Hanya saja kadarnya yang berbeda. Maka bukan suatu yang tak mungkin jika salah seorang diantara pasangan memulai guyonan duluan.

Apalagi buat para suami, kekonyolan sangat dibutuhkan saat istri lagi merepet binti marah-marah. Gak usah dibalas emosi dan repetannya. Cukup berguyon sambil ngibas-ngibasin duit, dijamin merepetnya mereda hanya dalam waktu sepersekian detik. Yang tadinya hampir perang, tetiba berdamai dengan rasa cinta yang meluap-luap. Hebatkan si KDRT? Hehehehe...

Saya sendiri sudah mengalaminya. Terus terang saya ini orangnya memang agak gampang emosi, mudah stres dan rada sensitif. Untunglah Allah selalu baik. Dia menitipkan lelaki dewasa yang penuh kesabaran, kelembutan dan kekonyolan untuk mendampingi saya yang bahkan juga sering kekanakan ini. Saat ta’aruf dulu, ketika saya mencuri pandang, saya melihat diwajahnya penuh kewibawaan. Saya tak menyangka sama sekali bahwa dibalik kewibawaannya, tersimpan sejuta kekonyolan yang selalu membuat saya tertawa sejak membuka mata hingga terlelap kembali. Sampai-sampai saya merasa tak perlu lagi menonton acara lawak di tipi, sebab di depan mata lebih renyah.

Pernah suatu pagi saat saya memasak, air di ember habis. Untuk memasak saya memang beli air galon karena sumur kami belum pernah diperiksakan pada ahlinya, layak minum atau tidak. Air galon itu akan saya masak untuk diminum, pun untuk memasak nasi, gulai dan sayur. Sementara saya juga sedang berkejaran dengan waktu, sebab jam 7 saya harus berangkat mengajar. Maka dengan suasana dan suara yang memburu, saya memanggil beliau.

“Baaaang, minta tolong tuangin galon. Di ember abis”.

“Baiklah”, ucapnya sembari berjalan menuju dapur. Saat akan mengangkat galon, ia berkata ala-ala protokol upacara,

“Pengangkatan galon. Hadirin dipersilahkan berdiri”. Lantas sambil jalan di tempat ia angkat tuh galon lalu membawanya seperti bendera pusaka. Saya cekikikan habis-habisan. Ekspresinya lucu bin imut-imut tapi tidak kayak marmut. Asli, saya yang tadinya panik mengejar waktu dan takut terlambat menjadi enteng. Hilang semua kepanikan dan kekhawatiran. Masak pun jadi enjoy dan santai meski tetap memperhitungkan waktu.

Masih banyak kekonyolan yang dilakukannya di rumah. Bahkan ketika saya mulai emosi pun sering mereda dan gak jadi marah karena kekocakan yang diciptakannya.  Sungguh saya sangat mensyukuri sekali kehadirannya. Allah itu memang sungguh tau memasangkan hambanya sesuai kebutuhan masing-masing. Jadi buat jombloers, jangan maksa kalo jalan pernikahan dengan seseorang agak rumit. Mungkin itu pertanda gak jodoh. Lepaskan dan biarkan waktu yang akan menjawab. Jangan mencintai terlalu dalam sebelum halal, sebab yg dicinta belum tentu jadi jodoh yang terbaik. Pasrahkan dan yakinkan bahwa pemberian Allah jauh lebih baik.  

Oke ya! Nanti kalau sudah berumah tangga jangan lupa menciptakan kekonyolan. Tentu kekonyolan yang sehat, tidak mengada-ngada, lebay, dan tidak nyelekit di hati. Yang sudah berumah tangga, semoga rumah selalu harmonis dan hidup dengan humor, guyonan ringan dan sedikit kekonyolan yang mampu mencairkan suasana. Semoga rumah tangga kita berkekalan hingga ke surga.

HIDUP KDRT! HIDUP KEKONYOLAN DALAM RUMAH TANGGA! Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar