Tips Mengkritik Yang Elegan

Senin, 14 Agustus 2017



Semua umat juga sepakat bahwa tiada manusia yang sempurna. Istilah kerennya “no body is perfect”, sebab segala kesempurnaan hanya milik Allah semata. Meski begitu, dari keseluruhan makhluk ciptaan Allah, manusialah yang paling baik bentuknya dan paling dimuliakan sebab dibekali akal dan pikiran, serta kekurangan dan kelebihan. Dengan bekal tersebut diharapkan manusia dapat membaca tanda-tanda kekuasaan Allah, membedakan yang baik dan buruk, menggali segala ilmu dan mengelola warisan bumi sebaik-baiknya hingga bermuara pada takwa kepada Allah swt.

Tentu saja manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Ada yang lebih dalam harta namun tak piawai memanfaatkannya, ada yang lebih dalam kata sehingga ia bisa menjadi motivator, inspirator atau penulis, dan kelebihan lain yang dengannya tiap individu mampu mengembangkan dirinya untuk mencapai kesejahteraan hidup. Seiring dengan pengembangan tersebut, akan bermunculan berbagai kritik yang sebagian bersifat membangun, dan sebagian yang lain bersifat menjatuhkan.

Ketika kita menjadi objek kritik, maka kita harus terima dengan lapang dada sembari menyaring kritik yang bermasukan. Kritik yang kira-kira bermanfaat untuk perbaikan, ambillah. Namun jika berupa kritik yang tidak baik dan menjatuhkan, abaikanlah. Bagaiamanapun, mengharapkan semua manusia sepakat dengan kita adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi di suatu waktu, justru kitalah yang mungkin akan mengkritik orang lain. Nah, ketika kita pada posisi mengkritik, maka gunakanlah teknik kritik yang diajarkan Islam. Kita bisa merujuk pada kisah nabi Ibrahim yang mengkritik ayahnya saat menyembah berhala.

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata pada ayahnya, “wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesutau yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolonongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sesungguhnya telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus./” (Q.S. Maryam; 42-43)

Dari ayat di atas, kita bisa melihat bagaimana Ibrahim mengkritik ayahnya dengan santun tanpa langsung memvonis. Padahal ayahnya sudah jelas-jelas sesat. Ibrahim malah terlebih dahulu mengajak ayahnya berpikir tentang sesembahannya yang tidak bisa melihat, mendengar, apalagi menolong. Kemudian Ibrahim tetap bersikap rendah diri saat memberikan saran terhadap ayahnya dengan mengatakan bahwa ia mempunyai “sedikit saja ilmu” untuk menempuh jalan yang lurus. Beliau sama sekali tidak menunjukkan sikap sombong dengan mengatakan bahwa beliaulah yang lebih tau dibanding ayahnya.

Begitulah seharusnya yang kita lakukan saat mengkritik orang lain. Jangan serta merta menyalahkan objek kritik lalu menunjukkan bahwa kitalah yang paling tau, paling pintar. Apalagi jika terkesan menggurui, dijamin objek kritik tidak akan terima. Bukannya membawa manfaat, malah bisa menimbukan konflik baru antara yang megkritik dan orang yang dikritik.

Muhammad Assad, dalam bukunya Notes From Qatar 2 membagikan beberapa seni dalam mengkritik. Pertama, luruskan niat. Ketika kita hendak mengkritik siapapun, maka niatkanlah bahwa tujuan kritikan kita semata-mata agar objek kritik mampu bergerak menuju kutub positif dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan malah bertujuan untuk membongkar aibnya kepermukaan.

Kedua, lihat situasi dan kondisi. Hindari mengkritik orang lain di depan khalayak ramai atau saat objek kritik sedang merasa lelah dan penat. Sebab pada kondisi ini sangat tidak kondusif memberikan pencerahan dan kritikan. Ketiga, jangan emosi. Bagaimanapun sesuatu yang disampaikan dengan luapan emosi yang tak terkendali akan menghasilkan kemudharatan. Maka sampaikanlah dengan perlahan, tenang dan nyaman.

Keempat, pakai bahasa yang santun. Seperti nabi Ibrahim tadi, gunakanlah bahasa yang mampu memikat hati objek kritik tanpa ia merasa sedang digurui atau dikecam. Dengan begitu, segala masukan yang kita berikan akan bermanfaat untuknya dan ia bisa menerima dengan ikhlas. Terakhir, jangan mempermalukan. Ini juga sangat berkaitan dengan bahasa dan cara yang kita gunakan. Jangan terus menerus memojokkannya. Itu juga alasan mengapa harus dihindari mengritik depan orang lain, sebab objek kritik bisa malu sehingga mentalnya jatuh. Akhirnya ia malah terpuruk pada jurang yang curam.

Demikianlah Allah telah mengatur segala sesuatunya dengan apik dan rapi, sehingga terhindar pertentangan, percekcokan maupun perkelahian. Semakin nyatalah bahwa Islam itu benar-benar agama yang rahmatan lil ‘alamin.  Semoga kita dapat menerapkan teknik kritik yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga kritik yang kita berikan bersinergi dan sehat guna membangun kehidupan yang lebih baik. 



6 komentar:

  1. betul juga ya mbak, even itu kritik haruslah elegan. sip sip sip

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dong..biar gak penampilan aja yg elegan. hehehe

      Hapus
  2. Terima kasih sudah diingatkan, kadang kita suka lupa ya, apalagi mengkritik orang- yang gak kita sukai

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah perlunya ukhuwah; saling mengingatkan kepada kebaikan. :)

      Hapus
  3. setuju mbak apalagi sekarang banyak orang yang mengkritik sesuai kehendakya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bukan kita yg seperti itu..

      Hapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS