Senin, 18 September 2017

Refleksi Muharram





“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu sendiri dalam bulan yang empat itu.” (Q.S. At Taubah: 36)
Sungguh tak terasa waktu dua belas bulan yang diberikan Allah berlalu begitu cepat. Sebagian orang telah mendapatkan apa yang diinginkannya, sebagian yang lain mungkin masih dalam proses pencapaian, bahkan beberapa yang lain gagal total tanpa mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, tahun baru sering dijadikan orang-orang sebagai waktu yang tepat untuk merancang kembali hidupnya ke depan.

Islam sendiri menetapkan bulan Muharram sebagai awal bulan untuk pergantian tahun Hijriyah. dimana bulan ini menjadi salah satu bulan yang haram (suci) dari empat bulan yang ditetapkan Allah sebagi bulan yang disucikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 “…satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya adalah empat bulan haram, yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara bulan Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa disebut bulan haram? Allah sendiri telah menegaskan dalam surah At Taubah diatas bahwa pada bulan ini tidak boleh melakukan kezhaliman dan juga peperangan. Namun, bukan berarti selain bulan ini boleh berlaku zhalim lantas di bulan lain kita leluasa berbuat sewenang-wenang. Tapi di bulan ini sungguh sangat ditekankan agar tidak melakukan perang, pembunuhan dan kezhaliman-kezhaliman lainnya.

Selain itu, bulan Muharram juga merupakan bulan dimana pahala dan dosa bernilai besar. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah Ibnu Abbas r.a bahwa apabila kita melakukan perbuatan buruk di bulan haram, maka dosanya lebih besar. Pun sebaliknya, jika kita memperbanyak amal sholeh maka Allah melipatgandakan pahala bagi kita. Sungguh Allah telah menjadikan bulan ini mulia dengan segenap keutamaannya.

Terkait dengan kebiasaan orang-orang yang menata ulang kembali tujuan dan pencapaian hidupnya saat tahun baru menjelang, maka kita sebagai muslim juga sebaiknya merenovasi kembali resolusi hidup yang kita inginkan ketika Muharram di depan mata. Tak hanya perbaikan di bidang materi duniawi, tetapi juga perbaikan dari sisi jiwa, nurani, akidah dan prinsip agama menjadi lebih utama.

Karena pada bulan ini nilai pahala amal shalih melejit tinggi, maka kita harus menjadikan bulan ini sebagai ajang meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah. Sekaligus menjadi awal latihan dan pembiasaan diri untuk menjadi pribadi yang mumpuni. Kita bisa mulai dari permohonan ampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Pada bulan ini Allah membuka lebar pintu ampunan apalagi pada hari yang kesepuluh. Inilah yang menjadi salah satu kemuliaan dan keutamaan Muharram.

Hari kesepuluh itu biasa disebut hari Asyura, dimana Rasulullah beserta para pengikutnya biasa berpuasa pada hari ini. Sampai-sampai beliau bersabda, ““Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa yang jatuh pada) bulan Allah, (yaitu) Muharram…” (HR. Muslim). Berkah yang sangat besar di hari Asyura ini adalah ketika kita berpuasa pada hari itu, maka puasa itu dapat meleburkan dosa-dosa kita setahun yang lalu. Jadi rugi sekali rasanya apabila bulan ini kita sia-siakan.





Setelah memohon ampunan, maka mulailah kita membenahi sikap-sikap yang kurang baik pada diri kita. Manfaatkanlah bulan ini untuk memerangi hawa nafsu, bisa berupa upaya sekuat mungkin untuk menghindar dari tabarruj, meredam amarah, mengikis kebakhilan dan lain sebagainya. Tak lupa juga menjaga kehormatan diri, keluarga dan agama. Bukankah itu merupakan awal latihan yang baik?

Selanjutnya mulailah aktif melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar demi mencari keridhoan Allah Ta’ala, sembari merilis poin-poin pencapaian kebahagiaan dunia yang tidak boleh kita lupakan. Pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat mesti seimbang, sebagaimana dikatayakan Allah dalam Surah Al Qasas ayat 77 yang berbunyi, “dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…”

Dengan demikian, kecintaan kepada Allah akan terus tumbuh dan berkembang dengan latihan yang kita lakukan di bulan haram ini. Sehingga bulan-bulan berikutnya kita benar-benar menjadi pribadi dambaan umat.

Oh ya, sebagai muslim, ada yang masih belum hapal urutan bulan Hijriyah? jangan sampai ya.. :)



7 komentar:

  1. Lengkap banget postingan nya. Makasih ya sharingnya

    BalasHapus
  2. Masama azizah.. semoga bermanfaat. :)

    BalasHapus
  3. Welcome Bulan Muharram, ia, dg dtangnya bulan in harusnya Kita banyak2 introspeksi diri n memperbaiki diri. Malu dong kalau kualitas dan kuantitas amalannya mention gitu2 aja

    BalasHapus
  4. Tidak terasa sebentar lagi, alhamdulillah insyaAllah masih bisa bersua dengan Muharram.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah, dari artikel ini cukup banyak pengetahuan baru yg saya dapatkan, maklum belum banyak tau tentang islam. Saatnya berbenah diri....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Long life education. Mari saling mengingatkan dan bermanfaat bagi orang lain.

      Hapus