Kamis, 19 Oktober 2017

Aku, Kau dan Tahun Kedua Pernikahan Kita, (Part 2)



Lalu, bagaimana masa kelam dan masa gelisah di sepanjang rumah tangga kita ini? Ah, itu lebih unik lagi.

Bagiku, rasanya belum ada masa kelam yang terlalu serius kujalani denganmu sepanjang dua tahun ini. Kalau wajahku yang sering kelam dan suram mungkin iya. Apalagi kalau hatiku sedang bergejolak dan emosi. Payah kali kuajak wajahku ini berkompromi untuk bermuka dua. Tak pande kali aku lagi emosi tapi tersenyum. Padahal tuntunannya tau kalinya aku, Bang, bahwa dalam keadaan apa pun seorang istri harus tetap tersenyum manis di hadapan suaminya. Tapi sampe kini belum lulus-lulus juga aku pelajaran yang satu ini. Kalau lagi jengkel ya jengkel, lagi marah ya marah. Mungkin Abang sudah paham betul kalo aku marah bawaannya pasti diam. Sedangkan engkau sendiri sudah pernah bilang,  “marah boleh, tapi lima menit aja. Jangan diam seharian. Abang gak mau didiamin. Kalo ada kendala kita bicara aja baik-baik ya”.

Kau tau, Bang? Terkekeh aku sebenarnya mendengar permintaanmu itu. Marah lima menit aja. Macam lagu dangdut itu kurasa, “lima menit lagiiiiiiii..ah”. Kucoba terus sebenarnya, Bang, tiap kali aku jengkel. Tapi ya itu tadi, tak lulus-lulus juga. Kalau kutelisik dan telusuri lebih dalam, gengsiku yang kadang merajai sehingga berlama-lama diam. Ditulisan ini kukatakan sejujurnya bahwa tiap kali memandang wajahmu, amarahku mereda sebenarnya. Apalagi menatapmu saat kau tidur. Wajahmu yang sepolos bayi lima hari itu bikin aku meleleh. Ingin kukecup, tapi seketika aku ingat, “aku kan lagi marah padamu”, :P

Tapi tenang saja, Bang. Ini bukan sebuah prestasi yang patut kubanggakan dan meminta untuk kau pahami sepenuhnya. Hanya saja aku butuh waktu untuk menjadi wanita sholehah yang sesungguhnya. Tentu saja semua tak lepas dari arahan dan bimbinganmu. Aku cuma berharap Allah terus menambahkan porsi sabar ke dadamu setiap detik. Di mataku kau lelaki hebat, meski pernah sekali dua kau terpancing dengan emosiku. Bagaimanapun kau bukan malaikat. Aku paham itu. Tapi seterpancingnya dirimu, kau sama sekali tak membuas kayak suami-suami yang banyak nongkrong di pakter-pakter tuak itu. kuharap terus begitu, Bang. Biarlah aku saja yang mudah emosi. Sedang kau, tetaplah dengan kepribadianmu yang sebenarnya, Abang Sunardi yang penyabar, tulus, penyayang, tidak pelit, ramah dan lemah lembut dalam bertutur. Lagian, bukankah ini yang dinamakan teori keseimbangan? Ah, Allah itu memang maha adil, maha bijaksana.

Tentang masa gelisah, ini yang jelas ada. Apalagi kalau bukan soal momongan.


Tiga bulan pernikahan aku sudah mulai gelisah. “Kok aku belum muntah-muntah kayak orang-orang”? Tapi pada tahap ini gelisahku belum begitu menggelora. Sebab tiga bulan itu aku masih menikmati manisnya hidup bersamamu, sekaligus itu menjadi rentang waktu bertunasnya rasa cintaku padamu. Empat bulan, lima bulan, enam bulan penikahan. Gelisahku mulai naik seoktaf, apalagi mulut orang-orang sudah mulai menajam.

“Wah, udah setengah tahun belum hamil juga ya? Lama kamu itu. orang sebulan dua bulan langsung jadi”, kata seseorang dengan nada bicara sinis.

Aku terluka, Bang. Kalo tak mikir dia itu lebih tua, udah kuremas-remas mulutnya. Seakan-akan dia lupa soal campur tangan Allah dalam urusan anak. Delapan bulan, sepuluh bulan, aku kian meradang. Tak tahan dengan tekanan orang-orang sekitar. Padahal keluarga kita sendiri tak pernah menekan demikian. Malah mereka paham bahwa kita ini sepatutnya memang belum punya momongan. Alasannya karena kita menikah tanpa saling kenal sebelumnya, apalagi sempat pacaran bertahun-tahun. Jadi bagi keluarga kita, Allah sengaja memberi waktu banyak berdua agar bisa mereguk manisnya bertemu belahan jiwa. Maka nikmatilah sepuasnya, itu kata keluarga.

Meski demikian, ocehan orang-orang ini kadang tak terelakkan juga. Aku sebagai perempuan yang berhati melow hingga ke ubun-ubun ini tak bisa enjoy menanggapi. Bapernya kebangetan. Hingga mendengar berita kehamilan orang pun kusambut dengan tangis yang pecah membelah langit-langit rumah kita. Untungnya Allah mengirimkanku yang sekali lagi mesti kusebut hebat sepertimu. Tiap kali aku mengeluh perkara hamil, kau justru mengucapkan kata-kata yang menyejukkan jiwa, melebihi sejuknya embun di waktu fajar.

“Dek, menikah itu bukan melulu perkara anak. Tau sendiri, kan, anak itu bisa menjadi rahmat bisa juga menjadi fitnah. Dan Allah lebih tau. Allah maha mengatur. Masih banyak hal yang patut atau bahkan lupa kita syukuri selain anak”.

Aku tertohok. Sebegitu legowonya kamu menerima takdir. Dan lebih membuatku bangga, kau menawarkan diri ke dokter untuk diperiksa di lab. Sesuatu yang jarang-jarang diinginkan lelaki. Malah kawan-kawanku yang tak kunjung punya momongan banyak mengeluh karena suaminya tak mau diperiksa. Maka untuk kesekian kalinya aku bersyukur atas kehadiranmu dalam hidupku.

“Kalau ternyata Abang ada masalah gimana?” tanyaku.

“Ya Abang berobat. Kalo Dekya gak sabar mendampingi Abang berobat, Dekya boleh mengambil sikap. Kalo Abang ditinggalkan, berarti itu lah takdir yang harus Abang jalani”.

“Aduh, Bang. Lebay deh. Gak ada pernah terlintas di benakku untuk meninggalkanmu sedikit pun. Apapun keadaannya. Insya Allah.”

Alhamdulillah, hasil lab tidak mengecewakan. Maka kita menjadi lebih tenang menjalani hari sekaligus belajar abai atas omongan orang-orang. Suatu hari aku bercerita padamu,
“Bang, tadi Dekya urut sama nenek-nenek. Dia ngasih ini (sambil nunjukkan kalung ajaib). Katanya pake kalung ini biar cepat hamil dan hanya boleh di lepas kalau nanti sudah melahirkan. Tapi Dekya ragu”.

“Syirik?”, katanya.

“Iya”.

“Dek, Abang lebih rela gak punya anak dari pada harus masuk neraka. Kalau ragu, buang saja”.

Atas perkataanmu itu aku seyakin-yakinnya membuang kalung itu. Namun sungguh, Allah itu maha baik, maha mengatur lagi maha mengetahui. 15 bulan pernikahan kita, sesuatu yang hidup tumbuh di rahimku. Dan itu kita ketahui tepat sehari sebelum keberangkatan kita ke ibu kota untuk liburan. Allahu Akbar!

“Bang, coba dulu Abang datang melamar pas Dekya umur 24 atau 25 gitu. Pasti anak kita sudah bisa jalan”, kataku iseng padamu, suatu hari.

“Oalah, Dek. Kalo Allah sudah menakdirkan Abang punya anak di usia yang sekarang, maka Abang akan tetap punya anak sekarang meski sudah menikah 10 tahun yang lalu. Dan omongan orang pasti lebih menyakitkan lagi, kok 10 tahun gak beranak juga. Mandul tuh. Pasti gitu. Jadi jangan berandai-andai. Allah maha mengatur”, itu katamu.

Alahaiii...aku makin terpanah asmara denganmu. Aku jadi paham betul kenapa hatimu bisa lapang dan sabar atas semua urusan. Ya karena konsep hidupmu itu “ALLAH MAHA MENGATUR”. Gak kayak aku yang kadang-kadang emosi duluan baru mikir. Setelah kukaji-kaji, iya pulak. Tugas manusia ini kan hanya berusaha, sedang kendali setir ya di tangan Allah Ta’ala. Kini kita sudah mendekati detik-detik kelahiran si mungil ini. Antara deg-degan dan gak sabar menunggu. Namun kita berharap semoga proes lahirnya lancar. Kalau sudah waktunya, keluar sesuai jalan lahir ya, Nak..*elus –elus perut*.

Inilah rumah tangga yang kuidamkan. Saling menenangkan dimasa gelisah, dan saling berangkulan di masa kelam. Namun jangan sampai saling meninggalkan mencari kebahagiaan lain di masa gemilang ya. Soal percekcokan kecil itu perkara biasa. Anggap saja penyedap rasa rumah tangga. Yang penting nafsu jangan diturut. Sabar dan bermaafan itu sangat perlu, ak kata lagu Hijjz itu. *tua kali aku ngomong begini ya. Hihihi..

Terakhir, untuk dua tahun pernikahan ini, sepenuh rongga dada aku berharap rumah tangga kita kiranya kian hari kian mapan; mapan spritual, mapan emosional dan mapan financial. Dan semoga target-target hidup kita bisa tercapai dengan segala barakah dan kehalalannya.

Happy Wedding Anniversary, Cinta...

With love,
Lia yang masih belum sholehah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar