Kamis, 30 November 2017

Jejak Kehamilan

Pagi itu, Sabtu, 4 Maret 2017 aku tespack dengan rasa setengah hati. Aku melakukannya hanya untuk memenuhi permintaan suami. Sebab besoknya, Minggu 5 Maret 2017 kami mau berangkat ke Jakarta buat holidei, mumpung si Abang dapet cuti seminggu. Kata si Abang kalo hamil batal berangkat. Ya aku manut aja. Kenapa coba aku sampe setengah hati tespack itu? Ada dua alasan untuk itu. Pertama, aku sudah berkali-kali tespek dan itu negatif. Hiksss..selalu nangis bombay liat hasilnya. Kedua, karena pada tanggal 2 Maret keluar flek, dan itu tepat di tanggal haidku. Jadi kupikir itu haid beneran. Hanya saja itu flek cuma keluar pagi. Siangnya berhenti. Kupikir “penyakit” beberapa bulan lalu kambuh. Jadi aku cuek aja.

Ah ya, perlu kuceritakan dulu “penyakit” lama itu. sejak menikah, badanku bengkak. Tiap pake baju aku jadi kepengen nyanyi, bajuku duluuuu tak begini..hihi. seiring dengan itu haidku tidak lancar selama 5 bulan. Pernah sampe telat 18 hari. Kupikir hamil, rupanya tespek garis satu lagi. Akhirnya aku ke dokter, karena seumur-umur aku gak pernah bermasalah dengan tamu bulanan ini. ternyata oh ternyata, kata dokter rahimku tak ada masalah. Hanya soal hormon makanya si “tamu” datangnya macet. Pe-er terbesarku saat itu adalah D I E T! Hahaha..lawak kali kurasa. seumur hidup aku tak pernah pusing urusan badan, karena sebanyak apa pun aku makan badanku tetap imut kecuali perut. Hahayyy...

Nah, balik lagi ke tespek 4 Maret itu. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa, aku mencelupkan alat test itu. Seketika mataku melotot melihat dua garis yang muncul. Aku hampir tak percaya. Kukucek mataku berkali-kali. Siapa tau aku cuma bermimpi. Hasilnya sama. POSITIF! Allahu akbar.. Sungguh itu menjadi subuh paling istimewa sepanjang pernikahan.

                                                                sumber: google

Aku tak sabar menunggu suami pulang dari mesjid. Aku mondar-mandir di dapur. Sempat berpikir ingin akting masang muka kecewa, lalu sepersekian detik berikutnya kutunjukkan tespeknya sambil bilang tarraaaa.... lalu suami akan terkejut dan memelukku *kayak di pilem-pilem itu*. Tapi begitu langkah kakinya terdengar, aku malah berkata lain.

“Bang, ntar siang ke dokter yuk”.

“Ngapain? Dekya positif?”

Aku baru sadar aktingku gatot alias gagal total. Akhirnya aku tersenyum sambil mengangguk, dan...tak perlulah kuceritakan di sini adegan apa yang terjadi sesudah itu ya. Ntar ada yang baper . Hihihi..

Siangnya, kami ke dokter kandungan. Saat di USG, dokternya malah bilang belum bisa memastikan aku hamil apa tidak. Karena kantong kehamilannya belum tampak. Yang ada baru penebalan rahim. Dalam benakku, wanita yang sedang haid pun akan mengalami penebalan rahim. Aku jadi cemas. Lalu beliau minta aku tespek ulang saat itu juga. kuikuti sarannya dan hasilnya kembali POSITIF. Sedikit lega, tapi tak puas. Dokter memintaku untuk datang dua minggu lagi.

Sejak itu, aku dilanda galau yang luar biasa. Aku mulai searching di internet all about pregnant, terutama perkara tanda dan awal kehamilan. Kegalauanku berubah menjadi gusar level akut saat aku menemukan beberapa artikel seputar kasus kehamilan kosong dan janin yang tidak berkembang. Jiwaku makin tak karuan. Aku tak berani mengatakan hasil tespek itu pada keluarga. Setiap hari nuraniku bertanya-tanya apakah aku ini hamil beneran apa tidak? Dua minggu lagi itu rasanya seperti sewindu. Suamiku sendiri selalu menasehati untuk terus berpikir positif, tapi aku tak bisa. Bayangan kehamilan kosong bersanding dengan hasil USG itu terus menghantui. Kuhubungi orang-orang yang kukenal yang pernah hamil. Seribu satu macam pengalamannya. Oh.., sungguh aku tidak tenang.

Dua minggu yang dinantikan tiba. Aku malah takut untuk periksa. Gak siap mendengar hasil yang tak diinginkan. Akhirnya kubatalkan periksa. Aku ingin mengumpulkan kekuatan dulu untuk siap menerima hasil terburuk sekali pun. Butuh waktu seminggu lagi untuk aku minta diantar ke dokter kembali.

“Bang, kita ke dokter ya. Tapi Dekya mau ganti dokter. Kita coba ke dokter Fatma aja. Kata orang-orang bagus, baik dan ramah”.

“OK”, jawab suamiku.

Akhirnya kami ke praktek dokter Fatma sepulang suamiku bekerja. Kebetulan ada Lati di rumah datang dari Curup, jadi beliau ikut menemani. Bulu romaku merinding begitu masuk ruangan sang dokter. Pikiranku berkecamuk. Tapi kucoba sebisa mungkin untuk tetap tenang. Sambil baca Bismillah, kupasrahkan perutku di jamah buk dokter. Sepersekian detik alat USG merayap di atas perutku, dokter Fatma berujar “Alhamdulillah, ini positif hamil ya. Usianya sudah 7 minggu. Ini kantongnya, bla...bla..bla. Dan ini detak jantungnya. Masih halus ya suara detakannya, bla..bla..bla..”

Air mataku hampir jatuh. Hanya karena malu aku sekuat tenaga menahannya agar tak tumpah di pipi.

“Janinnya berkembang kan, Dok?” tanyaku.

“Berkembang kok”.

Plong sudah hatiku. Serasa terlepas semua beban berat yang bertengger sepanjang tiga minggu ini. setelah memastikan aku beneran hamil dan janin dalam rahimku berkembang, aku langsung nyeletuk,

“Dok, janinnya berapa? Dua?”

Sang dokter tertawa lebar, hampir saja terbahak. “janinnya satuuuuuu”.

Hahaha... aku pun sumringah sambil menatap lelakiku.

“Gak apa, Dek. Allah lebih tau baiknya berapa janin yang harus dititipkannya. Janin tunggal begini aja sudah bersyukur banget Abang”.

Semua tersenyum. Kami bersalaman dengan sang dokter lalu kembali pulang. Aku bertekad akan tetap konsul ke dokter Fatma sampai jelang hari H persalinan. Sebab apa yang dikatakan orang benar, beliau dokter yang baik, ramah dan detil menjelaskan tanpa diminta. Puas dah pokoknya. Diperjalanan suamiku bertausiah lagi,

“Dek, kita boleh minta kembar pada Allah. Mungkin kita merasa mampu mengurusnya, tetapi Allah lebih tau mengukur kapasitas kemampuan kita. Jangan putus asa ya”.

“Nggak kok. Dekya juga bersyukur banget akhirnya hamil setelah 15 bulan pernikahan kita”.

                                                      *****

Masa-Masa Mengandung

Sekitar seminggu sesudah USG, aku masih anteng-anteng aja. Kesekian kalinya aku bersyukur dengan kondisi ini. Tak ada morning sick, tak ada mual tak ada pusing de el el. Aku sudah gembira sekali. Eh, taunya mual mulai berasa, sampai akhirnya muntah perdana di jelang magrib. Allah... begini rasanya muntah. Sakit sekalleeee. Maklum saja, aku gak pernah mabuk saat berkendara. Jadi yang namanya muntah bisa dihitung selama aku hidup. Tak sampai 5 kali kayaknya, itu pun kejadian muntahnya saat demam akut.

Besoknya dan besoknya lagi, mual muntah (mumun)ku semakin parah. Liat sayur apa aja enek. Penciuman mulai memboikot aktivitas goreng menggoreng dan penyiangan ikan. Untung saja aksi pemboikotan tak sampai pada bawang merah dan bawang putih. Jadi aku masih bisa tetap masak. Hanya saja ikan suami yang bersihkan. Dan kalau masak ikan sambal, itu asli suami yang ngerjain. Saya hanya giling cabe, ngiris bawang dan marut tomat. Usai itu, penggorengan sampai selesai kuserahkan pada beliau. Aku langsung masuk kamar, tutup pintu, tutup hidung. Ampuuuuuuuuuun.....

Rupanya Allah menganugrahkan fase mabuk ini padaku lebih lama dari kebanyakan orang-orang. Yang katanya biasa mabuk cuma tiga bulan, aku sampai 5 bulan. Pernah sutau kali aku ngedrop. Muntah yang keluar tak lagi makanan melainkan air. Kerongkongan tercekat, semacam ada batu yang mengganjal sehingga aku susah nelan meski sesuap kecil nasi. Perut keroncongan, tapi mulut tak menerima. Aku tak berdaya. Akhirnya aku di bawa suami ke bidan. Aku berdoa berulang-ulang agar jangan sampai diinfus. Aku ngeri membayangkannya. Karena seumur hidup aku juga belum pernah diopname (dan semoga saja tidak pernah. Aaamiin).  Untunglah Allah masih sayang. Dia maha baik. Aku tak perlu diinfus. Dikasih obat aja. Alhamdulillah besok paginya agak mendingan.

Masuk bulan ke enam dan tujuh, mumunnya hilang. Tersisa rasa lelah dan berat yang bertambah, plus pegal di punggung dan anggota tubuh lainnya. Wal hasil sang suami harus melakoni profesi ganda: pencari nafkah, koki sementara, dan tukang urut andalan istri. Bulan ke delapan, muntah kembali datang, meski frekuensinya tidak sesering trimester pertama. Dan itu berlangsung sampai jelang hari H. 

Bagaimana dengan ngidam? Ahha....aku patut bersyukur perihal ngidam ini. Sebab aku sama sekali tak punya keinginan langka selama hamil. Aku hanya butuh permen dan rujak setiap hari. Kalo rujak ini tak hamil pun aku memang doyan. Hahaha.. kalau pun ada yang kuinginkan, itu tak sampai memusingkan kepala suami dan orang lain. sebab yang kuinginkan hanya makanan yang mudah di dapat seperti jambu air (jambu keling) yang kebetulan musim saat itu, makan nasi di RM Minang Raya, dan hal-hal mudah lainnya. Lagian aku juga selalu mengajak janin yang di dalam untuk tidak meminta yang ribet-ribet. Selain merepotkan orang, aku juga ingin mengajarkan pada sang buah hati untuk tidak terlalu menuruti nafsu duniawi.

Tapi ngidam itu tak dibuat-buat lho!

Kata siapa dibuat-buat? Sebagian orang mungkin benar-benar ingin sesuatu, bahkan sampe sesuatu yang langka dan yang sedang tidak musim saat itu. Ada juga bumil yang tengah malam ingin makan dan harus dapat saat itu juga. Aku tak menyalahkan itu, karena bisa jadi dia memang benar-benar ingin dan itu alamiah. Tapi kenyataannya, ada juga segelintir bumil yang memanfaatkan keadaan sehingga memberatkan suaminya. Minta tas dan baju branded lah, makan di resto elit lah, minta beliin emas lah, bla..bla..bla. semua keinginan itu mengatasnamakan janin. Permintaan dede’ di dalem. Oh, andai bayinya bisa ngomong, pasti udah protes, “Mak, jangan fitnah gue dong”. Ini sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Dan aku tidak ingin itu menimpa diriku. Itu sama saja mengajari anak berbohong sejak dini.

Bumil itu memang istimewa. Semua orang akan menjaga perasaannya, memperhatikan makannya, istirahatnya, dll. Tapi tetaplah waras wahai bumil-bumil cakep. Jangan sampai bohongi orang-orang terdekat ya.

Ini dulu yang bisa kubagi ya Sob. Sampai ketemu di ulasan Jejak Persalinan.

21 komentar:

  1. Pengalaman ibu yang sangat luar biasa berharga.. Patut juga dijadikan contoh buat ibu2 lain

    BalasHapus
  2. Bahagia banget ya mba pas tau kalo kita hamil, perasaanya ga bisa diungkapkan demgan kata kata, apalagi pas liat yang dikandumg 9 bulan lahir

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah positif ya mbak ya :D
    Mbak gula darahnya dan tensinya normal kan mbak? Jaga kesehatan ya mbak supaya dedeknya juga sehat :D

    BalasHapus
  4. Perjuangan yang berat banget mesti harus melewati rintangan berharap ibu - ibu hamil bawaannya kepengin ini itu dan sampe mau mual dan muntah. Aku belum pernah merasakan apapun dan semoga ini menjadi inspirasi bagi wanita yang telah menikah

    BalasHapus
  5. Testpack! Aku dulu hampir 2 tahun udah berapa kali di PHPin. Akhirnya hamil. Sekarang udah program anak ke-2 juga sama, diPHP testpack. Hahahaha. Semoga si kecil selalu sehat ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin.
      Iyakah? Berarti sy ada kawan dong. Sdh berhasil apa blm mbak pura promil anak keduanya?

      Hapus
  6. Alhamdullilah semoga tetap di beri kesehatan atas kehamilannya yah mba dan tetap bersyukur sama ALLLAH SWT

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya sudah lahiran. Nantikan ulasan jejak persalinan di blog ini. Makasih sudah berkunjung.

      Hapus
  7. Aduh mbak Lia.. Jadi baper nih >.<
    Bahagia banget pasti ya mbak, pas akhirnya positif hamil..
    Rekam jejak kehamilan begini bisa buat pengingat seumur hidup, walaupun anin yakin tanpa dituliskan pun, tetap akan selalu teringat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis itu kan mengikat ilmu dn merekam jejak kehidupan. Sehingga saat raga nanti telah menghilang dari bumi, maka tulisan tetap menggema.
      Saya memang lebih senang menuliskan pengalaman pribadi agar menjadi hikmah.

      Hapus
  8. Wah.. membaca pengalaman kak Lia, aku jadi tahu perjuangan seorang ibu, muntah2 selama 5 bulan? Wah... kak Lia seterong sekali ^^

    BalasHapus
  9. wahhh, saya sering melihat ibu2 muda di rawat karena HEG pasca kehamilan dan jujur itu membuat saya terkesima akan kekuatan seorrang wanita, terlebih setelah membaca artikel ini... kalian luar biasa ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya gak sampe terkena HEG..

      Hapus
  10. baca tentang jejek kehamilan ini jadi teringta tespek kemarin mbak, pas lihat itu anatar percaya dan tidak percaya. yakin tak yakin, tapi diyakin yakinin hehe

    BalasHapus
  11. Terhura saya bacanya mbak. Dari awal udah terasa ngalir banget ceritanya

    BalasHapus
  12. alhamdulilah y mb akhirnya aku ikut deg2an pas dokter pertama blg penebalan rahim hehehe bersyukur pindah ke dokter lain. saat ini aku jg sdh hamil alhamdulilah ga ada mual atau ngidam aktifitas msi berjalan normal
    cmn kram kaki yg tak bisa terhindar dr hamil pertama kram kaki sll menghantui makanya suka sakit klo jalan hehehe beda2 y mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..beda2. Saat terasa sakit maka ingat sj org2 yg lebih parah sampe terbaring di rumkit saat hamil muda. Apa pun otu disyukuri aja. Allah pun sdh mengatakan di Alqur'an bahwa hamil itu adalah keadaan lemah yang bertambah2.

      Hapus
  13. Mbk, mira jadi baper banget klo bahas kehamilan. Rasanya belum sempurna banget menjadi perempuan klo belum hamil. Tespeck juga sudah gk karuan kalinya, hasil masih negatif tulah.

    TinggL nangis2 manja tulah lagi. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..mbak jg dulu gitu mir. Sering nangis n baper apalagi mendengar berita kehamilan orang lain. Untung suami selalu support positif..
      Insya allah semoga 2018 mira sudah bertiga. Aaamiin ya rabb *khusyuk*

      Hapus
  14. hamil lagi yuk, ngidam lagi yuk, hihihi

    BalasHapus