Mendidik Financial Anak

sumber: google
Apa yang kamu ingat ketika disebutkan kata uang? Belanja? Kaya? Gaya? Atau....ingat emak? Hahayy..

Adalah hal yang wajar binti lumrah jika uang sangat erat kaitannya dengan emak-emak. Urusan yang satu ini mah semua emak doyan. Apalagi kalau tanggal gajian, emak nunggu-nunggu banget nih kepulangan suami dari tempat kerja. Wajahnya bakal sumringah macam matahari pagi terbit di ufuk timur. Terlebih sang suami bawa dua amplop, satu gaji utuh satunya gaji bonus. Huwaaaaaaa....dijamin dah emak bakal loncat kegirangan dan ngasih kiss bertubi-tubi. Hayoo ngaku.. :P

Nah, banyak macam tipe emak-emak nih dalam memperlakukan uang. Ada tipe keran bocor yang kalo sudah ada duit di tangan langsung abis gak jelas kemana junturungannya. Ada pula yang kayak jeruk purut yang nunggu diperas baru keluar. Itu pun ngeluarinnya dengan senyum kecut yang mengerikan. Tak sedikit pula yang seperti timbangan yang neracanya selalu seimbang.

Mak, bagaimana pun tipe kita dalam memperlakukan uang, tentu kita tidak ingin kan ya mak anak kita menjadi pelaku boros keuangan dan hobi hura-hura. Karena itu mak, kita perlu menerapkan pola pengasuhan keuangan sejak dini pada anak. Masih terasa asing di kuping ya mak istilah pengasuhan keuangan? Gak usah minder mak, aku pun baru tau istilah ini. Materi pengasuhan keuangan ini aku dapatkan dari kulwap salah satu WAG yang kuikuti. Pematerinya memang handal mak. Bisa dibilang cukup pakar dalam hal parenting dan pengasuhan. Indah Hendrasari namanya. Blio sekarang berdomisili di Medan mak. Pemikiran dan program pengasuhan keuangan yang dirancangnya emang ketje badai. Tapi saya gak bisa bagikan panjang kali lebar mak. Paling yang saya share ini inti sarinya aja yak. Sebab isi materinya sampe vol 6 mak. Bisa keriting jari dedek nuliskannya.
Baik mak. Kita mulai saja ya. Jadi pengetahuan keuangan ini rupanya harus sejak dini dilakukan mak, bahkan sejak balita. Sebab permasalahan keuangan itu dimulai ketika orang salah dalam spending decision alias gak bijak ngabisin uangnya. Karena fakta inilah, kak Indah ini mengajarkan spending decision ke anaknya sejak usia 3 tahun. What? 3 tahun? Bukannya di usia itu anak lagi doyan-doyannya minta ini itu ya mak? Sampe-sampe si emak gak berbatas lagi ngasih jajan asal anaknya diam alias gak nangis bombay. Apalagi sampe tantrum di pusat perbelanjaan. Tapi ternyata cara ini keliru mak. Sebab anak jadi gak paham betapa sulitnya mencari uang.

Jadi gimana caranya ngajarin balita sadar keuangan? Begini tahapan pembelajarannya mak.

1. tanamkan pada anak bahwa uang itu untuk membeli sesuatu, bukan untuk di makan.

Tau sendiri kan ya mak, yang namanya balita itu suka sekali masukin sesuatu ke mulutnya. Seperti anak saya, Ney, bahkan benda terkecil seperti serpihan semen pun dimasukin ke mulutnya. Makanya perlu kita menanamkan segeea konsep bahwa uang itu berharga. Mungkin si kecil belum tau yang dipegangnya itu uang. Tapi ketika dia pegang dna mulai masukin ke mulutnya, kita harus segera menjelaskan mak. Penjelasan ini bisa disampaikan saat anak usia 1 tahun. Emang ngerti? Mak, jangankan 1 tahun, anak dalam kandungan aja diajak ngobrol dia ngerti. Hanya saja dia belum bisa merespon dalam bentuk kata-kata. Jadi jangan khawatir ya mak. Sering-sering aja sampaikan bahwa uang itu berharga, uang itu untuk membeli sesuatu, bukan untuk dimakan.
Boleh juga sambil diajak main. Misalnya main jual-jualan. Si ibu pura-pura jadi penjual dan si anak membeli. Atau sebaliknya. Saat dia mulai masukin ke mulut, langsung jelasin deh, kalo itu bukan untuk dimakan.  Sampe di sini bisa di pahami ya mak-emak.

2. Semua orang butuh uang untuk membeli sesuatu


Bagaimana pula nanamkan konsep ini pada anak? Well, konsep ini sudah bisa diajarkan saat anak memasuki usia 2,5 tahun. Caranya bisa dengan mengajaknya membuka kulkas, trus minta dia nyebutin barang apa saja yang udah gak ada di kulkas. Biasanya mak anak-anak hapal kan ya isi kulkas sangkin seringnya mereka buka tutup si peti dingin. Nah, disitu dia akan tau barang apa saja yang sudah habis. Lalu ajak dia nulis barang-barang yang akan dibeli (ya walopun tulisannya masih carut marut garis-garis muter tujuh keliling ya mak). Selanjutnya ajaklah dia belanja ke warung, pasar atau mini market. Libatkan dia untuk memilih dan mengambil sendiri barang yang sudah di list tadi, seperti kecap, sayur, telur, dll, masukin keranjang, lalu membayarnya. Disitu anak akan belajar memahami bahwa kita butuh uang untuk membeli sesuatu sekaligus dia ikut belajar transaksi keuangan.

3. Uang itu didapatkan dengan bekerja

Usia 3 tahun anak sudah bisa diajak mengenal berbagai macam profesi, biar anak tau bahwa ada banyak sekali jenis pekerjaan di muka bumi ini. kasih tau juga mak tugas dari tiap profesi itu ngapain aja. Tapi inget mak, yang sedang diajari ini anak balita ya mak. Jadi jangan sampaikan dengan metode kuliah umum kayak ngajari bapak2 S1 atau S2.


Mak harus dituntut lebih kreatif dalam menyampaikan hal ini seseru mungkin. Agar anak tak boring. Kita juga bisa mengajaknya sesekali ke tempat kita bekerja, atau ke toko milik kita. Biarkan anak melihat kita bekerja sekaligus jelaskan juga kita lagi ngapain. Nanti di rumah, bahas abis2an deh tuh profesi. Jelaskan juga pada anak bahwa uang bisa di dapat salah satunya dengan bekerja.

4. Latih skill delay gratification anak

What is it about? Kuping saya pun agak-agak asing mendengar kata-kata ini. Suwer, belum pernah tau sebelumnya. Mak-mak sekalian sudah pada tau? Wah, selamat ya kalo mak sudah paham tentang ini. Saya kasih cap jempol doble deh.
Baiklah mak, mari kita telusuri apa itu skill delay gratification. Jadi skill delay gratification itu adalah sebuah kemampuan agar anak bisa menunda kesenangannya sesaat untuk fokus dalam mencapai tujuan jangka panjang.

kalau dalam pengasuhan keuangan ini, aplikasinya bisa dalam bentuk melatih anak-anak untuk tidak tergoda beli es krim atau jajan macem-macem saat ini agar uangnya dapat ditabung untuk membeli barang yang dibutuhkan seperti tas sekolah, sepatu, mainan kesukaan dll. (Perkara menabung ini mak ada bahasannya tersendiri. Lain waktu saya kupas ya mak. Seru kalilah pokoknya. Aku saja gak terpikir nabung sampe sedetil dan sedini itu).

Dalam keseharian juga bisa diajarkan mak. Misalnya membuat jadwal menonton TV. Maka anak hanya boleh menyalakan TV sesuai jadwal dan waktu yang telah ditentukan. Walaupun anak merengek minta nonton, kalo memang bukan waktunya jangan dikasih. Biarkan anak bersabar menunggu waktu menonton tiba.

Kemampuan ini penting banget untuk diasah mak, agar kelak anak dewasa mampu menunda konsumsi sesaat demi mencapai target jangka panjang seperti membeli rumah, naik haji, dll. Konsekuensinya apa? SABAR FULL mak, sebab ini adalah proses. Dan proses tak ada yang secepat kilat.  Walaupun sabar itu berat, tapi untuk menciptakan generasi yang handal mengelola dirinya sendiri itu butuh kesabaran yang luar biasa mak. *sambil berdoa dan ngurut dada semoga aku dimampukan memberi pengasuhan keuangan ini pada anak-anakku.

Selain sabar, untuk melatih kemampuan ini dibutuhkan juga komitmen orang tua dan aturan yang jelas. Agar anak mudah menguasai skill ini, pastikan bahwa si anak punya jadwal yang teratur. Karena dengan adanya kepastian, si anak bisa mengukur waktu. Jadi gak hanya jomblo aja yang butuh kepastian ya, balita juga butuh bangeeeeeeetss... hehehe..

Skill delay gratification ini merupakan kemampuan berproses, menikmati dan bersabar mengelola diri agar bisa mencapai tujuan. Makanya sangat dibutuhkan komitmen. Emak jangan mudah terpancing dengan keadaan. Misalnya saat datang tamu si anak minta nonton padahal bukan waktunya. Jangan diizinin mak.biarlah anak merengek di depan tamu, yang penting visi misi tetap terlaksana.

5. Tanamkan pemahaman tentang need and want

Ajarkan anak untuk memahami apa-apa saja yang menjadi kebutuhannya dan apa saja yang menjadi keinginannya. Pemahaman ini sudah bisa diajarkan sejak usia anak 1 tahun. Untuk itu, sangat diperlukan aturan prilaku yang jelas mak. Satu aturan untuk satu kondisi. Dengan memahami mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, maka anak sedang belajar apa yang dibutuhkan dan apa yang bisa ditunda untuk dilakukan.

Need and want untuk anak balita tidak hanya mengenai benda aja ya mak, tetapi juga mengenai prilaku dan pemikiran yang dibutuhkan .

Contoh, anak menangis karena tidak mau makan, maka ajarkan bahwa makan itu kebutuhan, sedangkan menangis itu keinginan. Maka kita bisa mengajak mereka untuk menunda tangisnya setelah makan. Atau emak bisa mengajak berpikir kenapa harus menangis, apa sebabnya , perlukah ia menangis?

Cara diatas bisa dilakukan jika si emak sering melakukan attachment pada anak sehingga trust nya ke emak dapet. Selain itu pastikan juga kebutuhan dasar anak terpenuhi seperti perutnya kenyang, tidurnya cukup, anak tidak lelah, perhatian, ngobrol dan main bersama anak.

Gimana mak? Berat kekira? Ah, sama belajar aja kita ya mak. Ini dulu ulasan pengasuhan keuangan yang bisa saya share. Makasih banget sama pemateri kece kak Indah Hendrasari yang sharing gratis soal pengasuhan keuangan ini. Lain waktu kita bahas bagian2 lain dari pengasuhan keuangan terhadap anak. Tentu saja dengan materi yang ditulis oleh kak Indah. Secara dia pakarnya euy..



18 komentar

  1. Bener banget mak, pengasuhan uang terhadap anak emang mesti sejak dini, pa lagi saya nih mak yang punya anak banyak, kalau gak dilatih, dan pandai-pandai kita, dompet bisa bolong mak. Jadi anak saya sudah biasa kalau pengen sesuatu nabung dulu.... dan butuh waktu alias bersabar, gak bisa ingin sesuatu langsung ada.... tapi kadang saya suka kadih suprise terhadap anak-anak, dengan alasan ada rezeki anak sholeh.

    BalasHapus
  2. Kalau bisa, diajarin tentang investasi kayaknya bagus juga ya mbak? Jadi dari kecil selain diajarin buat "uang datang karena bekerja" anak juga bisa belajar kalau uang bisa bekerja buat dirinya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu ada dalam bab menabung dan macam2 income. Mdh2an lain waktu bisa di bahas fir..

      Hapus
  3. aku mulai SMP praktik ini mbak.. mencatat pemasukan dan pengeluaran uang saku. bermanfaat banget, jadi tahu kebutuhan jajan yang nggak berlebihan itu berapa..

    BalasHapus
  4. di Tempat kerja mira ada tabungan khusus anak mbk, Tabungan Gemess(Gerakan Menabung Seribu Sehari) namanya. bagus tu buat anak sekolah.

    BalasHapus
  5. Cakep,,,satu lagi, jangan diajarkan mengambil receh Abah yah.

    BalasHapus
  6. nah, ppenting banget menanamkan need dan want sedari kecil. Kita yang sudah tua aja kadang suka ga jelas membedakan need dan want... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa..bener banget jun. Emak kayak eike aja sering kebablasan. Makanya ngajarin anak biar emakny sklian belajar jg.

      Hapus
  7. Betul banget itu mbak. Ajari ttg financial mmg baiknya d mulai sejak dini oleh ortu .

    BalasHapus
  8. Orang tuaku selalu mengajari gimana keadaan saat belum gajian dan sesudah gajian. Yang pasti anak-anaknya mengerti dan memahami dengan sendirinya

    BalasHapus
  9. Iyess. Sering terlupa nih pendidikan finansial sejak dini. Padahal urusan duit tu penting sekaliii. Mempengaruhi banyak pilihan dalam hidup :)

    BalasHapus
  10. Mantap kak, akan sangat bagus menerapkan pendidikan finansial sejak dini

    BalasHapus
  11. Iya. Pendidikan finansial untuk anak itu penting banget. Jangan sampai jadi bumerang bagi kita karena tidak mengajarkannya kepada anak.

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah anakku udah rajin nabung dikencleng. Konsisten banget dengan koin uang seribuan.

    BalasHapus
  13. Aku mulai nabung dulu pas nonton filmnya Joshua... dan ngikutin caranya 😂😂😂

    BalasHapus
  14. Anak.itu peniru ulang. Jd ortu yang harus kasih contoh duluan. Kalo mau anak ga boros. Suruh ortunya ga boros duluan

    BalasHapus
  15. Kalau melatih apa pun ke anak mesti sabar ya, termasuk soal uang ini. Dan nggak membiasakan mereka jajan, meski ada kalanya beli sesuatu di luar itu juga perlu sebagai bagian dari pelajaran finansial ini

    BalasHapus