Selasa, 25 Oktober 2016

Napaktilas Pernikahan, Persil 3

Aku menuju ruang tamu. Lelaki itu, ibu Sinar dan suaminya sudah duduk disana, ditemani Pak Cik dan Lati. Dengan malu-malu kutangkupkanlah tangan di dada sambil senyum penuh kegugupan. Kurasa mukaku uda macam lobster rebus saat itu. Mataku tak berani memandang, kutengok aja sekilas dan ah..., beda kali dengan yang di poto, sumpah!. Padahal aku yakin kali poto yang dikasih ke aku itu bebas dari perkara 360. Berkacamata juga rupanya dia. Padahal aku menghindari kali punya suami berkacamata. Arghh...

Aku duduk di ruang TV, sebab di ruang tamu itu tak ada lagi tempat. Lagian nyaman juga kurasa terpisah ruang, jadi aku gak gerogi kali. Tak berapa lama, Lati dan
Bu Sinar pun pindah ke dekatku. Jadilah ruang tamu itu lapak bapak-bapak dan ruang TV lapak emak-emak. Sesekali curi pandang juga lah aku. Tapi tetap saja aku belum bisa menghapal wajahnya yang seperti langit dan bumi dengan potonya itu.
Mengingat tak ada makanan apa-apa di rumah, aku pun beranjak ke dapur untuk masak Mie Lidi. Aku yakin dia belum pernah memakannya. Lagian, memang hanya itu bahan mentah yang ada di dapur. Kan kasian jauh-jauh datang dari Bengkulu tak di kasih makan apa-apa.

Usai masak, kuminta Lati saja yang menghidangkan. Entah mengapa kali ini tinggi kali rasa maluku. Lati enggan, tapi kubujuk-bujuk sampe mau. Yeay! Aku sukses mengurung diri di dapur. Hehehe. Entah bagaimana, Bu Sinar pun jadi ikut duduk di meja makan bersamaku, disusul Lati. Kami bertiga akhirnya menyantap mie lidi itu dapur. Disela-sela suapan, kutanya lah Lati bagaimana pendapatnya tentang lelaki itu.

“OK, cocok denganmu”, katanya

“Kok gitu? Lati kan belum ngobrol banyak”, aku menyelidik

“Dari cara bicaranya, pun dari aura wajahnya, feelingku berkata dia orang baik. Ayuk, kalo dia OK jadikan terus, antarannya gak usah pake adat Curup”, kata Lati langsung pada Bu Sinar. Aku melongok, menelan ludah. Berani kali Lati ini bilang begitu.

“Aku istikharah dulu ya”. Semua tersenyum. Dan pembicaraan pun merembet entah kemana-mana. Biasalah perempuan kalau sudah kumpul, bisa tiga bab pembahasan per jam. Menyadari kami sudah lama meninggalkan para lelaki di ruang tamu itu, kami bergegas gabung. Lagi-lagi aku gak dapat tempat. Terpaksa nyari bangku tempel untuk bisa nimbrung. Tapi nyatanya sepatah kata pun tak terucap dari bibirku. Hanya cengar-cengir saja mendengarkan obrolan mereka. Si lelaki itu pun tak pula tanya-tanya padaku, jadi yaaaaaa...gitu deh.

Sampai waktunya mereka pamit, kami sama sekali tak ngobrol walau sekata pun. Jangan heran kelen, karena perantara ta’aruf ini pun tak paham apa itu ta’aruf. Ibu itu hanya mengikuti instruksi ponakannya saja. Jadi tak ada moderator, tak ada acara tanya jawab dan diskusi ilmiah. Aku hanya kembali mengangkupkan kedua tangan di dada dan tersenyum semanis mungkin mengantarkan kepulangannya.

Aku meraba-raba hatiku, mencoba menemukan jawaban apa yang akan diberi. Untuk lebih menguatkan, tentu saja aku istikharah. Do’aku masih sama, segeralah pergi kalo bukan dia jodohku. Sampai dua hari sesudah pertemuan itu, aku belum bisa memastikan jawabannya. Tapi jujur, hatiku anteng-anteng saja. Ringan kali macam kapas. Paling yang sedikit terpikir olehku tentang statusnya yang piatu, dan ya....kacamatanya itu. hehehe..

Esoknya, tepat 3 hari sesudah pertemuan itu, Bu Sinar nelpon lagi.

“Lia, katanya dia mau lanjut. Kau gimana, Ya? Kalo bersedia, dia nanya mau diantar berapa dan maharnya apa?”

What? Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku cuma ketawa berkepanjangan, ketawa yang misterius. Seumur hidup, baru dua kali aku ditanya soal berapa dan apa mahar begini. Tapi serius, yang ini rasanya beda kali. Tak tergambarkankulah pokoknya.

“Kok ketawa terus kau, Ya? Jawablah..mau apa nggak?”

“Hehehe..biarlah Bu!”

“Biar apa? Yang jelaslah”.

“Udahlah, Bu, ngomong sama Lati aja”. Kuserahkan henpon itu sama Lati. Aku masih mendengar Bu Sinar teriak di seberang sana, “Woii, Ya..yang mau dilamar itu kau, bukan Latimu”. Aku pasrah saja. Kalo udah OK Latiku, OK jugalah aku.

Eiiits, tunggu dulu. Jangan kelen pikir Latiku ini otoriter. Udah entah berapa lelaki di bawanya kerumah ini untuk dikenalkan denganku, tapi dia tetap menuruti kata hatiku. Kalo kukatakan tidak, ya tidak, meskipun dia memberi berbagai pertimbangan. Bahkan sangkin udah banyaknya orang ke rumah ini, begitu dengar Bu Sinar mau bawa lelaki itu ke rumah, Pak Cik (suami Lati) sampe nyeletuk, “Berhentilah ngenalkan lelaki sama Dahlia itu. gak bakal mau dia itu”. hahaha..udah bosan kali dia kayaknya nengok aku yang sering menolak ini.

Jadi, aku nyuruh Bu Sinar ngomong sama Lati aja karena memang aku sudah memberikan gambaran jawaban kepadanya. Dan dia menyimpulkan aku mau. Aku hanya malu saja untuk bilang ‘iya’ langsung ke Bu Sinar. Cihuuyy...

Mahar dan uang antaran pun ditetapkan. Jangan kelen pikir gampang aja urusan yang satu ini. Aku sampai menangis bombay menghadapinya. Aku tak minta banyak-banyak, bahkan nominal dan gram karat emas itu sangat di bawah standar untuk pasaran di kampungku. Jika menurutkan ego, aku ingin mahar dan uang yang selangit. Tapi entah mengapa saat itu aku rela sekali mahar yang sedikit saja. Tiba-tiba saja terbersit di hatiku bahwa pernikahanku ini harus membawa hikmah di kampungku sana. Harus bisa merubah mindset masyarakat sana bahwa pernikahan tak hanya perkara mahar dan antaran, tapi lebih dari itu; barokah dan kehidupan sesudah pernikahan itu sendiri! Aku sampai berdo’a “Ya Allah, jika lelaki ini adalah jawaban dari do’a-do’aku, tolong jangan biarkan hal-hal bersifat duniawi membatalkan ibadah muakkad ini. Kuatkan hatiku..kuatkan hatiku”.

Kadang-kadang urusan pernikahan ini sungguh tragis. Ada saja yang batal menikah hanya karena tak cocok harga sinamot  alias antaran, dan itu tentu saja pernah terjadi di kampungku. Urusan malu pada tetangga lebih diutamakan dari segala-galanya. Dan aku ngeri-ngeri sedap menyampaikan hal ini pada keluarga. Aku takut mereka tak menerima jumlah yang kuminta. Tapi ajaib, jawaban mereka sungguh di luar dugaan. Lega rasa hati.

Sampai di sini, urusan belum selesai. Aku meminta akad dan resepsi dilaksanakan di kampungku, Barus tercinta. Jauh memang, tapi aku sudah bertekad, jika tawaran tempat ini tak diterima, aku akan mundur baik-baik. Dari dulu aku sudah berniat bahwa di mana pun aku merantau, dan orang manapun calonku, aku harus menikah di Barus. Titik. Itu sudah harga mati, tak bisa ditawar. Mungkin terkesan keterlaluan, tapi aku yakin jika sudah jodoh segalanya akan mudah. Jarak puluhan ribu mil pun bisa dilipat-lipat.

Lati pun menyampaikan tawaran ini pada lelaki itu, tentu dengan memberi penjelasan mengapa harus jauh-jauh ke sana walaupun aku sudah tak punya orang tua kandung lagi. Lelaki itu sedikit tersentak. Dia tak menyangka bakal menikah di tempat sejauh itu. Apalagi mengingat seluruh keluarganya di Palembang. Dia tak yakin keluarganya akan bersedia mengantar. Jangankan kenal, dengar nama Barus aja baru kali ini. Dia meminta waktu untuk memberi keputusan, tapi tak belimit.

Sehari, dua hari....
Tak ada kabar sama sekali. Aku sudah menyusun rencana, dan siap dengan segala kemungkinan buruk...

See u in the last episod.. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar