Jumat, 28 Oktober 2016

Napaktilas Pernikahan, Persil 4


Hari ketiga...
Masih sama, belum jua ada kabar apakah ia bersedia menikah di Barus atau tidak. Yang pasti Lati sudah berpesan, “nanti sore ngajar tempat Bu Sinar gak usah tanya-tanya tentang itu. ngajar saja seperti biasa”.
Aku meng-iya-kan, sebab aku pun agak sungkan menanyakannya. Mungkin dia keberatan dan sedang berpikir bagaimana menyampaikan dengan bahasa yang santun dan mundur teratur. Hehehe..

Saat matahari mulai merendah, aku berangkat ngajar dengan hati yang bergemuruh. Sampai di daun pintu, aku mengucapkan salam. Bu Sinar yang ternyata sedang duduk di dekat pintu sambil asyik masyuk teleponan langsung meletakkan jari tengahnya di bibir, memberi isyarat agar aku diam sejenak. Aku menurut saja. Ia memandangku sambil mengucapkan satu kata tanpa suara. Aku bisa
menangkap ucapannya, nama seseorang. Aku makin penasaran.

Usai menelepon, dia senyum dan berkata, “Ya, dia masih belum paham juga bagaimana proses antaran itu nanti, pun tentang pernikahan di Barus. Dia mau ngomong langsung samamu, tapi Ibu gak tau boleh apa tidak kalian ngobrol. Nanti Ibu tanya Fero dulu”.

“Gak usah tanya Fero, Bu. Insya Allah ini bukan pembicaraan maksiat. Suruh saja menelepon saya malam nanti, biar saya jelaskan agar tak terjadi kesalahpahaman”, kataku tegas.

“Baiklah kalo itu maumu. Nanti ibu kasih nomor teleponmu sama dia”.

Aku sendiri kurang yakin bisa apa tidak nanti bicara mulus padanya. Secara, kami tak pernah sekali pun bercengkrama. Hanya mengcengkram perasaan masing-masing saja saat pertemuan perdana itu. Pulang ngajar, kusampaikan pada Lati. Beliau mengizinkan kami teleponan.

Well, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Pukul sembilan malam hp-ku berderit. Nomor baru. Itu pasti dia. Agak lama kupandang nomor itu. Soalnya canggung kali kurasa mau mengawali obrolan. Tapi ape nak dikate, sudah kadung janji, kuangkat jualah dengan kalimat salam. Ia menjawab salamku. Dan tanpa banyak basa-basi dia langsung masuk ke inti pembahasan. Agak kaget juga aku, lelaki ini memang kurang pande basa-basi atau karena gerogi ya? Pikirku.

Singkat cerita, pembicaraan itu tidak jua membuahkan keputusan final. Dia masih perlu berdiskusi lagi dengan keluarganya. Ah, bertele-tele kali. Mulai kumat darah tinggiku. Esoknya dia sms, isinya meminta kesediaanku untuk bicara dengan kakaknya via telepon. Hampir saja aku tak mau. Macam-macam kali kurasa. Tapi karena mengingat kakaknya itulah sebagai ganti fungsi ibunya, maka kuterimalah tawaran itu.

Kakanya pun meneleponku. Aku agak lebih leluasa bicara kali ini, mungkin karena sesama perempuan yang memiliki naluri yang sama, butuh dimengerti dan tak pernah salah sesuai pasal 1 keperempuanan. Kalaupun salah, kembali ke pasal 1. Hehehe..

Intinya kakaknya itu menanyakan alasanku meminta nikah di Barus, besaran hantaran, adat istiadat dan sebangsanya. Tanpa tedeng aling-aling, kakaknya langsung bilang OK, “Tunggu saja dalam dua tiga hari ini, Dik. Kami akan datang melamar dan membawa antaran sesuai dengan yang diminta”, ucapnya jelas, lugas dan tangkas.

Aku menelan ludah, kaget bukan main. Lelaki itu saja belum ada bilang apa-apa padaku, kok kakaknya ngomong begini. Trus membayangkan dua tiga hari itu lho, macam mimpi kurasa. Kutanya sekali lagi. Mungkin pikir kakak itu aku nyinyir kali. Ah, biarlah. Aku butuh kepastian saja. Tapi jawabannya masih setegas yang tadi.

“Akan kusuruh dia meneleponmu kembali untuk memastikan hari apa tepatnya kami datang. Tapi maaf, Dik. Kami sekeluarga di Palembang sepertinya tak bisa ikut. Selain jauh, memang lagi banyak kesibukan. Kami akan minta bantuan RT tempat adik kami tinggal di Bengkulu sebagai walinya untuk ikut melamarmu. Insya Allah saat akad nikah nanti kami akan ikut ke Barus. Makanya nanti kalo adik kami meneleponmu kembali, putuskanlah tanggal berapa kalian mau menikah, agar kami ajukan cuti dari sekarang”, ucapnya terang seterang purnama mengembang. Sejenak aku tercenung. Segampang ini? Ah, barangkali ini adalah bagian jawaban dari istikharahku. Petunjuk itu tak melulu datang lewat mimpi, tetapi juga dari kemudahan proses dan kemurahan jalan. Allah....

Aku memahaminya dengan baik. Dua hari sesudah itu, tepatnya Jum’at malam, adiknya sms mengabarkan akan menelepon beberapa waktu lagi. Aku menunggu. Tapi buah menanti itu tak semanis jeruk Berastagi, sebab dia mengirim sms lagi kalau dia tak bisa menelepon karena tetangganya mendadak kesurupan. *Aih, horor kalilah proses ta’arufku ini. macam-macam saja halangan*. Dia memintaku menentukan kapan waktu yang paling tepat.  
Besok ba’da subuh. Hanya tersedia waktu 20 menit. Tak boleh lebih.
Sent!

******
Sesuai janji, usai sholat subuh si blacky berdering. Seperti biasa, tanpa basa-basi, to the pint aja.

“Jadi kapan bisa antaran?”

“Besok, Minggu jam 2, bisa? Gak pake adat Rejang dan gak pake acara pamit pada tetuah adat. Cukup datang bawa rombongan, sampaikan maksud. Cukup!”

Agak kaget juga dia kurasa. macam main-main saja mungkin pikirnya. Tapi kuyakinkan bahwa memang begitu yang kumau. Karena di kampungku pun tak ribet-ribet kalinya prosesi antaran. Akhirnya dia mengerti dan meminta waktu beberapa jam untuk memastikan pak RT bisa atau tidak mengantarnya besok. Selanjutnya, pernikahan kami sepakati 5 Muharram 1437H alias 18 Oktober 2015. Sebenarnya dia ingin tepat 1 Muharram. Tapi berhubung 1 Muharam itu hari Rabu, hari di mana orang Barus semuanya berkiblat ke Onan alias pasar mingguan, maka kutawarkanlah hari Minggu itu. untung saja dia OK.

Ah, ya! Kalian juga harus tau, sebenarnya aku meminta bulan 12 saja, biar akadnya pas liburan semester dan aku juga bisa menyelesaikan honorku di dua sekolah sempurna habis semester. Lagian macam tak siap kurasa mau jadi istri orang dalam waktu sedekat itu. sampe-sampe Lati bilang, “Berdoa tiap saat minta jodoh, giliran datang mau lama-lama. Aneh!”

“Aku mikirin ngajar, Ti. Kan tanggung sebentar lagi habis semester. Lagian Lati mana bisa kalau gak suasana libur”.

“Pokoknya per 1 Oktober kau resign. Aku akan cuti, Pak Cikmu juga. Kita ke Barus semua”.

Kaget kali aku dengar jawabannya ini. Lati itu orang paling jarang izin mengajar, apalagi Pak Cik yang hampir tak pernah ambil jatah cuti tahunan. Lagi-lagi ini menjadi jawaban istikharahku. Hal-hal yang kuanggap sulit dan berat ternyata lempang begitu saja, di luar dugaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Pukul 9, dia menelepon lagi mengabarkan besok bisa. Maka langsung kuberikan pada Lati hp itu untuk selanjutnya diatur sama tetuaku itu. Kelen tau, tak konsentrasi kali lagi aku pagi itu di sekolah. Untung sedang ada acara, jadi tak ada KBM sama sekali. Aku hanya mondar-mandir, sesekali menggigil. Sumpah! Bercampur aduk rasa hatiku waktu itu. Lati sendiri minta izin lebih dulu pulang dari sekolah karena mau belanja buat persiapan besok.

Malamnya asli aku gak bisa tidur. Itu malam minggu paling menggalaukan seumur hidupku. Bukan apa-apa, aku sedang mencoba menyusun puzzle wajah lelaki itu, gak teringat aku bagaimana bentuk mukanya. Yang kuingat hanya kacamatanya saja.

“Liat potonya kan bisa, Yuk”, kata temanku yang sengaja kuajak nginap malam itu di rumah.

“Gak bisa, Da. Poto sama aslinya macam langit dan bumi. Wajah aslinya ini sama sekali tak terbayang. Wong cuma sekali ketemu. Itu pun tak ngobrol dan tak hadap-hadapan”.

Rida pun Cuma bisa cekikikan sambil geleng-geleng. Mungkin baru ini ditemukannya orang mau dilamar tapi tak ingat wajah yang melamarnya. Entah bagaimana akhirnya aku bisa berdamai sejenak dengan bayang-bayang pemuda Indralaya itu.

Tak banyak yang diberitahu, hanya orang-orang terdekat saja. Sebab aku pun teringat Islam menganjurkan agar merahasiakan khitbah dan mengumumkan pernikahan. Jadilah acara itu tertutup untuk para wartawan dan host infotemen. Hehehe..

                                         silahkan tebak yang mana orangnya.. :)

Usai acara antaran, selanjutnya hanya ada hari-hari sibuk untuk persiapan. Sebab akad di gelar sebulan sesudah khitbah itu. Dalam hal ini, aku berterima kasih sekali pada hp, kartu-kartu, dan sinyal karena telah sangat membantu menyelesaikan urusan ini, sehingga aku bisa berkoordinasi maksimal dengan keluarga di kampung yang menjadi tampuk urusan acara ini. Segala apa yang bisa disiapkan di Curup, ya disiapkan. Termasuk undangan, cetak di tanah Rejang itu.

Oh ya, teringat undangan ini, konyol kali lah aku pas udah tercetak dan Lati bawa sampelnya ke rumah. Kulemparkan undangan itu, tak sudi aku membacanya karena malu kali aku mendapati namaku tertulis bergandeng dengan nama lelaki di situ. Lati sampe kaget lalu berujung ketawa cekikikan.

“Masa pulak mau nama Lati ditulis di situ. Macam-macam aja kau”, katanya. Hahaha..


Butuh waktu beberapa saat untuk aku bisa menguasai diri dan berani menatap nama itu. Tapi tetap saja ada sisa-sisanya yang tertinggal. Terbukti ketika kusebarkan undangan itu, cepat-cepat aku menyingkir biar tak kudengar orang membaca namaku itu. Ckckckck...Selama proses persiapan itu, antara aku dan dia tak ada komunikasi yang  lebay selain membicarakan kelengkapan dokumen, dan hal-hal ringan yang dianggap perlu. kesekian kalinya aku bersyukur, sebab walau bukan ikhwan Top Markotop, dia cukup paham dan memang tak suka berkata-kata lebay alay binti gombalisme ala ababil gitu. Hehehe..

                                                           ********
Waktu seperti kilat saja. Tepat di 18 Oktober 2015, saatnya aku jadi Rajo/Ratu Sahari. *twiiing..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar