Ijab Qabul Itu...

Jumat, 02 Desember 2016



Ahha..sudah sebulan lebih meleset dari target. Mestinya kisah hari H ini ditulis sehari sesudah postingan Napaktilas Pernikahan,  Persil 4. Maaf ya konkawan kalau kelamaan nunggu. *ciyeee..merasa amat ditungguin. Hihihi

Baiklah, silakan ambil secangkir kopi, kudapan ringan dan duduklah bersantai. Mari simak acara prosesi akad nikah dan resepsi saya ini. :) 

Minggu, 18 Oktober 2015 menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Semua rasa berbaur menjadi satu. Sedih, karena akhirnya harapan terbesar ibunda tercinta nyata di hari itu, sedang dirinya sudah berada jauh keluar dimensi bumi. Pun ayah yang tak bisa
menjadi wali sebab ia telah lebih dulu kembali ke genggaman Ilahi. Senang, karena akhirnya aku laku juga. Hahaa..

Cemas, karena aku tak tau lelaki yang akan menjadi suamiku ini benar-benar baik apa tidak. Bayangan lelaki pelit pun datang menghantui. Oh, alangkah tersiksanya hidupku andai suamiku nantinya pelit, ngasih duit perhitungan, apalagi kalau sampai uang belanja ditaksasi dulu baru ngasih, atau malah pakai proposal pengajuan dana ke pasar sekalian. Tidaaaaakk!! Bukan apa-apa kawan, aku jadi paranoid begini karena semasa aku gadis, bahkan dari semester satu kuliah, entah berapa orang emak-emak yang curhat padaku sampai nangis bombay perihal rumah tangganya. Dan setelah kurunut-runut, kebanyakan ketersiksaan batin emak-emak ini karena duit. Bukan perkara kurang banyak, tapi karena perhitungannya sang suami. Tapi kucoba-cobalah menenangkan diri. Kuingat kata-kata yang pernah disampaikan omakku alias Bunda bahwa nasib kita tak sama dengan orang. Kupikir-pikir iya juga. Karena Bundaku sendiri tidak pernah mengalami tekanan batin perkara duit. Agak legalah aku sikit sambil berharap nasibku sama dengan Bundaku.

Terharu, karena meski tanpa Ayah Bunda, aku bisa menikah dan melaksanakan resepsi sebagaimana lazimnya orang-orang. Mungkin yang tak lazim adalah besaran maharku. Sebab zaman sekarang ini khususnya di kampungku, sarjana macam aku ini, plus cantik baik hati dan rajin pula menabung ke warung, maharnya agak-agak elit. Sekurang-kurangnya emas murni 12,5 gram. Tapi aku malah meminta sebesar lazimnya mahar orang-orang yang kawin lari di kampungku. Hehehe

Belum lagi kawan-kawan FLP Sumut yang berdatangan hampir satu bis dari Medan, juga keluarga calon suamiku yang sangat qona’ah datang jauh-jauh dari Palembang sana, macam kata Wali Band itu, Selatan ke Utara, sungguh menambah keharuan yang mendalam. Dan puncaknya adalah ketika detik-detik ijab qabul, sang mempelai pria diminta oleh penghulunya membacakan ayat suci Alqur’an. Jangtungku serasa mau copot. Calonku ini bisa mengaji apa tidak? Makhroj dan tajwidnya jangan-jangan belepotan, atau malah gak bisa ngaji sama sekali? Oh My God.. Aku memejamkan mata di dalam kamar ketika dia mulai membaca ta’awuz. Oh ya, perlu kukasih tau bahwa di kampungku sana, pengantin tidak akan disandingkan sampai akad selesai dibacakan. Pengantin wanita alias Anakdaro duduk di kamar ditemani induk inang dan beberapa keluarga, sedang sang lelaki alias Marapule duduk di tempat akad yang sudah dirancang. Inilah salah satu adat pernikahan Barus yang amat aku sukai. Jadi aku benar-benar telah halal ketika sesaat lagi duduk di sampingnya.

Kembali ke Qur’an, aku menyimak khusyuk bacaannya. Rasa haru yang membuncah terwujud dalam butiran air mata yang bergulir. Bundaku pasti bahagia di sana mendapati menantunya sesuai keinginannya. Dan kefasihan bacaannya ini menjadi kejutan pertama buatku. Ternyata keputusanku menerimanya tanpa perlu pendekatan yang lama tak sia-sia. Aku lega sesaat, sebab setelahnya akan datang kecemasan yang bukan saja mencopot jantung, tapi bahkan melumpuhkan seluruh sendi-sendi tubuh. Apalagi kalau bukan kalimat sakral itu.

Aku berdo’a berulang-ulang. Berharap akad nikah ini lancar dan berkah. Dalam kecemasan yang menjulang aku pasrah. Penghulu mulai terdengar memandu sang wali dan mempelai. Aku semakin gusar. Sampai akhirnya terdengar suara yang teramat gagah mengucap qabul Saya terima nikahnya Dahlia Siregar binti Dahran Siregar dengan mas kawin ..... mas emas murni tunai. Allah...air mataku tak terbendung lagi. Aku sesenggukan. Tak kupedulikan lagi pesan perias wajahku tadi bahwa aku tak boleh menangis karena nanti merusak bedak. Kubiarkan saja air mata itu mengambil posisi. Sah sudah aku milik seseorang, aku kini adalah wanita bersuami. Aku berharap Ayah dan Bunda pun turut haru bahagia di alam sana.

 
Setelah itu, barulah aku dituntun keluar menuju padanya untuk menyematkan cincin di jariku. Amboii..



Karena cincin telah melingkar di jari manisku, maka saatnya aku meraih lengannya dan mencium punggung tangannya. Ceesss..jantungku berdegup. Ini sentuhan fisik kami yang pertama. Terlebih aku yang selama ini tak pernah pacaran, maka momen seperti ini adalah hal yang tak bisa lagi terlukiskan dengan kata-kata. Orang-orang mulai sibuk memotret, cekrak cekrek cekrak cekrek sambil teriak ‘tahan-tahan’, sedang aku merapal do’a di punggung tangannya itu. Berserah pada Allah, berharap jemarinya akan selalu tertaut dengan jemariku, lengannya yang akan selalu merangkul pundakku menapaki kehidupan hingga akhirat, dan dadanya yang akan menjadi tempat berlabuhku yang nyaman.


Dan entah bagaimana, datang saja rasa tak percaya bahwa dia sekarang adalah suamiku. Tanganku melingkar di lengannya dalam kekakuan. Dan di kursi kerajaan sehari itu, kami saling bingung. Untung saja para undangan tiada henti minta poto, serasa pamorku sehari itu lebih melejit dari Syahrini. Sehingga kekauan itu bisa sedikit tercairkan.

Kami tak menggelar pesta hingga malam, meski muda-mudi di kampung minta acara berlanjut. Bukan apa-apa, kami hanya ingin menyimpan stamina sebab dua hari sesudahnya kami sudah harus berangkat ke Palembang sungkem mertua. Maklumlah, mertuaku memang tak ikut ke Barus waktu itu karena kondisi kesehatannya yang tak memungkinkan. Jadi acara malam yang seharusnya berpesta itu kami ganti dengan pembukaan kado.

Malam mulai remaja. Rasa letih yang sedari tadi bertengger meronta meminta rehat. Kami pun pamit pada keluarga yang masih betah mengobrol. Aku sendiri merasa tak mampu tidur karena kecemasan lain mengganggu. Tapi apa mau di kata, dia telah menjadi suamiku dan aku harus rela satu ruangan dengannya. Mati-matian aku membunuh kecanggungan tapi tak berhasil. Dia pun begitu. Akhirnya kami tenggelam dengan android masing-masing. Dari sanalah ia membuka percakapan, memperkenalkan kawan-kawannya, keluarganya, lalu aku bercerita banyak hal, dia menimpali, begitu seterusnya hingga malam kian larut dan kami tenggelam dalam melodi cinta yang menggetarkan.

Selanjutnya, hanya ada hari hari yang penuh kejutan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS