6 Tehnik Menentukan Kriteria Jodoh

Sabtu, 04 Februari 2017


Salam wiken jombloers. Semoga akhir pekannya selalu bahagia walaupun sedang dalam penantian yang begitu menyiksa. Jika tak ada kegiatan, keluarlah! Silaturrahim ke rumah saudara, kenalan atau teman lama. Hadiri acara-acara yang bergizi, atau bergabunglah dengan majlis-majlis ilmu yang bermanfaat. Mana tau bisa jadi jalan jodoh yang mengesankan. Bisa juga cuci mata ke butik-butik busana syar’i, toko buku atau bazar, mana tau ada ibu-ibu yang sedang asyik belanja, lalu tanpa sadar dompetnya jatuh. Sepuluh menit kemudian kamu menemukan dompet itu lantas berlari kencang menuju parkiran untuk mengembalikannya. Sayang,
si ibu sudah tak ada. Berbekal alamat di KTP, kamu pergi ke rumahnya, dan si ibu sangat terkesan dengan kejujuran dan kegigihan kamu mengembalikan dompetnya. Lalu tanpa tedeng aling-aling iya menawarkan anaknya yang ternyata pengusaha pisang coklat yang cabangnya sudah ada di tiga kota besar. Dermawan, taat sholat, rupawan pula. Alamak! Mau? *Sihhaaaa......ini tulisan belum apa-apa sudah memuat khayalan yang tingkat nyatanya di bawah rata-rata. Gak pa-pa lah ya, sekedar menghibur diri. Hihihi

Ilusi di atas memang agak keterlaluan, tapi tak menutup kemungkinan itu bisa terjadi. Namun sebagai manusia yang waras, alangkah baiknya kita membuka mata pada realita yang ada. Terlebih dalam menentukan jodoh idaman. Setiap orang punya standar kriteria, dan itu hak asasi. Tak akan pernah sama sekalipun mereka saudara kembar. Hanya saja kita perlu berhati-hati dalam menentukannya agar tak mempersulit jalan hidup dan diri sendiri. Bukan hanya mengajar dan memasak saja yang butuh tehnik, menentukan kriteria jodoh pun sangat diperlukan tehnik yang jitu agar tepat sasaran. Berikut beberapa tips yang bisa saya bagi.

Pertama, tetapkanlah standar Rasulullah, yakni mengedepankan akidah dan keimanan. Jadikan taat sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan dan bisa baca qur’an sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar. Insya Allah jika yang tiga ini aman, kebaikan-kebaikan yang lain akan mengikutinya. Tidak usah takut di cemo’oh orang-orang. Hidup ini kita yang menjalani, maka tetapkanlah pilihan yang paling baik.

Kedua, tetapkan pula standar kenyamanan hati. Tidak merokok misalnya. Bagi sebagian orang, apalagi orang yang tinggal di kampung dan awam pula, standar ini amatlah konyol. Saya sendiri beberapa kali dijengkali orang-orang karena menetapkan kriteria ini. “Tak ada laki-laki yang tak merokok zaman sekarang ini. Itu tak menjadi masalah besar. Kalau begitu maumu selama ini,  pantas saja kau belum kawin-kawin juga”. Ini kalimat yang sering saya terima. Saya mundur? No! Malah kalimat ini yang saya rasa mendatangkan keajaiban dalam penemuan jodoh saya. Kok bisa? Ya, bisa. Nanti saya kasih tau alasannya.

Ketiga, buatlah level yang sesuai. Tampan, cantik, tinggi, putih, semampai, kaya, pintar, religius pula, siapa yang gak mau? Dan tak ada salahnya pula menginginkan kriteria yang begini. Tapi ingat, sebelum mencubit orang lain, cubitlah dulu diri sendiri. Artinya, kalau postur kita (maaf) pendek, hitam, tak usah pula keukeuh menunggu yang putih tinggi. Kalau kita saja berasal dari keluarga sederhana atau kurang mampu, maka tak perlu berlama-lama menunggu pangeran Inggris datang melamar.

Keempat, pahamilah keadilan Allah dalam penciptaan. Ada siang ada malam, laki-laki – perempuan, dan selalu begitu, Allah ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.  Maka jika body kita tinggi, jangan bersikeras mencari jodoh yang lebih tinggi. Yang mancung dan pesek akan menjadi jodoh yang indah. Yang cantik dan gak tampan akan menjadi pasangan yang saling menjaga. Si suami akan menjaga dan berlaku baik pada istrinya yang cantik karena takut diambil orang. Sedang si istri menjaga kesetiaannya pada sang suami yang kurang tampan karena takut wanita lain merebut saldo tabungan lelakinya. Hehehe....

Kelima, perluaslah jangkauan jodoh. Ada orang yang ingin jodohnya orang Medan saja, karena orang tua dan keluarganya tinggal di sana. Ada pula ingin sesama Minang saja, agar satu selera lidah. Sebenarnya yang begini sah-sah saja. Tapi ingat, jangan terlalu fanatik. Meski Medan adalah kota metropolitan yang luasnya melebihi luas Singapura, belum tentu Allah siapkan jodohmu di sana. Mungkin saja ia si taat yang berkutat dengan embun-embun persawahan Sei Bamban, si sholihah yang akrab dengan gemericik sungai Kapuas, atau si sholeh yang riang mengajar mengaji di pedalaman Ambon. Asal sholih, bertanggung jawab dan giat bekerja, embat saja. Jangan ngotot harus orang ini suku itu.

Khusus buat sahabat-sahabat yang tarbiyah, saya mengerti sekali bahwa sahabat sekalian ingin sekali berjodoh dengan ikhwan dan akhwat yang aktivis juga, biar sefikroh. Ini manusiawi. Tapi menurut saya ada baiknya beri kesempatan juga bagi mereka yang hanif untuk menawarkan diri. Karena seperti yang saya sampaikan di poin pertama, bahwa jika yang pokok sudah aman, Insya Allah kebaikan yang lain akan mengikuti. Nanti setelah menikah bisa kok diajak liqo’ dan pengajian serupa.

Keenam, Istiqomah dalam kriteria. Ini dia yang saya katakan pada poin kedua tadi, tentang keajaiban penemuan jodoh saya. Hampir kebanyakan orang menilai saya tinggi ‘stelan’ dalam hal jodoh, terlalu milih dan semacamnya. Bahkan ada yang menilai saya terlalu perfeksionis. Sholeh, tidak merokok, punya pekerjaan adalah kriteria yang terlalu tinggi kata mereka. Bahkan keluarga saya sendiri ada yang berkata demikian. Parahnya, ada yang meminta saya supaya tidak alim-alim kali, memakai levis sesekali, bla bla bla.  Tapi setiap kali saya menerima perkataan senada, saat itu pula saya mengulang do’a dalam hati sekhusyuk-khusyuknya, Ya Allah, Engkau maha mendengar lagi maha berkuasa. Maha pemberi dan pemurah. Aku tau Engkau masih punya banyak stok lelaki sholeh yang tak merokok di muka bumi ini, meski langka di permukaan. Maka berikanlah aku satu Ya Rabb, dari arah mana saja. Biar orang-orang tau bahwa keinginanku ini tak mengada-ngada. Tapi semata-mata karena murni ingin bahagia dunia akhirat.

Itu terus saya ulang-ulang setiap saat. Saya yang lebih tau niat saya menikah untuk apa. Dan saya pula yang paling tau tujuan saya menetapkan kriteria itu untuk apa. Dan saya yakin Allah mendengar dan mengetahui apa-apa yang tersembunyi di dalam hati. Maka Bismillah saya bertahan untuk tidak menurunkan standar kriteria yang saya inginkan. Biar saja orang mengoceh macam-macam, bahkan jika sampai dikatakan perawan tua pun tak masalah. Sebab orang-orang taunya cuma berkomentar. Nanti kalo kita menikah pun dengan orang yang berperangai buruk, kita juga yang akan disalahkan tak tau memilih jodoh. Jadi ya, santai aja say. Selagi kriteriamu soal agama, bertahanlah. Jangan mau ditawar, sebab barang bagus memang mahal harganya. Nebusnya susah.

Alhamdulillah, Allah memberi kejutaan di waktu yang tak terduga. Lelaki yang menikahi saya kini benar-benar lelaki yang teramat saya butuhkan. Kriterianya persis, bahkan kriteria yang hanya pernah terlintas sekejap dalam hati juga nyata ada pada dirinya. Sehingga bungkamlah mulut orang-orang yang menyepelekan dulu. Sesuatu yang langka itu masih ada. Tergantung cara kita mendapatkannya. Kurang baik apa Allah coba? Saya mencintainya sepenuh hati, dan berharap Allah meridhoi rumah tangga kami hingga ke surgaNya yang paling lezat.

Ini dulu ya yang bisa saya bagi. Tulisan ini tidak mengandung unsur paksaan, apalagi intimidasi. Jadi tak perlu khawatir. Konkawan masih bebas memilih jalan sesuai selera. Selamat malam minggu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS