Rabu, 01 Februari 2017

~Balada BATAKers di Tanah Rantau~



Dulu, waktu aku masih kecil hingga Tsanawiyah, malu kali aku bermarga Siregar. Gak cantik kurasa. pengen kuganti jadi Pasaribu atau Tanjung saja. Elok nian kurasa dua marga itu. Jadi setiap guru mengabsen, agak-agak kusembunyikanlah mukaku sangkin malunya disebut Dahlia Siregar itu. Lalu entah bagaimana, di bangku Aliyah mulailah berkurang maluku tadi, meski belum sepenuhnya bisa berkata lantang Dahlia Siregar saat berkenalan dengan siapapun. Hingga akhirnya aku kuliah ke Medan, barulah terasa kali enaknya bermarga itu. Rupanya
kota Deli itu mampu meluruhkan rasa maluku selama ini.

Berawal dari banyaknya kutengok orang yang sukses-sukses punya marga. Mulai dari artis, penulis hingga pejabat. Bahkan ada orang yang ingin sekali punya marga karena Batak itu kuat kali persatuannya katanya. Entah iya entah tidak, yang pasti kalau sudah bertemu dengan sesama Batak ada saja keuntungannya kurasa. Itulah yang kian menjadikanku bangga menjadi Boru Batak ini.

Kadang-kadang aku keterlaluan juga memperlakukan margaku ini, karena seringkali kuperalat untuk transaksi jual beli. Kelen taulah penyakit perempuan ya kan, Kalo sudah belanja maunya murah nawarnya terjuan bebas tapi barangnya banyak dan berkualitas. Apalagi anak kos macam aku dulu, macam prestasi besar kali itu kalo bisa nawar jauh. Makanya kalo belanja kuajak kombur dulu tukang jualannya. Sebisa mungkin kukemas cerita sampai dia tau kalo aku ini Siregar. Kalau sudah begitu, tanpa kutawar pun penjualnya sendiri yang akan menawarkan bahkan memberi bonus.

Sebut saja penjual sate di Klambir V sana. Waktu itu aku bertandang ke rumah kawanku di situ. Rupanya masih ada lontong dan daging eraya idul adha yang tersisa. Jadi bikin satelah kami ya kan. Aku gak suka kali sate kuah kacang ini, jadi kubilanglah sama kawanku itu kita beli kuah sate padang saja. Pigi lah kami nyariknya, eh ketemu di jalan abang-abang sate dorong gerobak. Kami cegatlah, trus kami mintalah kuahnya sepuluh ribu kalo aku gak salah. Sepanjang bungkusin kuah itu kumainkanlah komburku ya kan. *eh tapi perlu tau juga kelen ya, aku memang hobi kombur, jadi bukan semata-mata punya misi saja*. Dan ternyata, abang satenya juga Siregar. Tagolak-golak lah kami sama kawanku ini. berapi-api pulaklah kawanku itu memperkenalkan marganya. “Aku boru Ritonga, Bang”, katanya.

“Bah, sodarakunya semua kelen rupanya. Kulebihkanlah kalo gitu kuah kelen ini Anggikku”, ucapknya sambil menyiduk kuah sate lebih banyak. Senang kegirangan kali lah kami waktu itu. Selanjutnya, Siregar ini semakin membawa keberuntungan dalam dunia muamalah.

Anehnya, kalau baru pertama ketemu dengan orang pasti gak nyangka kalo aku ini Batak. Selalu dibilang orang Jawa, Aceh, dan sesekali India. Nah, kalo India ini sepakat kali aku, karena kulitku memang gelap, segelap Babaji yang jualan di kampung keling sana. hehehe. Parahnya, pernah penjual pepaya sampe minta KTPku untuk membuktikan bahwa aku ini Siregar, karena nengok mukaku gak percaya dia katanya aku Batak. *merasa cantik kalilah aku ya kan*.  Itulah proses jual beli pepaya yang paling resmi seumur hidupku, padahal cuma satunya kubelik pepayanya, yang kecil pulak itu. Begitu baca KTPku, gak bisa lagi lah dia berkilah. Akhirnya turunlah harga pepaya untuk Dahlia Siregar ini. Cihuyyyyy.........

Sekarang aku tinggal di Bengkulu ini makin bermanfaat margaku ini. Karena kelen taulah jumlah Batak di sini tentu saja tak sebanyak di Medan. Jadi kalau sudah ketemu, macam dapat sodaralah dirasa meski tidak serumpun, aku Batak Mandailing, namboru itu Batak Toba. Ah ya, perlu kelen ketahui bahwa sebatak-bataknya diriku, tapi menuturkan bahasanya aku tak terlatih. Karena Mother Tongue-ku adalah pesisir. Tapi itulah ajaibnya bahasa, semakin sering didengar semakin gampang pula menggunakannya. Makanya jangan heran kalo inang-inang danau Toba lebih pande ngomong English daripada mahasiswa Bahasa Inggris semester 6.

Saat ini kalo belanja ke pasar, nguping  dulu aku sedikit baru nanya barang. Kalo kudengar berbahasa Batak dia, kumainkan pulaklah bahasa Batakku yang sangat sumbang itu. Tapi ngerti juganya inang itu kutengok. Sampai akhirnya korting-kortinglah dikit harga itu dibuatnya. Biar kelen tau aja dikit, mesti menawar, tak sadis kalinya aku menjatuhkan harga. Kalo inang dan namboru itu gak ngasih harga tawar tak pala kupaksa sampai menjual nama pejabat. 

Ada satu lelaki paruh baya bermarga Damanik, kupanggil dia tulang setelah aku menjadi pelanggannya. Kalo nengok wajah tulang ini, tak meyakinkan kalo dia itu baik hati. Tapi begitulah, tak selamanya cover itu menggambarkan isinya. Tampangnya sangar tapi hatinya saudagar. Asal aku belanja ada saja yang dibonuskannya. Kadang seledri dan daun bawang seikat, kadang timun dua bijik, kadang wortel se-ons, dan tentu saja harga-harga yang sangat bersahabat. Makanya kalo belanja ke tulang ini tak kutanya-tanya lagi berapa harga. Kuminta aja sesuai keperluanku, abis itu kusuruh totalkan. Tanggal 5 Februari nanti mau pesta tulang itu, Insya Allah aku datang membawa suami. Karena katanya pengen kali dia kenalan dengan Abangku itu. Pernah suatu ketika dia bertanya,

“Marga aha do orang rumah mi?”

“Margarin do tulang”, jawabku mesem.

Terkikik tulang itu. baru dia tau kalo suamiku bukan Batak. “Tak pa-pa lah. Yang ponting sayang ma tu ho, pengertian, lembut, i do nomor sada namarumah tangga on”.

“i ma da tulang. Alhamdulillah denggan do rohana”. Si tulang pun manggut-manggut.

Seterusnya, marga Siregar ini telah menghantarkanku pada persaudaraan yang luas, kuat dan nikmat di tanah rantau. Tapi jangan salah, tak semua Batak itu bisa diajak kompromi. Pengalaman pahitku dengan si Batak penjual buah akan kuceritakan lain waktu. Ini dulu ya! Sampai ketemu...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar