Wisata Hutan Punti Kayu

Meski pun Palembang merupakan kota terbesar kedua di bagian sumatera dengan tingkat kemacetan yang wow, tetapi ianya tetap memiliki hutan yang cukup luas. Salah satunya adalah Punti Kayu. Pertama kali ke Palembang, kupikir punti kayu ini sekedar hutan yang tak layak dikunjungi. Lagian apa sih menariknya hutan? Yang ada aku ngeri duluan kalau sudah bersinggungan dengan kata hutan. Yang terbayang adalah harimau yang buas dan ular yang berbisa, plus singa yang mengganas. Satu waktu aku melihat di sosmed ada orang berpoto ria di punti kayu ini. Dan beberapa waktu sesudah itu barulah aku tau bahwa ternyata punti kayu itu hutan wisata. Jadilah ia masuk dalam daftar destinasi kami ke Palembang Februari lalu.


Kami pergi ke sana dengan keluarga di siang hari yang cloudy. Tidak sampai satu jam jarak yang kami tempuh dari perumahan PPI Talang Kelapa menuju lokasi hutan wisata ini. Tiba di pintu masuk aku agak sedikit shock, kok baby  usia tiga bulan yang kugendong dikenakan tarif masuk juga ya? Seumur-umur, baru kali  aku masuk tempat wisata yang mengenakan tarif pada baby. Sedangkan pesawat aja gratis untuk anak di bawah usia dua tahun. Ckckckck.....

Lima ribu rupiah untuk tiket masuk baby Ney, dan dua belas ribu lima ratus rupiah untuk orang dewasa. Ini tarif yang cukup lumayan menurutku. Tapi aku berbaik sangka, mungkin sesuai dengan apa yang di dapatkan di dalam sana.

Kami pun menelusuri badan hutan untuk mencari tempat parkir. Bukan karena spot parkir penuh sih, melainkan untuk mencari lokasi dan gazebo yang pas untuk kami bersantai dan menikmati keindahan hutan ini. Mendung yang menyelimuti langit membuat kami sedikit keliling mencari gazebo yang cukup safety, sebab beberapa gazebo yang ada atapnya sudah bolong. Khawatir kalo hujan basah, secara eike bawa bayi guys.

Begitu dapat gazebo, kami pun melepas lelah sejenak dengan memakan cemilan yang kami bawa. Sepetik dua petik cekrek, lalu kami mencoba menyusuri hutan berjalan kaki. Pepohonan yang menjulang tinggi berbaris rapi membuat hutan ini sedap di pandang mata. Tapi bukan tempat wisata zaman now namanya jika tak ada spot selfie. Makanya punti kayu ini pun ikut menawarkan beberap latar kece untuk cekrek-cekrek.


pose jatuh cinta :-)



Selain wisatawan, ternyata punti kayu ini sering juga dijadikan sebagai lokasi prawed. Sayangnya aku tak sempat mengabadikan sepasang calon pengantin yang tengah berpose di atas motor tua di bawah pepohonan tinggi hutan ini. Mereka manut saja melakukan gaya sesuai arahan potografer. OK sih untuk posenya, tapi saya tidak merekomendasikan lho para jombloers yang akan menikah melakukan pemotretan prawed ini. Sebab sebelum akad tetap saja si dia bukan mahram. Lagian dari segi efisiensi biaya, prawed ini cukup menjadi beban. Yang paling menyedihkan, begitu undangan dibagikan, orang-orang tak akan mengabadikannya kok. Malah sering berakhir di tong sampah. Kan tragis. Saya memandang sesi prawed ini tak lain hanya soal gengsi semata. *Upss, kok jadi gagal fokus pula tulisan ini ya? Baiklah, kita kembali ke kampung, eh, ke punti kayu maksudnya.
Kami menyusuri segala sudut hutan ini. Ternyata ada beberapa wahana yang turut meramaikan suasana. Ada flying fox buat yang hobi atau berangan-angan terbang dan beberapa wahana outbond.


Ada kebun binatang, wahana bermain anak, dan ada pula spot selfie berlatar luar negeri. Namun yang bikin tak enaknya, semua yang mau dimasuki mesti bayar lagi. Padahal di pintu masuk hutan ini sudah bayar lho ya, termasuk baby pula.


Seperti spot selfi berlatar luar negeri. Itu tak lain adalah replika-replika icon sebuah negara yang di pajang di area poto, yang mana area ini disekat sekelilingnya dengan seng. Dan untuk masuk ke ruang seng ini kamu harus merogoh kocek sepuluh ribu rupiah perorang. Jadi kalo mau poto serombongan keluarga, siap-siap aja dompet cekak. Ya kalo rombongan selusin saja, udah 120 ribu dong ya. Helooowww...zaman sekarang tanpa replika itu pun orang-orang bisa membuat poto dirinya yang berpose di semua negara. Cukup bertandang ke uwak photoshop aja semua beres. Bahkan berpoto gandengan dengan Amir Khan dan Maher Zein pun bisa.

Lain lagi kebun binatang yang kata orang setempat binatang hidupnya hanya segelintir. Harus bayar sepuluh ribu juga untuk masuk ke sini. Wahana bermain anak? Sama aja. Intinya setiap spot yang ada, di pintunya selalu ada label Rp. 10.000/orang.



Nah, ini nih yang bikin saya gak pengen dua kali datang kemari. Terlalu komersil menurut saya. Padahal secara tempat, punti kayu ini sudah sangat menarik lho, mengingat letaknya di tengah kota. Belum lagi pepohonan tinggi yang memberikan kesejukan. Tapi yaaaa gitu, semua serba bayarrrrr.


Lebih maknyos wisata ke Jakabaring yang menyimpan spot wisata yang lebih indah dan menarik. Nantikan ulasan berikutnya, hanya di blog ini.

26 komentar

  1. Waaah asyik juga ya tempatnya. Aku malah suka banget sama hutan. Dulu sewaktu awal tinggal di Batam, hampir tiap minggu kemping di hutan. Hutan sungguhan, bukan hutan wisata. Tapi karena merasa aman nggak ada harimau atau singa kalau di Batam, jadi perasaan bisa tenang.

    Eh beneran itu baby baru lahir pun dihitung 1 orang tiket masuknya? Duh iya sih kebangetan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bisa dicoba nih mbak..di sana yg ada monyet berkeliaran.
      Iya, bener. Baby saya tiga bulan diitung duit masuk 5rb rupiah

      Hapus
  2. ah.....aku suka dengan pose jatuh cintanya....rumantis banget tau mbak. Eh itu si adek lihat ga sih pose jatuh cinta ibu bapaknya ehhehee

    BalasHapus
  3. Enak di sana apalagi pagi monyetnya banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monyetnya ngejar kami kemaren. Atuuuut maak..

      Hapus
  4. Di sana banyak juga spot berfoto. Anak-anak juga suka. Cuma ya capke keliling jalan kaki

    BalasHapus
  5. Cantik-cantik spot fotonya mbak, jadi pengen kesitu..

    BalasHapus
  6. Asik ya kak lokasinya. Nnti kalo ke Palembang pengen dech ksana.. 😄

    BalasHapus
  7. Lumayanlah kalo untuk warga kota yang butuh wisata alam.

    BalasHapus
  8. Kalo ke Palembang, pengen juga ke sini. Selama ini taunya ke Palembang itu jembatan ampera

    BalasHapus
  9. Iya mbak, kalo prewed itu kayaknya cuma ngabisin uang aja & buat kepuasan pribadi hehe. Enaknya malah postwed gitu ya, lebih luwes ajaa karena sudah SAH. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti intan gak udah prewed ya..duit prewednya untuk janjalan hanimun aja. :)

      Hapus
  10. Ciee pose jatuh cinta. wkwkwkwk. lucu-lucu juga wisatanya mbak, pantes aja banyak yang jadiin lokasi ini buat pra-Wedd.

    BalasHapus
  11. Bakal masuk listku kalau ke palembang ntr mbak

    BalasHapus
  12. Asyiknya jalan jalan ke hutaaan 😍 jadi pengen bawa Khalil wisata hutan

    BalasHapus
  13. Ademm, pergi sm keluarga, bawa bekal, cerita2, seru pasti

    BalasHapus
  14. Waah.... bagus ya lokasinya...

    BalasHapus
  15. hampir salfok saya mbak... saya kira 'hutan kayuh putih" ternyata "punti kayu" wkwkw... keren kerennn

    BalasHapus
  16. Ternyata.. Semua bayar. Yah beginilah kenyataan beberapa tempat wisata di Indonesia mbak.

    BalasHapus
  17. Bagus mbak lokasinya. Sayangnya hanya terlalu dikomersilkan ya.

    BalasHapus
  18. Wahh bagus yaa
    Susah ya klo tiap spot bayar huhuuu harusnya bayar masuk aja

    BalasHapus
  19. Boleh juga referensi liburannya, adem ngelihatnya

    BalasHapus