Aku berjalan menuju loket pengambilan obat selepas keluar dari ruang poli ortopedi Rumah Sakit Ummi Bengkulu. Secarik resep dokter ada di genggaman. Sementara hatiku sedikit lebih tenang setelah dokter menjelaskan hasil rontgen tulang lengan kanan anak bungsuku. Aku meminta suami untuk menunggu di mobil saja. Beliau mengangguk sembari mengajak si bungsu kami berjalan menuju pintu keluar.
Begitu sampai di loket, aku menyerahkan resep dokter kepada petugas.
“Ibu mau tunggu obatnya atau dikirim JNE ke rumah?” tanya petugas memberi opsi.
Aku yang baru kali itu berobat ke sana belum begitu paham alur dan segala kondisi di sana. Melihat bangku antrian yang cuma diisi oleh beberapa orang, aku memilih menunggu antrian saja. Tentu menunggu tidak akan lama, batinku.
![]() |
| Bangku kosong. Terlihat yang antre sedikit |
Sambil menunggu, aku menyapa orang yang paling dekat dengan tempat dudukku. Selayaknya di ruang publik, meski gak kenal, obrolan sering terkesan begitu akrab. Saling bertukar kisah dan pengalaman sehingga cukup ampuh mengusir rasa jenuh menunggu. Tapi percayalah, di ruang tunggu rumah sakit, segala cerita yang mengalir akan mengantarkan kita pada rasa syukur yang tak terbilang dan menyadarkan betapa hidup kita jauh lebih baik-baik saja saat ini.
Kegelisahan dan Sedikit Penyesalan
Aku mulai melirik jam dinding. Pukul 16.30 WIB. Itu artinya sudah setengah jam aku mengantre obat. Aku masih tenang karena merasa belum terlalu lama menunggu. Aku kembali melempar senyum pada orang-orang yang baru datang ke bangku antrian sambil sesekali membuka ponsel. Hampir pukul 17, aku mulai gelisah. Kegelisahan ini tidak hanya perkara menunggu dapatnya obat, tetapi juga karena aku belum menunaikan sholat ashar.
Aku mencoba menenangkan diri, namun mataku mulai tak luput memperhatikan gerak gerik petugas. Aku mulai menerka-nerka. Perasaan orang yang mengantre gak begitu banyak tapi kok belum jua kudapatkan obat yang diresepkan. Aku memberanikan diri bertanya pada petugas.
“Maaf ibu, semua poli ambil obatnya di sini. Jadi memang harus sesuai giliran baik obat yang ditunggu maupun obat yang akan diantar oleh kurir JNE”, terang petugas.
Aku menelan ludah. Kukira yang antri itu hanya pasien ortopedi saja. Ternyata semua poli ambil obatnya di loket ini. Pantas saja diriku tak kunjung dipanggil. Yang bikin nyesek, pasien yang menggunakan layanan antar obat langsung ke rumah pun masuk dalam antrian ini. Ya Rabb! Aku mulai merutuki diri sendiri. Coba ambil opsi kirim ke rumah aja tadi, udah bisa pula nyantai dan isirahat di rumah. Tapi mau gimana lagi, ini pengalaman perdana ya kan.
Untuk mengusir kebosanan, aku berdiri dan bergerak sedikit menuju meja kurir JNE yang ada di pojok ruangan ini. Aku membaca bannernya dengan seksama. Dan di sanalah kupahami betapa kehadiran JNE di ruangan ini sangat berarti bagi pasien.
💦Ketika Menunggu Bukan Lagi Pilihan💦
Kerjasama yang dijalin Rumah Sakit Ummi dengan JNE ini merupakan langkah cerdas dalam meningkatkan kualitas layanan pada pasien. Aku sendiri selalu kagum pada orang yang cepat tanggap akan trend dan gaya hidup yang up to date. Seperti yang kita ketahui, kini zamannya serba cepat, kilat, mudah dan praktis. Maka dalam situasi dan kondisi tertentu, menunggu bukan lagi pilihan yang tepat.
Untuk itulah, Rocket Indonesia alias Roki by JNE hadir untuk memanjakan dan mengefisiensi waktu pasien yang ingin segera pulang dan rehat selepas ketemu dokter. Cukup berikan resep ke petugas, konfirmasi bahwa kita mau pakai layanan antar obat ke rumah, berikan alamat lengkap dan bayar sepuluh ribu rupiah saja, lalu pulang. Dan bersiaplah menunggu ketukan salam dari Bang Roki yang membawa harapan hidup bagi pasien yang sedang merindu kesembuhan.
![]() |
| Pojok Roki |
Aku kembali merutuki diri sendiri ketika jarum jam mulai bergerak melewati angka lima. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Untuk mengajukan layanan kirim obat sudah tidak memungkinkan. Air mukaku kian masam ketika suami dan anak bungsu kami kembali ke ruang tunggu dan menyelidik apa musabab aku tak kunjung keluar dari antrean ini. Sementara sholat ashar yang belum tertunai kian menambah keresahan kami.
Aku mencoba bertanya kembali ke petugas. “antrianku masih lama kah mbak?”
“Nggak, Bu. Sekitar 3 nomor lagi. Makanya tadi saya tawarkan antar alamat aja”.
Duh, nyesal jadinya bertanya. Jawabannya kian menohok batinku yang sebetulnya sedang diselimuti kata andai saja.
💦3 Alasan Terbaik Memakai Layanan Roki💦
Segala sesuatu yang hadir dalam hidup bukanlah tanpa alasan. Ia tentu punya peran tersendiri untuk melengkapi sisi lain dari kehidupan. Berbekal gregetnya rasa mengantre obat yang kualami, maka kehadiran layanan antar obat JNE ini menjadi oase yang menyegarkan jiwa. Setidaknya ada 3 alasan besar mengapa sebaiknya kita gunakan saja layanan ini.
1. Efisiensi Waktu
Ini alasan paling terdepan menurutku. Sebab rentang waktu lamanya mengantre tidak bisa diprediksi. Tergantung antrian yang masuk banyak atau tidak. Apalagi jika loket menjadi sentral pengambilan obat seluruh poli seperti di RS. Ummi Bengkulu ini. Maka menggunakan jasa antar Abang Roki ini sangat solutif.
2. Nyaman dan Meringankan Beban Pikiran
Lebay? Nggak. Kenyataannya sebagian besar dari kita udah kepikiran duluan sebelum berobat ke rumah sakit. Kepikiran riwehnya mendaftar, jenuhnya menunggu antrian dokter yang terkadang dokternya sendiri datang terlambat, dan menunggu obat setelah dilakukan pemeriksaan. Namun dengan hadirnya layanan Roki antar obat langsung ke rumah ini setidaknya sudah mengurangi satu daftar kelelahan yang seharusnya dilewati. Usai keluar dari ruang dokter, pasien bisa langsung melenggang pulang setelah memberikan memo resep pada petugas apotek dan farmasi. Istirahat dengan nyaman di rumah, obat tiba dalam waktu yang tidak begitu lama.
3. Keamanan yang Terjamin
Tidak perlu khawatir soal obat yang tidak sampai. Justru obat akan diantar sesuai standar keamanan pengiriman, higienis, dan cepat via jaringan terpercaya JNE. Aku bisa ngomong gini karena beberapa waktu setelah pengalamanku itu, rekan kerjaku cerita kalau dia bawa anaknya berobat ke sana dan pakai jasa layanan antar obat ini. “nyaman dan gak bikin aku repot, say”, ujarnya.
💦Dampak dan Sinergi yang Manusiawi💦
Sejatinya, layanan antar obat dari JNE ini bukan hanya sekedar fasilitas jasa kirim. Lebih dari itu, layanan ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap pasien yang memang membutuhkan perhatian dan pelayanan yang nyaman dan ramah. Di sisi lain, fasilitas ini memberikan dampak yang positif bagi ketiga belah pihak.
• Dampak bagi Rumah Sakit
Fasilitas layanan antar obat ini tentu saja menambah value rumah sakit, sehingga bisa menjadi rumah sakit pilihan dengan segala kemudahan yang ditawarkan.
• Dampak bagi Pasien
Layanan ini sungguh menjadi jembatan kemudahan yang luar biasa terutama bagi pasien lansia, orang tua tunggal dan pekerja yang sibuk. Bagi pasien lansia, ia tak perlu kelelahan menunggu berjam-jam di area rumah sakit. Sementara bagi pasien yang berperan sebagai orang tua tunggal tidak perlu kewalahan menenangkan anak yang mungkin bosan dan rewel saat ikut mengantre. Sedangkan bagi pekerja yang sibuk, layanan ini menjadi dewa penyelamat karena tidak perlu membuang waktu produktif untuk sekedar mendapatkan obat.
• Dampak bagi JNE
Selain turut menjadi wasilah kesembuhan dan ketenangan orang lain, layanan ini berdampak pada meningkatnya customer dan mitra JNE di tanah air. Tentu hal ini mampu menjaga eksistensi bisnis dan perputaran ekonomi masyarakat.
Sama-sama bergerak, mangambil porsi masing-masing sehingga melahirkan sinergi yang saling menguntungkan. Di sisa-sisa kelelahan pasien yang periksa ke rumah sakit, layanan JNE menjadi sebuah uluran tangan yang penuh dengan kepedulian. Serasa dirawat dengan cara yang paling manusiawi.
Saat jarum jam hampir menyentuh angka 17.30, akhirnya aku dipanggil untuk mengambil obat. Dan tau nggak, obat yang diresepkan dokter untuk si bungsu hanya satu botol syrup vitamin tulang tok! Tidak ada obat yang lain. Dan untuk satu obat ini aku harus menghabiskan waktu hampir 2 jam. Sholat ashar telat, masak untuk berbuka puasa pun tak jadi. Sungguh pengalaman yang tak layak diulang lagi. Ke depan, jika harus berurusan dengan rumah sakit itu lagi, aku tak ingin melewatkan fasilitas antar obat yang cukup istimewa ini. Tobat nunggu antrean.
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita
![]() |
| Aku yany mulai jenuh menunggu |






Tidak ada komentar
Posting Komentar