Minggu, 06 Agustus 2017

Lingkaran Gosip


Selama ini, hampir semua manusia sepakat bahwa aktivitas menggosip adalah milik ibu-ibu. Seakan ada fatwa yang tak terbantahkan bahwa di mana ada ibu-ibu, disitu ada gosip. Saya sih tidak begitu mengamini pernyataan ini, tidak pula menolaknya. Sebab dari bagian yang banyak itu, masih tersisa sebagian kecil wanita-wanita yang istiqomah menahan diri dan boikot gosip.


Satu hal yang perlu diketahui bahwa pada kenyataannya, gosip bukan saja identik dengan bu ibu, tapi juga bapak-bapak yang bahkan tingkat dan tema gosipnya lebih mengerikan dibanding kaum emak. Jika ibu-ibu biangnya gosip, maka dalam suatu waktu bapak-bapak bahkan jadi eyang buyutnya biang gosip. Dan jika kedai sayur, halaman komplek atau teras rumah jadi sarang gosip ibu, maka bapak-bapak sering buka lapak gosip di warung kopi, di lapak gap, song dan domino, di tempat kerja bahkan di pengajian RT dan mesjid-mesjid. Gak percaya? Survey aja sendiri. sebab saya dan rumah tangga saya sudah pernah dikepoi dan jadi bahan gosip bapak-bapak komplek. Duh, rasanya tuh bapak-bapak mau saya hadiahi saja baju daster bunga-bunga lengkap dengan bando pink yang unyu-unyu.

Ok, well! Saya tidak sedang membahas gender kepemilikian gosip. Karena sejatinya semua manusia berpotensi ‘mengupek’. Saya hanya ingin membahas kenapa gosip dan aib bisa tersebar dan menyebar luas ke kuping-kuping tetangga bahkan teman yang nun tinggal di pulau seberang.

Fitrahnya manusia itu pernah bersalah dan tersalah, pun bermasalah. Maka naluri untuk curhat itu besar, tentu saja mengadu padaNya lebih utama. Karena itu, ketika ada masalah, seseorang cenderung mencari teman tempat berbagi dan merembuk solusi. Biasanya nih ya, setiap akan memulai curhat, kalimat pembuka yang sudah sangat klise adalah “tolong dan janji ya, jangan bilang ke siapa pun. Cukup kita berdua saja yang tau”. Sialnya, si pendengar curhat secepat kilat mengangguk dan meyakinkan bahwa cerita tak kan bocor pada siapa pun, termasuk pada nyamuk-nyamuk yang bertengger di pakaian kotor yang menggantung di balik pintu kamar. Sedang dirinya sebenarnya belum yakin betul bisa amanah atau tidak.

Si kawan pun memulai curhatnya, tak jarang hingga menangis bombay. Begitu curhat usai, si pendengar curhat merasa ada yang nyesek. Sehari-dua hari curhat masih tersimpan rapat. Hari-hari berikutnya dia kian resah. Ingin memberitahu barang seorang saja bahwa si anu ternyata begini dan begitu. Macam kebelet pup, yang jika tidak segera ditunaikan maka semua akan berabe. Akhirnya ketika sedang bersama dengan temannya, ia tumpahkan juga cerita si kawan dengan kalimat pembuka yang sama, “tapi jangan bilang siapa-siapa, kita berdua aja yang tau”.

Manusia mah kebanyakan memang gitu. Perkara mengiyakan itu nomer satu, bahkan kadang lebih cepat dari kedipan mata. Menahan diri itu yang sulit. Akhirnya setiap hari curhat si kawan tadi menyebar dari satu kuping ke kuping lain. Dan tentu saja, tanpa janjian, kalimat pembukanya lagi-lagi sama, “jangan bilang siapa-siapa, kita aja yang tau”, begitu seterusnya. Gara-gara satu kalimat ini, terbuka aib si kawan hingga ke pelosok Zimbabwe sana. Yang gak enaknya, ada aja orang yang menyamar jadi kura-kura dalam perahu. Sehingga saat mendengar gosip itu, ia kepo sedemikian rupa, sekedar untuk memastikan perkembangan. Lalu menambah bumbu cerita sampe sepait jus pare. Abis itu tertawa terbahak-bahak bagai dikelitik jin dari Timur Tengah. Puuuaaaaaass dah..!!

Memang sih saya akui, tidak semua pendengar curhat begitu. Ini mah saya bicara sebagian besar saja. Andai saja semua tunduk dan sadar akan dosa menggunjing, niscaya aib-aib akan terbungkus rapi dalam peti amanah. Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih tempat curhat ya sob, agar aib tetap terjaga. Dan ingat lho, gak semua hal juga harus diceritakan pada orang lain. Apalagi soal domestik rumah tangga. Pada tulisan berikutnya, saya akan coba bagi tips-tips memilih teman curhat, adab-adab pendengar, dan tipe-tipe pendengar. Semua tulisan ini insya allah saya paparkan berdasarkan pengalaman pribadi dan survey yang kadang-kadang tak disengaja. Oh ya, poto yang ada di tulisan ini saya ambil dari gugel ya untuk ilustrasi. 😉Hepi wiken ya, guys..!!

5 komentar: