Tips Menjadi Guru Ngaji Berkelas

Kamis, 07 September 2017


Saat akan memulai tulisan ini, saya teringat sebuah cita-cita mulia seorang sarjana, malah sudah S2 pun kalo saya tidak salah ingat. Tinggi-tinggi sekolah, cita-citanya tetap ingin menjadi guru PAUD dan TK. Sebagian orang awam mencibirnya. Maklumlah, omak-omak kita di kampung-kampungkan kalo sudah sarjana bayangannya ya kerja kantoraran, pake dasi, jas, blezeran, sepatu hak tinggi yang mengkilap, lengkap dengan tas jinjing yang elegan. “Kalo Cuma jadi guru TK mah tamat SMA pun bisa”, begitu pikiran mereka.

Tapi bagi saya, alasan beliau untuk menjadi guru PAUD dan TK ini amatlah langka. Sebuah alasan sederhana memang, tapi sekelas profesor pun belum tentu pernah memikirkannya. Ya! beliau hanya ingin anak-anak bermula belajar Bismillah dari dirinya, sebelum lidahnya terkontaminasi dengan orang lain.

Oh, saya sungguh sangat mengamini alasan mulia ini. Sebagai guru ngaji, sangat banyak memang saya temukan kekeliruan anak-anak dalam membaca (penemuan ini khusus bagi anak-anak yang saya ajar yang sebelumnya pernah belajar dengan orang lain). Sehingga saya harus jumpalitan memperbaikinya. Sialnya, beberapa anak malah mengundurkan diri belajar dari saya karena mereka merasa belajar dengan saya itu susah, terlalu banyak koreksi bacaan. Bahkan membandingkan saya dengan gurunya yang sebelumnya yang tidak banyak tetek bengeknya alias manggut-manggut saja. Alamak oiiii...sakitnya tuh di sini *nunjuk ulu hati*.  Mereka gak tau apa kalo dibanding-bandingkan itu rasanya  bagaikan luka disiram air asam dan garam.

Nah, balik lagi ke soal kekeliruan anak dalam membaca Al-qur’an. Ini bisa terjadi karena telah minimnya guru mengaji yang benar-benar profesional. Kebanyakan hanya mengajarkan bunyi, tanpa menekankan makhraj yang benar. Bahkan sampai pada taraf Alqur’an, tajwid bacaan diabaikan begitu saja. Padahal untuk jangka panjang, kekeliruan dalam membaca ini justru akan menimbulkan mudharat yang tak sepele; yakni kesalahan dalam arti bacaan yang akan berujung dosa.
Sungguh saya tidak merendahkan para guru mengaji yang semacam ini. Hanya saja saya mengharapkan kesadaran untuk tetap belajar jika memang merasa belum begitu fasih. Hilangkan ego klise “saya adalah guru, maka saya lebih tau”. Ya, mungkin lebih tau dari anak-anak itu, tapi dari guru-guru mengaji yang sudah profesional, kita mungkin hanya kulit ari atau sekedar remah-remah bolu manis di toko kue. Sadarilah, bahwa dalam konteks luas, guru dan murid adalah pembelajar, dan sedang sama-sama belajar. Maka tak perlu sungkan mempertajam ilmu demi eksisnya Alqur’an yang mulia. Lagian, tanggung jawab dalam mengajar itu besar lho. Dimensinya ada tiga; tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap orang tua dan anak didik, dan tanggung jawab pada Allah ta’ala.  Jadi sebisa mungkin seorang murid harus diajar dengan ajaran yang benar.


Berikut tips yang bisa saya bagi agar kita sama-sama menjelma menjadi guru mengaji yang berkelas.
 
1.    Sebelum mengajar, pastikan kita sebagai guru sudah fasih terlebih dahulu. Tak harus fasih keseluruhan, bertahap juga tak masalah. Misal, hari ini kita akan mengajarkan huruf د  (dal) sampai ش (syin), maka pastikan kita menyebut huruf-huruf ini sudah benar. Bila belum ngena, carilah orang yang bisa membantu meluruskan penyebutan makhrajnya, baru diajarkan ke anak.

2.    Jadilah guru ngaji yang rewel, yang apabila pelafalan anak salah, maka pengucapannya diulang sampai benar.

3.    Bersikap ‘tega’lah pada anak. Jangan naikkan bacaannya pada baris atau halaman berikutnya sebelum bacaannya beres. Tak masalah sampai seminggu bacaan disitu-situ saja.

4.    Komunikasikan dengan orang tuanya apapun perkembangan anaknya. Jangan lupa minta bantuan orang tuanya di rumah jika anaknya sedikit lebih lamban dalam belajar. Jika tidak bertemu, selipkan saja memo cinta untuk ortu nya si anak. Insya allah si ortu akan paham kok.

5.    Jika kita menjadi guru mengaji perdana bagi si anak, kenalkanlah terlebih dahulu huruf hijaiyah mentah. Alif ba ta tsa jim dan seterusnya. Sebab penomena yang memprihatinkan sekarang adalah banyaknya anak-anak yang tidak mengenal huruf alif, yang mereka tau hanya A. Padahal Alif akan dibaca A jika sudah berharkat fathah. Demikian juga jim dal dzal, mereka hanya bisa menyebutnya ja da dza. Ini sungguh kekeliruan yang sepele tapi fatal. Jika pun bukan menjadi guru perdananya, tetap kenalkan hijaiyah mentah. Don’t miss it!


6.    Ajarkan pula tajwid yang benar. Dan bila mampu serta tiba saatnya, ajarkan anak 7 lagu al-qur’an atau yang lebih dikenal dengan tilawah mujawwad. Atau sekurang-kurangnya ajarkan bacaan tartil yang lembut.

7.    Jangan pernah sekali pun mematok tarif belajar mengaji. Sebab sejatinya mengajarkan Al-qur’an adalah tanggung jawab setiap muslim. Terima saja seberapa pun di kasih. Kalau tidak dikasih pun jangan ditagih. Cukuplah Allah sebaik-baik pemberi balasan. Yakinlah, orang tua yang pandai menghargai ilmu akan memberikan tarif yang pantas kok untuk guru mengaji anaknya. Apalagi jika beliau sadar bahwa ilmu Al-qur’an itu dibawa mati, maka ia akan memberi bayaran yang sesuai kok. Memang sih yang sadar itu hanya segelintir. Banyak para orang tua yang lebih rela membayar les English and Math anaknya berjuta-juta ketimbang membayar guru ngaji meski hanya sekedar 50 ribu saja. Tapi ya biarkan saja. Tetaplah mengajarkan Alqur’an dengan baik dan benar meski pun dengan dan atau tanpa gaji.


8.    Pasang target jumlah anak didik persemester atau pertahun. Tak perlu menerima anak didik banyak-banyak jika tak terajar dengan baik. Yang ada hanya menambah ribut dan mengurangi keefektifan belajar anak-anak yang lain. Cukup mengajar dengan kapasitas yang kita mampu saja. Ingatkan mekanisme penerimaan siswa tallaqi Syeikh Utsman dalam novel Ayat-Ayat Cinta? Itu inspiratif sekali lho.

9.    Ikhlas dan bersabarlah. Banyak anak banyak macamnya. Maka mengajarlah dengan hati yang tulus. Insya Allah, Allah akan memberi balasan terbaik.

Demikian tips yang bisa saya bagi. Sungguh sharing tips ini bukanlah bermaksud menggurui. Hanya ingin berbagi agar kita melangkah maju bersama. Jika ada ilmu lain dari pembaca, saya dengan hati yang berbinar siap menyerapnya.

Oh ya, tips ini memang dikhususkan bagi para guru mengaji baik di TPQ, di mesjid-mesjid atau pun yang buka pengajian di rumah. Tapi dalam konteks luas, tips ini juga berlaku untuk semua pihak, terlebih para orang tua. Kata Nabi madrasah pertama dan utama itu ibu alias orang tua kan ya? Maka saya berharap tulisan ini memberi manfaat bagi semua muslim dengan segala profesi.

Sampai ketemu pada tulisan berikutnya.







2 komentar:

  1. Terimakasih sdah berbagi tipsny mbak

    BalasHapus
  2. Masama kak Aang. Semoga bisa jadi guru ngaji terbaik buat anaknya nanti ya. :)

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS