Sabtu, 21 Oktober 2017

Dilema Amplop dan Sejatinya Pesta



Melihat grup WA Bobe yang siang ini ngerumpi soal amplop pesta yang katanya di buka depan mata, dibacakan lalu dicatat, yang kemungkinan bikin malu lebih tinggi, saya jadi tergelitik untuk menuliskannya berdasarkan sudut pandnag saya sendiri. kebetulan pulak hari ini saya belum menulis apa pun di blog. So, very much thanks to Bobe yang sudah memantikkan ide menulis saya hari ini.

Mari kita bedah perkara amplop di setiap pesta yang ada sekarang ini. Saya akan mulai dengan sebuah riwayat yang saya baca di buku Muslimah Wedding-Bila Hati Rindu Menikah karya Abu Muhammad Waskito.


Suatu hari Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu menikah dengan seorang wanita Anshor. Beliaumenikahi wanita itu dengan mahar emas seberat biji kurma. Rasulullah mendoakannya dan memerintahkannya mengadakan walimah. Beliau berkata,”Wa Barakallahu laka”. Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing!” Rasulullah sendiri ketika menikah dengan Zainab juga menyebelih seekor kambing. Namun ketika menikah dengan Shafiyyah dari Khaibar, beliau mengadakan walimah dengan kurma, keju dan minyak samin.

Sungguh Rasulullah sangat menganjurkan untuk mengadakan walimah atau bahasa zaman now-nya pesta setelah menyelenggarakan akad nikah. Sebab walimah dalam pernikahan memiliki banyak hikmah, antara lain:

1.    Mengumumkan kepada masyarakat sekitar tentang status pernikahan sepasang pengantin laki-laki dan perempuan.

2.    Mensyukuri nikmat pernikahan dengan cara berbagi kebahagiaan dengan orang lain, baik keluarga, tetangga, teman dan lainnya.

3.    Mengikuti sunnah Nabi dengan melaksanakan walimah.

Sayangnya, kebanyakan manusia sekarang ini kebablasan dalam memaknai pesta. Mereka lebih mengedepankan gengsi ketimbang syari’at. Bahkan terkadang pernikahan terancam batal hanya karena besaran uang antaran tak memenuhi kalkulasi biaya pesta. Padahal tak sedikitpun disyari’atkan kemewahan dalam berpesta, melainkan sesuai dengan kesanggupan saja. Tak perlu me maksakan diri ngutang sana sini demi menutupi gaya hidup yang tak begitu penting. Apalagi berharap untung dalam pesta.

Sadisnya, saat ini ada pula budaya buka amplop langsung saat tamu undangan datang. Alasannya sih karena adat dan supaya tau membalas pemberian orang nanti dikemudian hari. Saya tidak tau sejak kapan kebiasaan membawa amplop ini dimulai. Tapi saya yakin awalnya dahulu orang yang memberikan amplop berniat dengan tulus hanya untuk membantu meringankan tuan rumah tanpa paksaan apalagi intervensi. Namun kian kemari perkara amplop tampaknya bergeser menjadi suatu  kewajiban tidak tertulis yang berujung pada penampakan kesenjangan status sosial. Menyedihkan!

Untuk menyederhanakan kasus ini, kita perlu melisik fungsi kedua belah pihak agar tak terjadi kesenjangan apalagi pergunjingan dikemudian hari.

Pihak Tuan Rumah (Yang Punya Hajat)

Seperti anjuran Nabi tadi bahwa disunnahkan mengadakan walimah setelah akad untuk mengumumkan pasangan pengantin baru dan berbagi kebahagiaan. Sama sekali Nabi tak memberikan tauladan bermewah-mewah. Bahkan dengan kurma dan keju saja pun sudah cukup untuk memeriahkan walimah. Tapi atas nama zaman, tenda, catering dan hiburan berupa organ tunggal sudah menjadi hal wajib dalam mengadakan acara resepsi pernikahan. Sebenarnya sih tidak mengapa selagi si tuan rumah sanggup. Namun sesanggup-sanggupnya tuan rumah, tetap saja perlu memperhatikan kesederhanaan dalam hal apa pun termasuk pesta ini. Bukankah Allah lebih senang sesuatu yang tengah-tengah?

Kemudian, mengundang orang untuk makan-makan itu kan termasuk bagian dari sedekah. Ya lagi-lagi sedekah sesuai kesanggupan. Maka dalil mana yang mensyari’atkan untuk berharap adanya bawaan amplop saat hajatan? Ok, amplop sudah menjadi tradisi. Boleh saja diikuti tapi ingat, sebagai tuan rumah, fungsi awal pesta itu adalah untuk sedekah. Maka jika pun para tamu undangan datang membawa amplop itu bonus dan sesuatu yang layak disyukuri. Sebab bisa jadi itu juga bagian rezeki dari Allah karena telah bersedekah pada orang banyak. Hanya saja jangan sampai amplop ini membawa mudhorat terutama bagi tamu yang berniat hadir. Apalagi sampai digunjing karena mengisi amplop dengan nominal rendah. Lupa ya bahwa sedekah yang baik itu adalah sedekah yang ikhlas tanpa berharap pamrih?

Maka fenomena buka amplop langsung saat tamu datang, dibacakan lalu dicatat saya kira tidak patut dilakukan. “Tapi kan biar tau nanti membalasnya seberapa”. Hey, sedekah itu tak perlu perhitungan matematis. Sebab sang Maha Kaya lebih tau memberikan jumlah balasannya dari pada kita makhluk yang dhoif ini. Kalau pun ada yang mengisi amplop hanya lima ribu, emang harus dibalas lima ribu juga? Kan lebih mulia jika kita membalas dengan yang lebih baik, lima belas ribu misalnya.
“Tapi adat dan tradisi sudah seperti itu”. OK! Lagi-lagi saya katakan tidak mengapa. Tapi kan bisa buka amplopnya nanti saja setelah pesta usai dan tamu undangan berpulangan. Di kampung saya banyak juga perkara mencatat isi amplop ini. Tapi itu dilakukan secara rahasia oleh yang punya hajat. Misalkan pesta hari Minggu, maka buka amplop dan nyatatnya hari Senin atau malam Selasa dibantu sanak saudara terdekat. Kalau buka langsung itu namanya malu-maluin bahkan lebih dari itu, soal keikhlasan si pemberi!

Dan saat buka amplop, tuan rumah perlu memegang adab yang tinggi. Syukuri isi amplop yang banyak maupun yang sedikit, bahkan yang kosong sekali pun. Tak perlu menggunjing dan menghujat habis-habisan. Sebab kita tidak pernah tahu atas alasan apa ia memberi sedikiti bahkan kosong tersebut. Orang hadir saja sudah suatu prestasi yang gemilang. Artinya dia paham kewajiban memenuhi undangan dalam Islam. Coba kalo semua orang malas datang karena malu ngasih amplop dikit, sedang ngisi banyak ia tak sanggup. Bermaknakah pesta, Tuan?

Lagian, bisa jadi ia datang ke pesta Tuan karena memang sedang kelaparan. Demi menutupi malu, dia selipkan saja amplop kosong. Coba Tuan bayangkan, perutnya saja kelaparan, apatah lagi mau mengamplopi Tuan dengan nominal yang gueeedee. Ingat Tuan, orang yang paling utama diundang itu adalah fakir miskin. Bukan orang kaya dan berkasta kerajaan.

“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah di mana orang-orang kaya diundnag makan, sedangkan ornag miskin tidak” (H.R. AlBaihaqi)

Jangan mempersulit diri, Tuan. Kalau berharap untung lebih baik tidak usah pesta. Cukup undang kerabat dekat dan tetangga saja, sajikan jeruk, salak dan air mineral segelas. Urusan beres! Daripada pesta tapi malah mendatangkan gelimang dosa. Untuk urusan membalas amplop orang, niatkan saja setiap ada undangan kita akan hadir dan memberikan yang terbaik. Tak peduli waktu kita pesta dia memberi apa tidak. Sebab belum tentu kita bisa membalas amplop semua orang yang datang itu. Bukankah maut selalu mengintai?

Pihak Tamu Undangan

Merupakan suatu kehormatan jika seseorang mengundang kita dalam acaranya. Dalam Islam, memenuhi undangan adalah kewajiban. Maka jika memang tidak ada alasan yang amat syar’i, pergilah dna penuhilah undangan. Ada pahala berlimpah di sana. Namun sebagai tamu, penuhilah adab-adab yang tinggi.

Pertama, niat yang ikhlas untuk memenuhi undangan. Bukan untuk pamer baju apalagi membandingkan pesta si A dan Si B. Kedua, jangan mencela apa pun dalam pesta. Baik soal pengantinnya maupun soal hidangannya. Ini memang sulit. Tapi segalanya bisa dicoba. Saya pun kadang-kadang latah dan kebablasan. Karena itu saya menuliskan ini agar menjadi alarm dalam diri saya bahwa mencela itu tidak baik. Kan berdosa ngingatin orang sedang kita sendiri tak melakukan. Maka apabila nanti kalian mendengar saya latah mencela di pesta, tolong ingatkan saya dengan cara yang ahsan. Bukankah fungsi kita yang sesama muslim ini slaing mengingatkan dalam kebaikan?

Ketiga, seberapa pun kita bawa amplop atau kado ke pesta, jangan sekali-kali terbersit dihati mengharap balasan dari yang punya pesta. Urusan balas-membalas ini sudah ada Tuannya; Allah Ta’ala. Jadi tak perlu ikut campur dengan itu. Biarkan tangan Allah yang bekerja. Tak perlu cemas selagi Allah diyakini dan dipatri kuat di palung hati. Kalau pun telanjur datang ke pesta yang buka amplop langsung, pede aja lagi dengan isi amplop yang sudah kita sediakan. Wong kita ikhlasnya cuma segitu. Ngapain dipaksakan. Maka jika nanti giliran kita yang pesta dan yang kita datangi dulu tidak datang, tak perlu mengumpat panjang lebar ya. Bak kata Tere Liye, banyak hal di muka bumi ini yang tak perlu penjelasan, cukup penerimaan saja. Jadi jangan tanya “MENGAPA” terlalu dalam dan jauh. Nanti bapernya jadi kebangetan.

Apabila kedua belah pihak ini masing-masing tau fungsinya, maka saya yakin tak kan ada budaya buka amplop langsung itu. Dan tak ada pula kecemasan untuk pergi ke pesta pernikahan. Ingatlah, pemberian orang itu yang paling penting niat dan keikhlasannya.

Jangan mencela amplop yang isinya sedikit, sebab bisa jadi justru yang sedikit itu yang mendatangkan barakah karena pemberinya ikhlas seikhlas-ikhlasnya, tanpa pamrih, tanpa minta belas kasih. Dan jangan membangga-banggakan orang yang isi amplopnya fantastis, sebab bisa jadi ia tak barakah karena yang memberi itu terpaksa dan berat hati. Ia isi sebanyak itu hanya karena mencegah malu dan umpatan si tuan rumah. Maka bijaklah dalam bersikap!

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa membawa manfaat bagi saya khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Sungguh ilmu saya masih cetek. Maka tak ada maksud menggurui. Hanya memenuhi kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga rahmat dan kasih sayang Allah selalu tercurah kepada kita.

Salam,
Lia yang fakir ilmu.


17 komentar:

  1. Waaah mantap mbak langsung jadi tulisan

    BalasHapus
  2. Pernah ada pengalaman spt itu sehingga yg memberi merasa malu padahal dia sanggupnya segitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah..hendaknya sama2 mengerti agar tak terjadi kesenjangan dan rasa tak enak hati.

      Hapus
  3. keknya dikembalikan pada kemampuan kita masing2, tapi ya setiap daerah dan masyarakat punya kesepakatan tak tertulis yang berbeda beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, hanya sj kita diminta bijak menyikapi adat dan adab syari'at sehingga keduanya bisa berpadu tanpa menyakiti siapa pun.

      Hapus
  4. Aku malah kalo bisa pengen pas nikah nanti sederhana aja, gak usah pake organ organan ituu haha. Tapi kayaknya susah ya. Sudah tradisi. Padahal kalo uangnya digunakan untuk modal usaha udah lumayan. Daripada harus hutang sana sini ya kan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya hal ini bisa didiskusikan baik2 dgn org tua. Kalau pun org tua tetap mau organ dll, gpp, sebagai penghormatan pd ortu. Hanya saja tetap dikomunikasikan baik2 agar ortu gak tersinggung dan pesta juga barakah.
      Hindari sebisa mungkin perkara hutang dalam berpesta.

      Hapus
  5. Mbak, tulisannya bagus.. Obrolan di grup bobe pun bisa dijadikan bahan postingan ya.. Hihi ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hu'um mbak anin..tema rumpinya td assoy geboy utk jd tulisan.

      Hapus
  6. hehehheee......amplop amplop, memang ini jadi sesuatu banget kalau pesta mbak, apalagi kalau isinya lagsung dibuka dan disebutin ckckckkcc...semoga zaman segera kembali ke yang benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiiin..jgn gegara amplop g jadi makan daging. Haha

      Hapus
  7. ada lagi yg lebih cantek...gak bawa amplof gak dikasih souvenir..hehe

    BalasHapus
  8. wahh mampir lagi saya mb, tapi saya blm bawa amplop ini wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gpp sering2 mampir. Kami g butuh amplop, yg kami mau isi amplopnya. Hahaha..

      Hapus
  9. waduh kak amplopnya lupa dibawa nih, ikhlaskan ya.. haha. Betul banget nih namun kalau kita ceramahin orang -orang yang telah menganut tradisi adat sejak zaman jaman dahulu kala kalah jago mba. Kita anak kemarin soree katanya

    BalasHapus
  10. Mungkin karena mereka kurang piknik ke majlis ilmu. :)

    BalasHapus