Jumat, 13 Oktober 2017


“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga  ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya” (muttafaq Alaih, H.R. Bukhari no 1474 dan Muslim 1040)

Saya sedang tidak membicarakan para peminta-minta di jalanan, di lampu merah, di gerbang-gerbang kampus, maupun di pasar-pasar. Sebab saya pikir sudah terlalu klise membahas mereka yang sebenarnya kebanyakan masih mampu bekerja, mampu mencari penghidupan tanpa harus menengadah menghinakan diri. Kali ini saya hanya ingin mencurahkan keresahan saya terhadap orang-orang tertentu yang membuat lini kehidupan ini kian memprihatinkan.
Ah ya, sebut saja mereka pengemis elit. Kenapa demikian? Karena sebenarnya mereka tidak pantas untuk meminta-minta kepada siapa pun selain kepada Allah. Pun tidak selayaknya pula mendesak paksa sesuatu yang sebenarnya bukan hak mereka. Tapi entah karena keserakahan, nafsu dunia yang kian merajai jiwa, dan obsesi ingin memiliki segala, sehingga mereka menutup mata hati demi mengejar impian. Tak peduli menginjak orang bawah atau menzholimi si fakir, yang penting perut kenyang dan saldo buncit. Ironisnya, beberapa di antara pengemis elit ini paham pula hukum agama. Bahkan bila dirunut sejarah pendidikannya, tidak disangka ia bisa melakukan hal yang demikian.


Baik guys, agar tidak membingungkan dan terkesan berbelit-belit, saya buatkan saja sebuah ilustrasi untuk kasus ini. Ibaratkan saja ada sebuah lembaga kecil bernama ASAM LAMBUNG yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan beberapa pegawai dan staff yang masih berstatus honorer. Tau sendiri lah kawan betapa memprihatinkannya upah kebanyakan honorer. Suatu waktu, beberapa pegawai diminta melengkapi berkas untuk mendapatkan tunjangan dari sebuah lembaga besar. Tentu dalam beberapa berkas para pegawai membutuhkan tanda tangan ketua. Dengan tangan yang ringan sang ketua membubuhkan tanda tangannya pada lembaran berkas tersebut. Beberapa surat yang dibutuhkan juga di printkan dengan senang hati oleh sekretaris. Sedang si pegawai sudah sumringah walau tunjangan itu belum tau kapan cairnya. Yang pasti ia sudah melambung harapan untuk bisa memberi tambahan penghasilan pada anak istri di rumah. Mungkin juga ia sudah gembira akan bisa mengabulkan keinginan anaknya yang sudah lama ingin makan sepotong chicken crispy di sebuah foodcourt.

Hari yang begitu cepat berganti membuat si pegawai bahagia lahir batin saat mendengar tunjangan yang beberapa bulan lalu diajukan telah mendarat manis di rekening. Begitu ditarik, kiranya tangan yang tengadah telah mengantri membabi buta. Mulai dari pegawai lembaga besar yang mengurus pencairan, ketua lembaga tempat si pegawai bekerja, bahkan sekretaris yang hanya memprintkan selembar surat pun turut minta bagian, meski sekedar nasi bungkus lima belas ribuan. Padahal jika dirunut, tanda tangan dan perkara cetak mencetak surat itu memang sudah tugas mereka, dan untuk tugas itulah mereka digaji. Lagian, jumlah tunjangan yang diterima si pegawai honor itu pun jauh lebih kecil dari gaji mereka setiap bulan. Tapi masih saja tega meminta jatah hanya karena merasa turut andil membantu. Oh...., sungguh mereka paham sekali soal balasan mempermudah urusan orang lain dengan tulus, tanpa pamrih. Tapi entah setan apa yang bertengger di hati sehingga mereka rela meminta-minta bahkan terkesan memaksa. Mengapa saya katakan memaksa? Karena kenyataannya jika tidak diberi, urusan-urusan berikutnya akan dibikin ribet binti njelimet seperti tujuh simpulan benang kusut yang mesti diurai. Alahooyy...kemanakah hati nurani?

Saya pernah membahas perkara ini dengan suami, karena dada saya sesak melihat urusan di beberapa lembaga yang model begini. Untuk hal ini saya sangat berterima kasih pada Abang Sunardi yang rela jadi tumbal kekesalan saya. Bayangkan saja, saya bercerita kepadanya itu dengan nada yang oktafnya makin lama makin naik, sambil ngedumel dan mengomel. Seakan-akan dialah tersangka yang sedang saya buru habis-habisan. Hehe..Ah, maafkan istrimu yang cerewet ini, Bang!
Apa jawab si suami?

“Kebanyakan manusia memang begitu, Dek. Suka menakar rezeki orang lain, sedang rezeki sendiri lupa mensyukurinya. Banyak yang tidak rela jika orang lain menerima lebih, padahal belum tentu juga lebih dari apa yang mereka terima”.

Sampai di sini, makin bertambah kurasa kadar cintaku pada Abang ini. Jika ada emas yang lebih dari 24 karat, mungkin seperti itu pulalah takaran pertambahan cintaku untuknya. Terkagum-kagum kali aku soalnya dengan jawabannya itu. Aku saja tak pernah berpikir begitu.

“Makanya, kalau tau rasanya digituin orang, jangan sekali-kali kita yang begitu. Kalau membantu ya membantu, ikhlas! Allah tidak tidur, Dia lebih tau apa dan kapan membalasnya. Dan satu lagi, kurangi minta traktiran pada siapa pun, juga minta oleh-oleh pada orang yang bepergian. Sebab meminta trantiran dan oleh-oleh itu merupakan bagian kecil dari kasus yang Dekya ceritakan tadi”, katanya tegas.
Oooopp, tersedak aku bah! Dulu memang sering kali aku meminta-minta begituan sama orang. Bahkan kalo belum ditraktir itu terus yang kutuntut. Tapi belakangan sudah kukurang-kurangi karena membaca tausiah di medsos soal ini, ya walau pun sesekali masih latah juga mulutku ini minta oleh-oleh pada teman dekat atau saudara yang janjalan ke dalam maupun luar negeri.

Setelah kukaji-kaji, ia pulak. Meminta traktiran dan oleh-oleh itu bikin beban orang lain. belum tentu orang bepergian itu karena banyak duitnya. Bisa jadi ia dapat hadiah, diongkosi sodara, dll. Begitu juga dengan traktiran. Apa yang didapat orang lain itu belum tentu jadi berlebih baginya, bisa jadi rejeki yang tidak disangka itu cara Allah membantunya dalam melunasi biaya rawat ibunya di rumah sakit, atau melunaskan hutang keluarga yang tak kunjung usai bertahun-tahun. Jadi, cukup doakan saja keselamatan bagi orang yang bepergian, dan berbahagia dengan apa yang diperoleh orang lain. niscaya hati dan hidup akan nyaman dan tentram.

Mulai sekarang, yuk sama-sama belajar untuk lebih banyak bersyukur dengan apa yang diberikan Allah untuk kita sendiri dan keluarga. Tak pelu menakar dan mengkaji rezeki orang lain. kesannya jadi seolah-olah tidak ridho dengan ketentuan Allah. Jika memang pada rezeki ornag lain itu ada hak kita, tanpa diminta pun ia akan datang sendiri, tentu dengan cara Allah yang lebih menakjubkan. Bukankah Allah yang maha menggerakkan hati?

Lagian, bukankah lebih mulia tangan di atas dari pada tangan di bawah? Maka belajarlah bermental kaya dan dermawan, bukan bermental miskin dan dan menjadi pengemis.

Salam Jum’at!




5 komentar

Hidup mrmang harus selalu bersyukur. Bersyukur apa yg kita miliki yg belum di miliki ya berusaha dg iktiar.. Mantap motivasinya

Bner bnget mbk, mira juga sring mengalmi hal sperti itu. Dmn2 bnyk yg pd mw feeny.

Kita emng dtuntut bersyukur n bersbr.

Ya..belajar merasa cukup memang susah. Tp segalanya bisa dicoba kan ya..

Dan penulis buku adalah salah satu yang sering berhadapan dengan peminta-minta elite ini. :-D

Pengalaman ya mbak..semiga mereka segera tobat



Konversi Kode