Search

Halingling

Coba bayangkan jika saat berbelanja leher tercekat dan terpaksa nelan ludah liat bandrol harga yang melangit, tiba-tiba seseorang dengan baik hati datang menawarkan diri jadi bandar, atau paling tidak nawari diskon gede-gedean, serasa surga gak tuh toko? :D

Itulah Halingling. Gadis Cina yang tanpa pamrih jadi peri penyelamat dompet saya yang sesungguhnya lagi cekak, tapi kepedean belanja. Dengan alasan perpisahan, maka hari itu, Minggu 25 Agustus 2013 saya nobatkan sebagai hari memuaskan diri berbelanja di kota yang sudah 7 tahun memberi pelangi di hidup saya, ditemani seorang teman yang cakep tentunya. :-)

Dari sekian banyak pusat perbelanjaan, kami memilih berlabuh di salah satu pusat toko yang khususon memasok beragam gaun muslimah nan modis namun tetap syar'i. Rasanya pengen saya borong setengah dari isi toko itu, cantik-cantik kali pulak. Apalagi saat saya coba, serasa diri bagai bidadari bermata jeli yang tiada duanya. *hasyaaah!!* Tapi cemanalah, isi dompet pun terlalu memprihatinkan. 

Di toko inilah saya ketemu Halingling. Dia salah seorang karyawan toko busana muslimah yang digandrungi akhwat-akhwat kampus kota ini. Sambil memegang baju incaran, saya iseng nanya ada diskon atau tidak. Padahal saya tau diskon berlaku hanya pada pelanggan yang punya kartu. Sementara saya tak punya itu. Maka tanpa dijawab pun saya sebenarnya sudah tau. Tapi, yaaa....namanya sedang ingin jadi kura-kura dalam perahu. hihihi.

"Gak ada, Kak." jawab Halingling sambil tersenyum ramah lingkungan. *nah, kan*

Saya pun melanjutkan penyisiran. Sadar diri, saya berniat membeli satu saja. Bisa tumpur kalo saya menurutkan nafsu semata. *konyol kan ya jika saya sampe gadaikan STNK demi baju-baju yang bergelantungan tanpa dosa itu* :-)

Entah sebab cakep atau aura muka saya yang terlalu baik, *ehemmm*  tiba-tiba Halingling menghampiri.
"Rumah kakak di mana?".
"Jauh, Dek. Di luar Medan. Kenapa?"
"Gak, kalo dekat biar In aja nanti yang ke cashier. Sebab kalo karyawan yang beli dapet diskon 30%. Jadi kak gak ngabisin banyak uang. Barangnya biar In yang antar".
"Serius?" mata saya kian melek.
"Iya, Kak. Serius. bla bla bla bla...

Akhirnya saya yang tadinya sadar diri menjadi lupa diri, nyomot dua blus kaos dan dua jilbab sorong. Dan tentu saja saya makin greget berkenalan dengan Halingling. *Maklumlah, naluri SKSD saya masih kuat merekat* :-).  Dia gadis berkulit susu perpaduan Padang-Cina. Ayahnya yang sejak bujang jadi muallaf menyunting ibunya yang berdarah minang. Terlahirlah ia dengan tampang Cina yang mendominasi.

Semacam ada ion yang tarik menarik diantara kami, tak ada kecanggungan sama sekali. Besoknya, Senin (tepatnya siang tadi) saat saya mengambil barangnya, kok rasanya kian mesra ya, seakan kami adalah teman yang telah lama akrab. Bahkan seusai pertemuan itu, ia mengirim sms, "Kak, kalo nanti sudah beranjak dari Medan, jangan lupain Iin ya".

Ah, Halingling...kau adalah anugerah terbaru yang dikirim Tuhan untukku. Mungkin sekaligus kado menuju peraduan baru. Semoga Allah mengikat hati kita dalam ukhuwah. *Weddeww, jadi pengen baca mahakarya Ust. Salim A Fillah, Dalam Dekapan ukhuwah*

Terakhir, biar terkesan agak bijak dikit, biarkan saya menarik benang merah tulisan ini. Bahwa jadilah pribadi yang ramah, membuka diri pada orang-orang baru agar punya banyak teman, Jalinlah silaturrahmi agar beranak pinak sumber rezeki dan panjang umur. Udah, sekian saja! :D


#teruntuk gadis Cina yang baik hatinya, Ririn Halingling.
  Semoga masa membawamu pada kekaffahan, menjadi wanita yang hatinya takut pada Rabbul 'izzati.


Tidak ada komentar

Posting Komentar