Bentuk Keterlibatan Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Konsep penyerahan pendidikan anak sepenuhnya ke sekolah saat ini sudah tidak berlaku lagi. Sebab sejatinya pendidikan yang diselenggarakan di lembaga dan institusi pendidikan haruslah berkesinambungan sampai ke rumah dan lingkungan. Pemilihan sekolah yang berbasis internasional, agama dan lainnya hanyalah sekedar ikhtiar. Sedangkan hasil pendidikan itu sendiri akan didapatkan apabila ada kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan keluarga khususnya orang tua peserta didik.

Perlu diketahui bersama bahwa saat ini kita menemukan berbagai macam permasalahan pendidikan terutama bersumber dari peserta didik itu sendiri. Meleknya para siswa terhadap dunia internet dan media sosial membuat sebagian besar jiwa dan mental para siswa terkorosi hal-hal yang negatif,sehingga minat belajarnya menurun. Sebut saja keberanian siswa melawan dan melaporkan guru, membunuh, merampok, kecanduan game, bullying, hingga pelecehan seksual.

sumber: dokumen rumah juara

Hal ini menyebabkan sekolah mesti bekerja lebih keras demi  meluruskan dan menciptakan generasi yang berakhlak dan mengerti akan tanggungjawab hidup dan diri sendiri. Dan ini tidak mungkin terlaksana dengan maksimal jika orang tua tidak terlibat.

Oleh karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, orang tua harus melek dan respon terhadap perkembangan zaman. Kita dituntut untuk menjadi orang tua yang turut kekinian. Ibu tidak hanya berperan sebagai tukang masak, mencuci dan beresin rumah. Ayah juga bukan sekedar mesin ATM berjalan. Ayah dan Ibu merupakan mitra yang harus berkoodinasi dengan baik untuk menghantarkan anak-anaknya menjadi pibadi yang cerdas, tegas, bijaksana dan religius.

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan orang tua sebelum terjun ke dalam dunia pendidikan anak-anaknya:

1. Merubah Mindset


sumber: google

Orang tua perlu merubah pola pikir tentang peran sekolah terhadap tumbuh kembang anaknya. Harus disadari bahwa sekolah bukanlah lembaga mutlak yang bisa merubah anak sepenuhnya dari jahat menjadi baik, dari belum berilmu menjadi pintar gemilang. Semua ini bisa tercapai jika orang tua mau terlibat dalam menindaklanjuti materi ajar yang diberikan di sekolah, baik itu materi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Jadi orang tua dan sekolah adalah mitra, bukan sebagai peran tunggal. Apalagi anak itu adalah amanah dari tuhan. Maka yang paling bertanggungjawab atas pembentukan keseluruhan sifat, watak dan pribadi anak adalah orang tuanya.

2. Melek Teknologi

Seawam-awamnya orang tua, minimal mereka harus mengerti bahwa saat ini ada teknologi yang namanya internet. Setidaknya orang tua harus mencari tau apa itu internet, fungsinya, serta efek yang ditimbulkannya. Akan lebih baik lagi jika orang tua turut mempelajari dunia internet ini secara perlahan namun pasti. Supaya mereka tau bagaimana hubungan anak-anaknya dengan internet.

3. Ikut Kelas Parenting

Jadi orang tua itu juga butuh ilmu. Jangan sesumbar dengan label orang tua yang sudah melekat dalam diri kita, sehingga merasa apa yang kita lakukan terhadap anak semuanya benar.  Kenyataannya, banyak sekali orang tua yang menerapkan pola asuh yang kurang tepat terhadap anak. Sehingga anak-anaknya tumbuh dengan watak yang tidak sesuai harapan. Pun hubungannya dengan orang tua sendiri tidak seharmonis yang diidamkan. Bagi orang tua yang sudah melek dan akrab dengan teknologi internet, apalagi yang sudah punya akun media sosial, sangat mudah sekali mengikuti kelas parenting ini. Terlebih bagi yang tinggal jauh dari perkotaan, kelas parenting ini bisa diikuti melalui whatsapp atau pun kelas online facebook bahkan youtube. Jika tidak punya akun medsos, maka rajin-rajinlah mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku dan orang-orang berilmu di sekitar kita.

Apabila tiga poin ini telah dipahami orang tua dengan baik, maka penyelenggaraan pendidikan anak akan tercipta dengan suasana yang kondusif, nyaman dan menyenangkan. Selain itu, pihak sekolah juga harus memiliki program tersendiri dalam menjalin hubungan baik dengan orang tua dan wali siswa. Misalnya dengan membagikan buku narahubung kepada orang tua, sehingga orang tua bisa mendapat laporan atas setiap perkembangan anaknya. Atau bisa juga memanfaatkan teknologi internet berupa aplikasi yang menghubungkan guru, siswa dan orang tua, seperti program unik yang dibuat oleh SMK Telkom Malang ini, barangkali bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah lain. Hal ini juga berguna untuk mendukung program kemdikbud dalam mewujudkan sekolah sebagai sahabat keluarga, bukan sebaliknya.



Lantas, kapan orang tua harus terjun ke dalam dunia pendidikan anaknya?

1. Saat Memilih Jodoh

Banyak orang yang belum paham bahwa sebenarnya pendidikan anak sudah bisa di mulai saat menentukan pilihan jodoh. Memilih pasangan yang mapan iman, mapan emosi serta mapan finansial sangat menentukan kualitas keturunan yang akan dihasilkan. Pasangan yang mengedepankan tuhan dalam setiap langkah hidupnya, rajin menimba ilmu dan giat bekerja tentu akan memiliki cara pandang dan pola asuh yang berbeda dengan orang yang iman dan ilmunya masih kurang.

2. Saat Mengandung


Jangan kira janin yang ada di dalam kandungan itu tidak mendengar apa-apa. Bahkan ia bisa merasakan dan mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya. Pun mampu merespon suara-suara dari luar. Karena itu, ketika hamil sangat dianjurkan memperdengarkan ayat-ayat alqur’an (bagi yang muslim), membacakan cerita, mendengarkan musik dan mengajaknya ngobrol sambil mengelus perut. Bahkan sang ibu bisa juga menceritakan apa saja yang sedang dikerjakannya, mengajaknya terlibat ikut dalam kegiatan domestik ibu. Ini berguna untuk menghidupkan respon syaraf dan kepekaan rasa sang janin. Dan kelak ketika lahir, ia akan terbiasa dengan apa saja yang pernah didengar dan dialaminya dalam kandungan.
sumber: google


3. Saat Lahir

Madrasah pertama seorang anak adalah ibunya. Maka begitu ia lahir, pendidikan selanjutnya bisa dimulai. Ajarkan anak berdoa sebelum menyusui atau menjawab sapaan orang-orang sekitar. Percayalah, meski ia belum bisa menirukan apa yang kita ucapkan, tetapi ia bisa memahami dengan hatinya. Sehingga hal-hal baik yang sering kita ajarkan akan menjadi kebiasaannya kelak. Jadi, hilangkan pikiran bahwa bayi itu belum paham dan mengerti akan sesuatu.

4. Saat Mulai Sekolah

Ini fase di mana orang tua akan menghadapi banyak tantangan. Misalnya saja minat belajar anak yang kurang, kondisi lingkungan yang membuatnya lebih banyak bermain, dan lain sebagainya. Maka untuk menyikapi ini, orang tua harus sedini mungkin membuat aturan yang disepakati bersama anak. Ini berguna untuk mengajarkan anak akan pentingnya kedisiplinan dan ketekunan dalam hidup.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menunjang kenyamanan proses pendidikan anaknya.

1. Membuat jadwal kegiatan harian


Jadwal bisa dibuat mulai dari jam bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari.

2. Tidak memberikan gadget sebelum usianya 14 tahun.

Ini memang sulit, tapi segalanya bisa dicoba. Apalagi zaman sekarang banyak orang tua yang memberikan gadget tanpa pengawasan asal anaknya tidak menangis. Ini sebenarnya prinsip yang keliru. Orang tua harus belajar bagaimana bisa mengalihkan perhatian dan ketergantungan anaknya dari gadget. Sebab ketergantungan pada gadget dapat merusak otak anak dan anti sosial di dunia nyata.

3. Membelikan mainan edukatif, bermain tradisional dan buku


Sekarang ini telah banyak berseliweran mainan edukatif yang bisa membuat anak asyik bermain sambil belajar. Memang harganya lumayan mahal. Tapi bila niat di hati untuk membaikkan anak, maka akan selalu ada jalan untuk membelikan berbagai macam mainan edukatif tersebut. Ada pula berbagai macam permainan tradisional yang mengasyikkan. Jadi orang tua bisa mengajak anak untuk bermain bersama.


Demikian juga dengan buku, sedini mungkin kenalkan dan dekatkan anak dengan buku-buku yang bergizi. Bila hatinya sudah duluan jatuh cinta pada buku, maka gadget dan benda lain akan menjadi nomor dua dalam hidupnya.

4. Mengawasi hubungan anak dengan internet

Dunia internet memang sudah tidak bisa dipisahkan dari anak. Apalagi kegiatan pembelajaran pun sudah sering melibatkan teknologi ini. Hanya saja, orang tua harus terus menerus menjelaskan pada anak sisi baik dan buruknya internet. Sehingga anak bisa memilah mana yang semestinya ia buka dan mana yang tidak. Dan untuk urusan kuota, orang tua juga bisa menentukan limit kuota yang ia belikan untuk anak perbulan. Sehingga anak juga bisa belajar mengelola amanah dengan baik.

5. Tidak menonton TV ketika anak belajar

Ini sering sekali terjadi. Orang tua menyuruh anak belajar, tetapi ia sendiri asyik menonton sinetron favoritnya. Jadi jika anak meniru, jangan salahkan anaknya. Sebab ia hanya mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.

6. Memberikan perhatian, pelukan dan kasih sayang yang maksimal


Ini tidak bisa disepelekan. Anak yang mendapat perhatian penuh dan kasih sayang yang maksimal akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Ia akan menularkan kasih sayang yang didapatkannya kepada orang lain.

7. Tidak menghukum berat dan berkata terlalu kasar atas setiap kesalahannya


Karena hal ini dapat mempengaruhi psikologi anak hingga ia dewasa kelak. Apabila anak sering dibentak, dikasari, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang keras pula, pendendam, serta pembangkang.


8. Memberikan penghargaan atas apa pun pencapaiannya

Tidak mesti ranking satu di kelas. Ia dengan ikhlas menolong kawannya yang kesulitan pun perlu diapresiasi. Atau hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya pun amat layak mendapat penghargaan dari ayah ibunya.

9. Teruslah mendoakan dan meridhoinya


Ini poin terpenting yang tidak bisa dilupakan. Sebab ridho Allah itu bergantung pada ridho orang tua. Maka ridhoilah anak dengan ridho yang paripurna. Sebutlah namanya dalam setiap do’a. Agar langkah dan hidupnya selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah.

Sungguh orang tua tidak bisa berlepas tangan begitu saja soal pendidikan anaknya. Baik pra maupun sesudah sekolah, orang tua harus terlibat penuh membantu proses belajar anaknya demi mencapai keberhasilan pendidikan yang maksimal.


Semoga poin-poin yang saya paparkan ini bisa membantu para orang tua untuk menambah ilmu, terutama bagi diri saya sendiri. #sahabatkeluarga

21 komentar

  1. Banyak tantangan ketika memutuskan jadi orangtua ya mba. Bukan sekedar bisa ngasih uang jajan aja, tapi sooooo kompleks. Jadi emang persiapannya nda boleh main-main. Punya anak bukan ajang uji coba :)

    BalasHapus
  2. Kompleks juga ya ternyata. Gak bisa bayangin kalau jadi orangtua nanti. Semoga dimudahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin..segalanya bisa dicoba. Jgn takut maju merubah status jd ortu

      Hapus
  3. Saling mengingatkan ya dek, tegur Abah bila salah agar tidak terjadi kesalahan dalam mendidik Ney.

    BalasHapus
  4. Memang perlu bangat kita sebagai orang tua ikut andil secra aktif dalam pendidikan anak, jangan lepas tangan aja dengan guru di sekolah. banyak hal yang bisa kita persiapkan dan lakukan y mbk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mir..persiapannya kurang terus perasaan. Semakin membaca dan belajar, makin banyak kurangnya

      Hapus
  5. Saya nih sedang belajar. Pas anak mau sekolah. Kayak apa bagusnya lagi belajar terus

    BalasHapus
  6. Ini materi bagus banget, aku pun saat ini masih terus belajar menjadi orangtua yg baik, ga ada orangtua yg sempurna emang

    BalasHapus
  7. Terimakasih ya kak ilmunya.. Bermanfaat skli ini. Aku catet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berbagi berarti mengingat diri sendiri juga nengsih. Kitaama2 catet ya..

      Hapus
  8. Katanya usia emas menentukan semuanya. Yah mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..bener banget. Terutama pendidikan karakter, harus dimulai sejak mengandung

      Hapus
  9. Materi parenting bermanfaat untuk anak-anak. Menjadi orang tua yang terbaik bagi anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rugi rasanya kalo gak pernah sama sekali ikut kelas parenting

      Hapus
  10. Dalam Al-Quran pun demikian dijelaskan mbak.. semuanya dimulai dari proses memilih, kemudian menafkahi, setelah lahir mencarikan guru. Dan yang lebih penting lagi orang tua adalah madrasah pertama anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Islam itu memang sempurna. Semua ranah kehidupan diatur sebaik mungkin.

      Hapus
  11. Wew... Materi parenting lagi....

    Kalau aku sih, berhubung kalau mau dan jadi orang tua itu gak ada sekolah yang ngeluarkan ijazahnya... Maka ya mau dan jadi orangtua itu sekolahnya seumur hidup.

    Yg udah lama jadi orang tua pun ttp perlu terus belajar, karena zaman anak kuta hidup terus berubah

    BalasHapus