Pengalaman Mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2019


Anugerah Pewarta Astra 2019

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Hanya syukur yang terucap ketika aku menerima sebuah email dari panitia Anugerah Pewarta Astra 2019. Bersama email tersebut aku diminta mengirimkan 3 item kelengkapan administrasi sebagai calon pemenang. Allahu Akbar! Baru dinyatakan sebagai calon saja hatiku sudah basah. Tiada menyangka akhirnya tulisan Pemuda-Pemuda Peduli Sidat yang kurajut mampu mencuri hati dewan juri. Dan seminggu sesudahnya, Kamis, 12 Maret 2020 aku dinyatakan sebagai pemenang favorit melalui channel youtube SATU Indonesia (Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia) yang ditayangkan secara live.

Aku kembali memuji kebesaran Tuhan yang maha kuasa. Sungguh kalau bukan karenaNya, aku tidak bisa apa-apa. Terus terang aku menginginkan juara 1 sebenarnya. Hadiah berupa mobil Ayla lah yang menjadi motifnya. Sungguh alasan dan keinginan yang manusiawi sekali. Namun saat harus menerima kenyataan sebagai juara favorit pun, tetap saja rongga dadaku sesak oleh syukur yang tiada tara. Yakin gak kecewa? Sebagai manusia, pasti rasa kecewa itu ada. Tapi porsinya kecil sekali. Sebab aku juga tau diri. Betapa hebat dan bagus-bagusnya tulisan para peserta yang ada. Bahkan aku baru menyadari sesuatu; tentang NIAT!

“Innamal a’malu binniyat” (Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat)

Sudah kuakui bahwa aku mengikuti lomba ini karena ingin meraih sebuah Ayla. Lupa bahwa semestinya niat menulis itu yang utama adalah menyampaikan kebaikan, menyuarakan kebenaran yang dengannya keridhoan Allah lah yang diharapkan. Sehingga tulisan itu nantinya akan sampai ke hati orang-orang yang membacanya dan menjadi wawasan baru bagi mereka. Sedang Ayla? Bisa diletakkan pada niat kedua. Andai niat menyampaikan kebaikan itu terus tertanam dan menancap dalam di palung hati, tentu saja tidak akan ada rasa kecewa yang berarti. Kemenangan adalah bonus, sedangkan kemenangan sejati telah diraih.

Balik lagi ke juara favorit. Sungguh bagiku ini sudah merupakan suatu pencapaian yang besar. Setidaknya ada tiga alasan untuk itu.

Pertama, tulisan yang diminta dalam lomba ini adalah tulisan feature (in deep news) dengan mengangkat kisah inspiratif dari Kampung Berseri Astra dan penerima SATU Indonesia Award yang tersebar di tanah air. Sedangkan aku sendiri seumur-umur tidak pernah menulis feature bahkan tidak mengerti sama sekali apa dan bagaimana itu feature. Karena itu, aku berterima kasih sekali kepada Bang Truly Octo Purba, seorang jurnalis tribun Medan yang dengan tulusnya mengajariku all about feature.  Bahkan beliau memberi penjelasan yang detail beserta contoh-contoh sehingga aku mudah memahaminya. Berbekal ilmu turunan Bang Truly ini aku memulai misi. 

Kucoba menghubungi kontak seorang penerima SATU Indonesia Award yang dari Bengkulu, Randi Anom. Namun kontak yang tertera di daftar yang terunggah dalam mekanisme lomba sedikit keliru. Aku jadi salah sambung. Akhirnya mbak Ria Fasha, seorang rekan blogger Bengkulu memberiku alamat akun IG Randi. Untuk ini, aku berterima kasih sekali padamu mbak. Dalam kebingunganku mencari kontak Randi, dirimu datang membawa angin segar.

Setelah berhasil kontak dengan Randi, kuterapkanlah ilmu-ilmu yang sudah diwariskan Bang Truly, sehingga wawancaraku dengan Randi berjalan dengan lancar jaya hingga tertuang ke dalam sebuah tulisan. Jadilah Pemuda-Pemuda Peduli Sidat menjadi tulisan feature pertamaku dalam hidup.

Kedua, kusebut ini pencapaian besar karena aku belum pernah ikut lomba Anugerah Pewarta Astra ini di tahun-tahun sebelumnya.  Bahkan tau kalau ada lomba ini pun tidak. Untuk itu aku berterima kasih lagi kepada seorang blogger handal, kak Arda Sitepu yang telah membagikan link info lomba ini di sebuah WAG. Dengan jurus SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) yang kumiliki, kak Arda beberapa kali kuteror  via WA menanyakan seputar lomba ini. Sebab beliau juga sudah memiliki pengalaman dalam ajang ini. Untunglah beliau sudi menjawab segala tanyaku. Maafkan aku kak kalau aku telah mengganggu waktumu.

Maka ini adalah pengalaman pertamaku bertarung dengar blogger-blogger hebat di luar sana. Sempat ciut juga nyaliku sebenarnya. Tapi aku sudah memutuskan untuk terjun tahun ini. Maka apa pun hasilnya, ini akan menjadi pengalaman berharga dan menjadi sebuah pembelajaran yang tak terlupakan. Dari sang juara aku bisa belajar dimana letak kelemahan tulisanku, sisi apa yang perlu kuhaluskan dan bagian mana yang patut aku luruskan. Meski Ayla menari-nari dalam benakku, tapi rasa sadar diriku pun tetap hidup.

Ketiga, yang ikut dalam lomba ini buanyaaaaak lho pemirsa. Tahun lalu sampai ribuan. Tahun ini bisa saja sama. Maka untuk bisa meraih juara itu persaingan ketat banget. Apalagi yang ikut juga yang sudah pengalaman dan pernah menjuarai lomba itu. Duuuuh, keder guek. Walau bermimpi juara 1, tapi untuk kesitunya bikin deg-degan, sama deg-degannya nunggu lahiran. Nah, saat dapat email jadi calon pemenang, itu deg-degannya lebih akut lagi. Sesaat datang rasa haru, akhirnya tulisanku bisa menyisihkan ratusan bahkan mungkin ribuan peserta. Selain ikhtiar, ini terjadi juga berkat kekuatan do’a. Do’a diri sendiri, pun do’a orang-orang terintim dalam hidup seperti suami dan keluarga. Dalam benak tetap berharap juara 1, namun mental sudah disiapkan dengan penerimaan yang ikhlas mau juara apa dan berapa pun itu.

Tapi mendapatakan email itu sempat membuatku kepo gak ketulungan lho. Bagaimana tidak, inikan pengalaman pertama, sedangkan di web SATU Indonesia itu sudah keluar artikel top 60. Itu artinya yang dapat email ini sebanyak 60 orang juga. Duh, Allah! Sangat jauh berarti to be winner itu. Mulailah kujalankan misi, menghubungi orang-orang yang pernah masuk top artikel di tahun lalu. Trus kuhubungi pula peserta yang masuk top 60 itu yang ternyata dia adalah teman segrup di sebuah WAG. Kutanya dia dapat email apa nggak, katanya nggak. Kutanya lagi yang masuk top artikel taun lalu itu, katanya gak dapat email dan gak juara juga. Cuma sebatas top artikel itu saja.

Jantungku berdesir. Satu kesimpulan bisa kutarik, bahwa ternyata yang mendapatkan email adalah orang-orang yang memang sudah terpilih menjadi juara utama 1 2 3, juara harapan dan juara favorit. Alahai, noraknya aku. Tapi maafkanlah ya woi kenorakanku ini. Sebab bahagia kali kurasa dapat email cinta dari panitia itu. Namun sebelum malam pengumuman itu tiba, keinginan juara 1 itu sudah kukubur. Karena aku dapat bocoran dari kawan yang pernah masuk juara harapan bahwa yang juara 1 2 dan 3 biasanya langsung dapat undangan ke Jakarta. Saya cek email kembali, mana tau ada attach yang belum terbaca. Hasilnya tetap sama. Hanya ada file surat pernyataan, tak ada undangan ke ibu kota. Fix, aku masuk antara juara harapan atau favorit. Tapi suami dan anakku terus saja menggaungkan doa “Ya Allah, semoga mama juara 1 dapat mobil ya Allah”. Ini anakku yang ngomong bikin merinding. Usianya baru 2,4 tahun. Tapi kalau dia sudah berdo’a aku selalu khusyuk mengaminkan. Karena do’a anak-anak itukan peluang makbulnya besar , Mak. Walalu sudah nyata tak ad undangan, kuaminkan saja. Siapa tau ada keajaiban gak ada yang diundang karena corona.

Dan, ouch! Beberapa jam sebelum pengumuman, panitia melayangkan sebuah WA agar jangan sampai ketinggalan menyaksikan pengumuman live nanti malam di channel youtube. Kuambil kesempatan mengorek informasi,

Baik mas. Terima kasih infonya. Sebelumnya, saya ucapkan selamat kepada kawan-kawan jawara yang mungkin sekarang sudah berada di Jakarta
Beberapa detik, notif wa berdering lagi:

Biasanya kita memang ada seremonial offlinenya. Tapi berhubung adanya penyebaran corona, kita memutuskan pengumuman online saja. Jadi tidak ada teman-teman yang diundang ke Jakarta mbak.

Allahu Akbar! Spontan aku mengucapkan kalimat kebesaran ini. Persis seperti dugaanku. Kemenangan namber wan itu menari-nari kembali. Siapa tau ya kan, feeling kedua benar. To be a winner. Tapi mental teteup lho, udah ditempah untuk siap menerima.
Dan saat waktunya tiba, aku membuka channel yang sudah disebarkan panitia via WA siang tadi. Pengumuman dimulai dari lomba foto alhamdulillah sinyal kencang. Namun saat hendak tiba giliran lomba blog yang diumumkan, itu sinyal mendadak hilang. Hilang total. Aku mengangkat HP ke atas mencari sinyal, macam anak kehilangan sinyal di hutan belantara. Tapi tetap saja si sinyal gak nongol. Ya Allah, cobaan kali ya.

Sekitar 2 menit, sinyal timbul kembali, tapi belum 4G. Si youtube pun jadinya muter-muter aja. Sampe akhirnya ada sebuah ucapan selamat di WAG. Aku makin deg-degan.

Juara gimana, Mas?
Lama, aku gak sabar menunggu. Rasa mau lepas sendi-sendiku dibikin penasaran begini. Sedang si channel masih tetap gak jalan.

Akhirnya:

Kategori umumkan ya? juara favorit gitu lho



Alhamdulillah. Seisi rumah riuh.

“Maafkan, Bang, belum bisa meraih 1”, kataku pada suami.

“Juara favorit begini aja abang sudah senang dan bangga dek. Secara peserta bejibun kan ya? Mungkin mobil belum baik untuk kita saat ini”, suamiku ngademin.

Aku mengamini perkataannya. Jauh di lubuk hatiku, aku pun bangga bisa masuk 10 besar ini. FYI, juaranya ada 10 memang, terdiri dari 3 pemenang utama, 2 harapan dan 5 favorit. Aku hanya berharap semoga ini tidak lantas membuatku ujub dan berpongah diri. Ini kutulis hanya untuk merekam jejak, bahwa selama hidup aku pernah meraih sesuatu yang berharga. Agar menjadi motivasi kelak bagi anak-anakku. Ke depan akan banyak lagi tantangan yang patut ditaklukkan. Semoga lebih baik.


12 komentar

  1. Sebuah permulaan yang luar biasa,meski tidak juara 1, bagi keluarga ini sudah kemenangan, semoga tidak patah semangat untuk terus berkarya yang bermanfaat untuk umat. Miss u,.

    BalasHapus
  2. Wow perjalann luar biasa mb.. Sampe nemui narasumber..
    Trmksh sharingnya.. Sy blm ikut Kmrn..blm tahu area sini mana yg jadi binaan astra

    BalasHapus
  3. Allahu Akbar kak, saya baca di setiap alur cerita kakak betapa besar keinginan kakak dengan hal ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan kakak, saya bangga sekali bisa membaca tulisan ini. Teruslah berdoa kak, yakin Allah pasti akan mengabulkannya.

    Untuk juara favorit ini saya ucapan selamat ya baarakallahu Fikum Jamiian, eh titip salam buat di kecil 2,4 tahun yang cerdas, anak pinter Sholih ya

    BalasHapus
  4. Ya Allah.... aku ikut bahagia dan bangga baca artikel ini.
    Aduhaii, luar biasa ya kalau ALLAH berikan rezeki dan kebaikan untuk kitaaa
    Selamaaatt

    BalasHapus
  5. Amazing kak..
    Luar biasa, selamat ya kak..
    Aku jadi terinspirasi ni

    BalasHapus
  6. Waah selamat ya Kak. Pencapaian yang sekarang aja udah keren banget loh. Semoga ga patah semangat, next semoga dapat kesempatan lain lagi yaa Kak.

    BalasHapus
  7. Ini menurut saya sudah keren Mbak Dahlia. masuk 60 besar saja, berarti sudah jadi pemenang, Mbak. Apalagi sampai jadi pemeenang favorit. itu tandanya Mbak Dahlia sudah mampu memikat banyak orang dan mengungguli peserta lainnya. Selamat, Mbak Dahlia.

    BalasHapus
  8. Selamat ya kak atas pencapaiannya, bisa saja ini awal untuk hasil yang lebih besar. Aku percaya tidak ada doa yang tidak dikabulkan, doa anak kakak yang minta mobil mungkin Tuhan kabulkan lain waktu atau diberi rezeki lain yang sesuai dengan kebutuhan

    BalasHapus
  9. Keren lho mbak bisa masuk jadi salah satu pemenang favorit, bangganya luar biasa. Eh itu suaminya pinter banget sih ngademin hatinya istri hehehe.
    Aku juga pasti bakal happy banget kalau denger berita bagus begini apalagi ini kan ajang bergengsi ya kan

    BalasHapus
  10. Mak, aku suka logatnya ini. Udah kaya baca novel Serial Anak Mamak Tere Liye. Hihihi. Keren sekali dirimu Mba bisa tembus dari ribuan peserta. Memang sebaiknya berharap untuk sebar kebaikan saja krn kalo berharap dapetin materi rawan kecewa ya Mak. Akupun belajar sekali dari berkali2 jatuh dalam lomba, hehehehe, sekarang niatnya kalo ikut lomba karena ingin berbagi dan bermanfaat untuk orang

    BalasHapus
  11. Selamat mbak.. Barokallah.. semoga semakin memicu semangat untuk berkarya lebih baik. Kalo saya sendiri sering ikut lomba tapi gak pernah menang hahaha..

    BalasHapus
  12. Wow...suatu prestasi besar masuk 10 besar dan juara favorit, mengalahkah ribuan blogger. Semangat yaaa...Masih banyak kesempatan untuk menulis feature-feature yang lain...

    BalasHapus