Search

6 Faktor Kesuksesan Dalam Berbisnis

 

Faktor Kesuksesan Bisnis

Dear sahabat dahliasiregar.com,

Apa kabar di penghujng September ini? Semoga yang sedang kesulitan segera bertemu kemudahan, yang sakit segera sehat, yang sempit secepatnya lapang, dan yang sedang dalam puncak masalah rumah tangga segera mereda dan harmonis kembali. 

Seberapa besar dampak covid 19 terhadap ekonomi keluarga guys? Kalo aku sih sangat terdampak. Aku sudah ceritakan sebelumnya bagaimana covid membawa suami pada keputusan resign dari pekerjaan yang sudah dilakoninya selama tujuh belas tahun. Kalo belum baca, bisa meluncur ke sini ya. Tidak ada pilihan lain, pasca resign, kami memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan. Usaha yang modalnya tak perlu hutang sana-sini. 

Terus terang aku sama sekali tidak punya bakat apalagi pengalaman dalam berbisnis. Namun dalam situasi terdesak, kekuatan itu datang begitu saja. Mau tak mau, ilmu dalam berbisnis harus kupelajari. Beruntung aku punya beberapa teman yang jauh sebelumnya sudah sukses dalam bisnisnya. Bahkan ada yang sudah bisa menghantarkan orang tuanya ke tanah suci, beli rumah dan mobil cash, serta janjalan ke negara idaman. Jadi aku bisa bebas bertanya pada mereka seputar bisnis, mulai dari tahap awal hingga menuju puncak kejayaan. 

Dari sharing dengan teman-teman tersebut aku bisa menyimpulkan setidaknya ada 5 faktor yang bisa menjadi penentu berhasil tidaknya suatu usaha yang dirintis. 

You Must Be...

1. Punya niat dan tujuan yang jelas

Ah, ini memang fundamental sekali. Niat dan tujuan sangat menentukan maju tidaknya suatu bisnis. Jika niat di awal hanya ingin ikut-ikutan, atau hanya karena tidak tau uangnya mau dikemanain, maka bisa diprediksi kalau bisnisnya nanti akan bertahan seumur jagung. 

Perlu sekali bagi pemula untuk memetakan niat dan tujuan yang jelas. Misal, buka usaha kuliner. Niatnya untuk membantu orang-orang yang sibuk bekerja dan tak punya waktu di dapur, serta memudahkan orang-orang menemukan makanan halal lagi baik, sekaligus membantu mengatasi masalah ekonomi rumah tangga. Jika laki-laki dan berstatus suami,maka niat utamanya adalah untuk memenuhi nafkah anak istri yang sudah jadi kewajiban.

Tujuannya apa? Agar terbebas dari perbuatan meminta-minta, agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan layak, dan bisa menolong ekonomi ummat dengan mempekerjakan masyarakat sekitar. Begitu kira-kira. Ini hanya contoh. Setiap orang tentu punya niat dan tujuan yang berbeda-beda. Maka petakanlah niat dan tujuanmu sebaik mungkin. 

2. Memiliki mindset yang benar

Kebanyakan para pelaku usaha pemula lupa soal kedudukan mindset ini. kebanyakan saat buka usaha langsung mikir untung rugi, laku atau tidaknya. Padahal kata temanku itu, hal yang penting bagi kita yang baru buka usaha adalah mengumumkan kepada khalayak bahwa kita menjual sebuah produk, sebut saja produk A. Setiap hari harus bertambah orang yang tau bahwa kita jualan. itu saja. Soal beli tidaknya orang, itu urusan yang di Atas yang menggerakkan hati calon-calon konsumen untuk beli atau tidak. 

3. Fokus dan konsisten

Ini setali dengan poin 2. Umumkan saja, promosi saja. Jangan sampai baru seminggu jualan dan belum habis dagangan, langsung ganti produk. Baru juga sebulan jualan skincare dan masih sepi pembeli, udah langsung beralih jualan ayam geprek. Terkadang orang lain hanya kepo dulu, intip-intip dulu. Kalo dia melihat kita konsisten dan serius, dia pasti akan tertarik. Aku sudah membuktikannya. Ada beberapa pelanggan skincareku yang tak pernah komen, gak pernah like postingan, tetiba order. Uhuy, senang jiwa raga mamak. 

4. Punya strategi marketing yang sesuai

Ini penting banget untuk meningkatkan kemungkian closing. Teknik marketing harus disesuaikan dengan target market. Misal target marketnya anak sekolah atau kuliah, maka bahasa promosi yang digunakan harus yang up to date. Promosinya juga di medsos, sebab seusia mereka lebih banyak keluyuran di dunia maya. Hehe...

5. Punya catatan keuangan

Nah, ini salah satu kelemahanku banget. Sering teledor soal pemasukan dan pengeluaran. Bahkan pencatatan list barang kadang keteteran. Untung punya suami yang telaten soal ini.  Sebenarnya zaman sekarang urusan keuangan dan pembukuan ini gak ribet lho. Gak nulis manual juga. Manfaatin aja teknologi. Tuh ada software akuntansi yang bisa membantu dan memudahkan segala aktivitas bisnis. Cuma kadang kitanya aja yang gak terbuka dengan teknologi seperti ini. 

6. Upgrade ilmu terus menerus

Bagaimanapun, berbisnis butuh ilmu, dan ilmu selalu berkembang. Jangan sampai kita ketinggalan kereta. Dalami ilmu-ilmu bisnis dari orang yang sudah sukses duluan. Perluas jaringan dengan bergaul dengan orang-orang yang sevisi dengan kita. Mulailah dekati para pebisnis lokal yang sudah berjaya terlebih dahulu, lalu berkenalanlah dengan pebisnis nasional secara perlahan. Gabung komunitas, lalu seraplah ilmu bisnis sebanyak-banyaknya dari para pendahulu kita. 

Itulah beberapa faktor yang bisa kita lakukan untuk menata bisnis dari awal hingga ke titik yang kita , harapkan. Semoga bisa bermanfaat untuk aku, kamu, dan siapapun yang membaca tulisan ini. 

See you...




Tidak ada komentar

Posting Komentar