3 Tahun Pernikahan; Sebuah Perjalanan Awal


Bila pada tahun pertama dan kedua pernikahan catatan ini bertajuk napaktilas, maka pada tahun ketiga ini, sebuah renungan perjalanan rumah tangga menjadi bahasan utama untuk tetap bertahan. Bertahan dengan satu cinta, bertahan dengan segala polemik, pun bertahan dengan lika liku menjadi orang tua.

Bertahan dengan satu cinta.

Suamiku, hingga hari ini belum ada seorang lelaki pun menggantikan posisimu di sanubariku. Kekonyolan pikiranku saat berseragam putih abu-abu itu tidak terbukti. Dulu aku memang merasa heran dengan orang dewasa, apa gak bosan hidup serumah dengan orang yang itu-itu saja? Yang sudah kita ketahui seluruh baik buruk fisik dan sifatnya? Kok bisa sampai tua masih bersama? Sedangkan berteman saja dengan banyak orang kadang ada jenuhnya. Itu dulu. Dulu sekali, suamiku. Bahkan saat memutuskan menikah denganmu pun aku masih gamang dengan pikiranku itu. Bisakah aku setia, tanpa ada rasa jemu saat terus berada di dekatmu?

Maha benar Allah dengan segala firmannya. Setelah kurenung-renungi, pantaslah Allah mengakhiri surat Ar Rum ayat 21 itu dengan kalimat sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Ya, hanya orang-orang yang berpikir yang bisa meresapi betapa dahsyatnya karunia rasa cinta yang ditiupkan Allah ke hati hamba-hambanya. Sehingga ada rasa condong dan nyaman di antara mereka yang telah mengikat janji dengan akad yang suci. Andai saja Allah kosongkan hati manusia dari perasaan cinta dan kasih sayang, mungkin setiap bulan bahkan perdua minggu semua orang ingin ganti pasangan. Widiiiiih, gak kebayang deh.

Dan aku, atas karunia Allah pula lah aku menjadi mabuk dengan cintamu. Kau memang bukan lelaki yang romantis. Tapi sekali waktu kau bisa membuatku melayang ke awan dengan caramu yang tak pernah terduga. Kau juga bukan yang paling tampan yang pernah kutemui. Tapi sifat dan sikapmu dalam keseharian itu mampu membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di muka bumi. Kebaikanmu tak mampu kubayar meski dengan berucap terima kasih seribu malam.

Sesempurna itu kah? Mungkin! Tapi aku tak mau menutup mata bahwa kau pun punya kekurangan. Tenang saja, aku tak akan beberkan di sini semua kekuranganmu itu. sebab itu berarti sama saja aku membuka aibmu yang berujung pada dosa. Namun percayalah, bahwa kekurangan pada dirimu itu tak menyulutkan api cintaku padamu. Sebab kau pun tau sendiri dan bahkan mungkin sudah paham betul seberapa banyak kekurangan istrimu ini.

Satu hal yang mesti kita jaga, kadar CINTA. Kalau mendengar keluhan dan istilah tetua-tetua kita di kampung, semakin lama menikah semakin berkurang pula rasa cinta, bahkan nyaris padam. Semua bakti dan kebersamaan tak lain hanya sekedar simbol belaka, atau sekedar menunaikan kewajiban atas status istri/suami yang masih disandang.

Iiiiihh, aku ngeri mendengarnya. Karena itu, jangan heran jika aku masih saja sering bermanja dan terkadang kekanakan di hadapanmu, memanggilmu dengan sebutan cinta, sayang, bahkan sering menyelipkan kata-kata klise serupa I miss u dan love you di penghujung chat wa kita. Sebab dari buku-buku yang kubaca, salah satu cara menghidupkan cinta ya dengan bersikap begitu.

Semoga kau pun mampu bertahan mencintaiku hingga nafas kedua kita menghela di akhirat.

Bertahan dengan segala polemik

Terus terang sepanjang tiga tahun ini belum ada kurasakan polemik rumah tangga kita yang begitu berat. Baik yang bersumber dari internal diri kita, maupun dari keluarga besar kita. *dan semoga tidak akan terjadi.

Perbedaan pendapat lalu kita berdebat, itu adalah hal yang lumrah. Bukti bahwa kita terlahir dari gen yang berbeda. Pun bukti bahwa dimensi gender kita yang begitu unik. Dan kurasa, semua pasangan pernah berdebat terutama untuk hal-hal yang sebenarnya sepele. Setelah itu suasana normal kembali. Paling yang sering membuatku uring-uringan adalah kalau kau lupa berkabar untuk pulang terlambat, sedikit cuek saat pekerjaan menumpuk dan ada sedikit masalah di kantor, dan saat kau berkata-kata yang tidak biasa di telingaku.

Suamiku, selama ini aku mengenalmu sebagai lelaki yang penuh kelembutan dalam berbicara. Tidak hanya dengan aku, tapi dengan siapapun. Namun ada kalanya nada bicaramu tidak seperti biasanya, dan aku menangkapnya sebagai ungkapan kemarahan, padahal bagimu sama sekali bukan begitu. Suluh emosiku pun berkobar, ujung-ujungnya aku merajuk dan bersikap dingin terhadapmu. Entah karena kau bosan atau sengaja memberiku pelajaran (karena keseringan merajok), belakangan ini kau tak begitu keukeuh membujukku saat rajuk memeluk diriku. Di situ rasanya aku ingin berlari dan teriak sekencang-kencangnya ke mayapada.

Lantas mauku apa? Ya itu, sesalah-salahnya diriku, aku ingin kau mendatangiku, bawa seikat tulip dan sate padang lengkap dengan kerupuk jangeknya, tak lupa secarik memo yang bertuliskan sayang, abang barusan transfer sekian digit. I love you. hahaha.. ini kebangetan kan ya? Iya banget! Gak ah, becanda kok, Cinta. Aku cuma mau kau mengajakku saling minta maaf lalu membujukku dengan caramu yang elegan, yang membuatku klepak klepek kayak ikan nila yang melompat ke darat.

Bang, saat ini yang perlu kita persiapkan adalah kemapanan iman dan kemapanan mental. Kita tidak tau apa yang terjadi ke depan. Silang pendapat dan merajok ringan itu anggaplah simulasi yang tetap harus kita kurangi kehadirannya (bantu aku ya untuk bisa mengendalikan emosi). Jika iman dan mental kita telah punya pondasi yang kuat, maka jika saja ada masalah pelik yang menghampiri, kita mampu menaklukkannya bersama, tanpa harus berpisah jiwa dan raga. Semoga Allah memberi kita kekuatan dan meridhoi setiap langkah yang kita tempuh.

Bertahan dengan lika-liku menjadi orang tua

Ini tantangan terberat kita saat ini. kehadiran buah hati yang kita impikan bukanlah sekedar pelengkap rumah tangga. Di pundak kita terpikul tanggungjawab besar yang akan di pertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Saat anak pertama kita lahir, aku benar-benar mengalami bebiblus yang luar biasa. Menghadapi kenyataan untuk tidak bisa lagi menikmati nyenyaknya tidur malam. Bertarung dengan waktu menyelesaikan tugas rumah dan mengurus anak. Ah, semua itu membuat hati dan pikiran kadang-kadang kurang waras.

Untunglah kutemukan dirimu yang amat ringan tangan membantu segalanya. Kau tak enggan turut bangun malam sekedar ikut menenangkan Nuriye. Bahkan hingga usianya yang beberapa hari lagi satu tahun ini pun kau tak pernah ogah-ogahan mencebokinya, memakaikan bajunya sehabis mandi, menggendongnya keliling komplek dan mengajaknya bermain dengan tawa yang riang. Sesekali kau suapi iya makan dengan sabar. Untuk kesekian kalinya aku merasa meruntung menjadi istrimu.

Istri kurang ajarkah aku? Ouh, tidak! Perkara mengurus anak bukanlah tugas istri semata. Suami dan istri adalah partner yang harus tetap berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik dalam hal pengasuhan anak. Ibu memang madrasah pertama, tetapi ayah adalah kepala sekolah yang paling bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Semua tugas dan pola asuh punya porsinya masing-masing. Asal jangan ada salah satu yang menzholimi. Jangan mentang-mentang suami suka membantu, istri malah kebablasan memanfaatkan tenaga suami, dan sebaliknya.

Kita harus terus menimba ilmu, Sayang. Kita harus menjadi orang tua pembelajar. Saling menguatkan, saling mengingatkan, agar pola asuh kita tidak salah. Sebab kita kan menyesal seumur hidup bila mana tidak saling kompak dan merangkul dalam mendidik anak-anak kita. Semoga Allah mampukan kita menjadi orang tua yang bijak dan adil buat anak-anaknya.

Terakhir, tiada harapan selain semua kebaikan dan keberkahan Allah menyertai perjalanan rumah tangga kita. Genggam erat jemariku untuk kita bersama mencapai mimpi-mipmpi yang kita tulis. Bawa aku terbang menuju cinta yang paling hakiki.


Bengkulu
Kamis, 18 Oktober 2018
Di bawah langit magrib yang dingin.

6 komentar

  1. Aamiin.Semoga Allah terus menuntun dan menjaga kebersamaan kita.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, sudah memasuki tahun ketiga ya. Barakallah sudah melewati berbagai lika-liku pernikahan. Semoga selalu solid hingga nanti ya, Mbak.

    BalasHapus
  3. MasyaAllah wa tabarakallah mbak

    BalasHapus
  4. Keren keren. Betewe barakallah, ya. Semoga tetap langgeng sampai Jannah.

    BalasHapus
  5. Aaamiiin..makasih semuanya manteman. Semoga masing2 rumah tangga kita berkekalan. Yg jomblo segera bertemu jodoh dan langgeng jg hingga surga.

    BalasHapus
  6. Terharu bacanya, semoga sehat, rukun selalu dan bahagia aamiin

    BalasHapus