Membangun Budaya Literasi Pada Balita


“Menjadikan buku sebagai sahabat keluarga”

Kalimat di atas adalah poin ketiga yang saya tuliskan pada bagian visi misi pernikahan di biodata ta’aruf dulu. Harapannya, bila ta’aruf ini nanti berlabuh di pelaminan, sang suami tak perlu kaget kalau istrinya doyan belanja buku. Sejak dulu saya memang kepengen banget punya home library dan ingin mewariskannya ke keturunan saya kelak. Karena itulah saya sampai membuat cap sendiri untuk setiap buku yang saya beli, agar setiap melihat cap itu semangat saya terus tumbuh untuk membangun pustaka pribadi. Dan impian ini akan berjalan mulus bila teman hidup juga turut mendukung.


Begitulah tabiat jodoh, ia adalah cerminan diri. Apa-apa yang saya tuliskan di biodata itu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Banyak kesamaan di antara kami, termasuk soal impian memiliki koleksi buku. Atas dasar beberapa kesamaan itulah akhirnya kami sepakat menikah. Saya mengandung anak pertama setelah lima belas bulan pernikahan. Sejak itu pula saya mulai rajin mempelajari seluk beluk menjadi orang tua. Beruntung kita hidup di zaman millenial ini. Konon katanya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Semua belajar dari pengalaman. Namun sekarang pernyataan itu seakan terbantahkan dengan banyaknya teori-teori parenting di buku-buku, di kelas-kelas whatsapp, di beranda media sosial dan di laman para pakar parenting. Sehingga saya yang tergolong mahmud alias mama muda ini bisa belajar tanpa terbatas ruang dan waktu. Dari teori-teori parenting itu pula saya tau manfaat membacakan buku pada bayi dan balita.

Akhirnya saya menata ulang rencana mengenalkan buku terhadap anak saya. Yang dulunya saya rencanakan saat kelak mereka mulai memasuki usia SD, saya rombak menjadi lebih awal yakni saat mereka masih balita. Aksi ini makin semangat saya terapkan karena pemerintah juga sekarang sedang menggalakkan gerakan literasi nasional di lingkup keluarga, sekolah dan masyarakat.

Berkenalan Dengan Literasi

Sederhananya, literasi itu adalah perkara terbebasnya seseorang dari buta aksara. Jika merujuk pada pernyataan National Institute for Literacy, maka literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat¹. Maka wajarlah kalau saat ini literasi telah menyentuh lini yang lebih luas., bukan lagi perkara baca tulis saja.  Sebagaimana yang tertulis di laman gerakan literasi nasional kemdikbud RI bahwa saat ini ada enam jenis literasi dasar yakni literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya & kewargaan². Tetapi literasi baca tulis tetaplah menjadi prioritas utama sebab tanpa kemampuan membaca dan menulis, literasi yang lain tidak akan bisa terlaksana.

Meskipun ada enam literasi dasar yang dicanangkan, saya baru mengenalkan dua literasi saja dulu kepada anak-anak saya yang masih bayi dan balita, yakni literasi baca tulis dan literasi finansial.



1. Literasi Baca Tulis

Akan tiba masanya anak-anak harus berkutat dengan buku-buku di sekolahnya, bahkan lebih dari 10 tahun. Maka sebelum masa itu tiba, ada baiknya anak-anak ditumbuhkan dulu rasa cintanya terhadap buku, agar kelak mereka dengan senang hati membaca, menelaah, dan menelan semua ilmu di dalam buku tanpa keterpaksaan dan intervensi. Dan masa yang baik untuk menumbuhkan rasa ketertarikan dan cinta terhadap buku adalah saat mereka masih balita.

Begitulah kesimpulan yang bisa saya petik dari kulwap yang saya ikuti. Fakta memang, bahwa sebagian besar anak sekolah sekarang lebih memilih berasyik masyuk dengan gadget dan game online dari pada bermesra dengan buku-buku. Maka untuk meminimalisir keadaan ini, saya sebagai orang tua harus bergiat mendekatkan anak-anak dengan buku, sesegera mungkin. Tidak mudah memang, tapi segalanya bisa dicoba. Berikut tahapan yang saya lalui dalam menghidupkan kegiatan literasi di rumah:

a. Memilih Buku

Untuk bayi dan balita, boardbook adalah pilihan yang tepat agar bukunya awet. Tau sendiri kan ya, anak-anak doyan masukin apa saja ke mulutnya dan belum paham cara membuka lembaran buku yang baik dan benar. Sebab itu kita harus mencari buku yang ramah anak, yang kertasnya tebal alias tak mudah sobek, ujungnya tumpul, dan full color tentunya. Cuma ya itu, harganya memang mahal. Yang satuan harganya di atas seratus ribu semua. Yang paketan? Jutaan guys! Saya sampai harus ikut arisan buku 15 bulan demi membeli sepaket buku anak yang berkualitas itu. It’s Little Abid.

unboxing sesaat setelah Little Abid tiba di rumah
Selain material, konten juga menjadi poin utama yang mesti diperhatikan ya, bun. Konten yang baik adalah konten yang sesuai dengan usia anak, mengandung nilai-nilai luhur, menumbuhkan karakter baik pada anak,  mudah dipahami dan tentu saja tidak mengandung unsur kekerasan dan SARA.

b. Membacakan isi buku

Memasuki usia MPASI, saya mulai membacakan buku pada si sulung. Responnya? Cuek. Dia lebih tertarik pada warna-warna dan gambar di buku itu. Sia-sia? Not at all. Justru itu adalah goals awal. Saat anak mulai memegang buku dan mengusap-ngusap gambar yang ada, itu artinya anak sedang belajar merasakan tekstur dan berkenalan dengan warna. Saya terus saja membaca. Sebab tanpa mereka nyimak pun, akan tetap ada efeknya.

Sebagaimana hasil penelitian Departemen Pediatri, Fakultas Kedoteran New York University pada Mei 2017 lalu mengatakan bahwa membaca buku dengan anak yang dimulai sejak bayi dapat meningkatkan kemampuan mengenal kosakata dan kemampuan membaca hingga empat tahun kemudian, sebelum mereka masuk sekolah dasar³.


Seiring waktu, si sulung mulai tertarik dengan dunia buku. Ia mulai sering pamer kepada saya saat  menirukan gambar-gambar di buku itu, seperti gambar tahapan wudhu’.  Pun mengambil benda yang ia lihat di setiap halaman buku, seperti sepatu, jilbab, bola dan mainan. Ia pun saya hadiahi pelukan, senyuman dan pujian. Mulutnya sekarang mulai nyenyes bicara. Kosa katanya nambah tiap hari. Kadang-kadang bikin saya terkejut terheran-heran, dapat dari mana itu omongan.

Di jelang dua tahun usianya kini, ia sudah mulai sering meminta dibacakan buku-buku yang ada. Harus dia sendiri yang memilih bukunya. Ia khusyuk mendengarkan hingga cerita usai. Yang bikin hati mamak meleleh, saat saya iseng nyalakan TV, dia minta TV nya dimatikan. “mati pipi ma, aca uku aja”. Alahai, akhirnya...

c. Meletakkan buku di tempat yang terjangkau


Saya meletakkan buku-buku anak di rak paling bawah agar mudah diraih tanpa bantuan orang lain. pun sebagian saya taruh di kamar dan di ruangan tempat ia sering bermain. Agar di setiap ruangan yang dihampirinya ia selalu temukan buku. Ini juga berguna untuk membangun mindsetnya bahwa buku itu adalah benda penting, sehingga harus ada membersamai di mana pun berada.

d. Mengajaknya jalan ke toko buku

Mesjid dan toko buku adalah tempat rekreasi utama yang kami rancang untuk anak-anak. Harapannya agar anak-anak kami mencintai Allah dan rasulNya, mejadikan mesjid tempat yang paling menarik di hatinya dari pada wahana bermain dan pusat perbelanjaan, dan menjadikan buku sebagai sahabat karibnya.

Bukan berarti tak boleh mengajak anak ngemall atau pun ke wahana bermain. Ini tetap butuh. Hanya saja frekuensinya harus lebih sedikit. Banyakin ke tempat-tempat bergizi dan menambah wawasan aja.

Janjalan kita @Gramedia Bengkulu. Duh, serius banget bocah
Satu hal yang harus diingat bahwa membelikan bayi dan balita buku bukanlah karena emaknya keranjingan ingin cepat-cepat bikin anaknya pintar membaca, seperti pemikiran awam sebagian orang yang pernah saya dengar. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan feel, menemukan chemistry dan menghidupkan rasa cinta terhadap buku. Sehingga anak-anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang bersahabat dengan buku, kapan pun dan di mana pun ia berada.

2. Literasi Finansial

Miris hati saya melihat anak tetangga yang kalau minta sesuatu gak dituruti nangis histeris, mencak-mencak dan kadang melontarkan kata kotor. Tapi setelah dirunut, semua berakar dari orang tuanya yang sejak awal selalu menuruti keinginanan anaknya, apa pun dan berapa pun uang jajan yang diminta,  yang penting jangan nangis aja. Ini sungguh keliru ya, mak. Anak-anak itu fitrahnya memang nangis. Karena itu cara satu-satunya ia meluapkan emosinya. Tapi bukan berarti kita mesti luluh dengan tangisan mereka. Justru di situlah kesempatan kita mendidik dan mengarahkan mereka ke jalur yang benar.

Maka pendidikan keuangan adalah hal yang tak kalah penting untuk segera diajarkan pada anak. Betapa banyak orang yang hanya mampu menghabiskan uang saja, tanpa tau cara menghasilkan dan mengelola keuangan dengan baik. Dan betapa banyak pula orang yang baru punya gaji segelintir tapi gaya hidup seperti orang tajir melintir.

Saya bahagia sekali ketika bisa berdiskusi online dengan kak Indah Hendrasari, sang penggagas  dan pendiri pengasuhan keuangan dan mandiri finansial yang kini mukim di Medan. Saat ini beliau sering mengisi seminar dengan tema mandiri finansial pada anak demi mengkampanyekan kesadaran keluarga akan pengasuhan keuangan. 

poto saya ambil dari facebook beliau (https://web.facebook.com/indah.hendrasari)

Menurut kak Indah, ada lima tahapan pengasuhan keuangan pada balita. Namun saya sendiri, sebelum menerapkan teori kak Indah ini, terlebih dahulu saya tanamkan mindset pada anak saya sejak usianya 1,5 tahun bahwa Abahnya cari duit bukan untuk jajan, tapi untuk beli susu, biaya sekolah (kelak), dan beli mobil. Seringkan mak, anak-anak kalo ditanya ayahnya kemana, pasti jawabnya kerja cari duit dan duitnya untuk jajan. Sepele memang, tapi bisa fatal mak. Kalo sejak dini anak diberi tahu seperti itu, yang tertanam di kepalanya bahwa setiap ada duit itu ya untuk jajan, jajan dan jajan. Makanya saya tepis ketika ada yang ngajari anak saya begitu. Di rumah saya luruskan bahwa Abahnya kerja cari duit untuk beli kebutuhan penting.

Alhamdulillah efeknya terasa, kalo si sulung minta jajan dan saya gak kasih dengan alasan yang logis, anaknya nerima dan bisa diajak kompromi. Nah, sekarang mari kita kupas 5 tahapan pengasuhan keuangan pada balita versi kak Indah yang bisa kita terapkan.

1. Uang itu untuk beli sesuatu, bukan untuk dimakan

Ini harus kita soundingkan ke anak saat usianya 1 tahun. Bisa juga dibilangin sambil bermain. Karena kita tahu anak seusia itu lagi doyan-doyannya ngunyah apa saja. Makanya kita perlu tanamkan pada anak bahwa uang itu benda berharga yang bisa membeli sesuatu, bukan sesuatu yg bisa dimakan.

2. semua orang membutuhkan uang untuk membeli sesuatu

Saat usia anak memasuki 2,5 tahun, orang tua sudah bisa mengajak anak terlibat langsung dalam transaksi keuangan. Misalnya, mengajak anak melist barang-barang apa saja yang sudah habis dalam kulkas. Kemudian minta ia menuliskan apa saja yang perlu dibeli (walaupun tulisannya cuma corat coret) seperti tomat, sayur, dll. Lalu ajak anak belanja ke warung atau minimart. Biarkan anak mengambil barangnya, memasukannya ke dalam keranjang, lalu membayarnya. Di situ balita akan belajar bahwa ternyata kita butuh uang untuk membeli sesuatu dan juga belajar cara bertransaksi keuangan. Di rumah, emak bisa mendongeng tentang ini. Emak boleh karang sendiri ceritanya atau membelikan buku cerita yang relevan.

Lagi antri di kasir. bocah milih beli buah kesuakaannya, anggur

3. Uang itu didapatkan dengan bekerja


Kalau anaknya sudah berusia 3 tahun, sudah bisa tuh diajak tour profesi. Biar anak tau bahwa ada banyak profesi di dunia ini. Boleh kita bawa ke tempat kita atau tempat pasangan kita bekerja. Atau kalau punya toko bisa juga tuh diajak tongkrongin toko. Kita jelaskan kita ngapain aja seharian, apa tugas-tugasnya. Nanti di rumah bisa kita bahas semenyenangkan mungkin soal profesi ini, dan kita kasih tau bahwa uang bisa didapatkan salah satunya dengan cara bekerja.

4. Melatih skill delay gratification anak

Delay gratification itu adalah sebuah kemampuan agar anak mampu menunda kesenangan sesaat untuk fokus dalam tujuan jangka panjang. Misalnya nih, melatih anak untuk tidak jajan macam-macam saat ini agar uangnya bisa ditabung untuk beli barang yang dibutuhkan seperti mainan kesukaan, sepatu, dll.. Dalam keseharian bisa juga seperti jika sudah dibuat aturan menonton TV hanya sekali dalam seminggu, maka anak hanya boleh meminta TV dinyalakan kembali saat waktu menonton itu tiba. Untuk kemampuan ini dibutuhkan komitmen ya mak. Walaupun anak merengek, menangis, kita harus tetap komit dengan kesepakatan di awal.

Selain itu, agar anak mudah menguasai skill ini, pastikan balita mempunyai jadwal yang teratur. Dengan adanya kepastian, balita bisa mengukur waktu. Misalnya, jika kita biasakan main sepeda usai makan dan mandi sore, maka pastikan anak selalu bisa bersepeda setelah mandi sore. Delay gratification ini adalah sebuah kemampuan berproses, menikmati dan bersabar mengelola diri untuk bisa mencapai tujuan.

5. Ajarkan anak memahami need and want

Pemahaman need and want ini sudah bisa dikenalkan diusia 1 tahun. Untuk itu dibutuhkan aturan prilaku yang jelas. Dengan demikian anak bisa memahami mana yang mereka butuhkan dan apa saja yang bisa ditunda untuk dicapai dan dilakukan. Dalam memahamkan ini pastikan juga kebutuhan dasar anak seperti makan, tidur, perhatian terpenuhi.

Akhirnya, mari kita berkomitmen untuk turut menghidupkan gerakan literasi di lingkup keluarga kecil kita terlebih dahulu. Agar tercipta keluarga dan masyarakat yang melek informasi dan berkemajuan.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Referensi

1) Ibnu Aji Setyawan, https://gurudigital.id/jenis-pengertian-literasi-adalah/amp/
2) Gerakan Literasi Nasional, http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/
3) Wan Ulfa Nur Zuhra, https://tirto.id/memetik-manfaat-dari-memperkenalkan-buku-pada-bayi-cpTZ 

29 komentar

  1. Membiasakan anak mencintai buku memang bukan perkara gampang, namun bukan suatu yang tidak mungkin kan mam, semangat!

    BalasHapus
  2. wahh, saya baru tau tentang skill delay gratification ini. kalo saya biasanya di rumah juga bikin semacam program receh untuk buku kak. jadi kan suka ya kadang kita uang receh tercecer-cecer, itu kita kumpulin dalam satu celengan selama setahun. di akhir tahun, celengannya kita bongkar dan uangnya kita belikan buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga baru rau kk pas ikut kulwapnya kemaren tu. Wah, recehan saya malah di masukin toples utk beli setoran ke mamang sayur. Haha..

      Hapus
  3. Nice insight kak. Keep reading and writing!!!

    BalasHapus
  4. Dari dini memupuk jiwa literasi untuk si kecil heheeh

    BalasHapus
  5. Mksh tulisannya, say. Dpt ilmu baru awak.... Smg beruntung 💖

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitu pula dgn dirimu, semoga berjodoh dgn juri

      Hapus
  6. Anak Teta beruntung nih dari kecik udah terdidik literasi, nanti dah sekolah semoga makin pintar dan berkarakter literat. Salam sukses bermanfaat kak~

    BalasHapus
  7. Setuju banget nih. Anak-anak perlu dipaparkan buku sejak dini. Buat mata mereka terbiasa dengan keberadaan buku. Semoga si kecil nanti besarnya dapat mempengaruhi teman2 sekitarnya untuk membangun budaya literasi seperti di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin..itulah yg diharapkan. Membawa pengaruh baik bagi orang lain.

      Hapus
  8. semangat belajar dan terus mengembangkan diri. Fighting!!

    BalasHapus
  9. Penting banget untuk membuat anak menyukai dunia literasi, karena kedepannya akan sangat mempengaruhi prilaku anak. Itu Menurutku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendapat anda benar, pak.. #prok prok.
      Segera cari calon, lalu terapkan nanti sama anak2nya. ��

      Hapus
  10. Menjaga peradaban masa depan dengan menanamkan budaya literasi pada anak.

    BalasHapus
  11. Keren sekali, sejak dini membiasakan anak dekat dengan buku yang mana membiasakan mereka dengan buku-buku hingga dewasa nnti..

    BalasHapus
  12. Hueee....berbahagialah akak Ney n adeknya (perasaan ku blm tau nama adeknya Ney��)...karena emak n abahnya cerdas literasi.


    Btw...làgi2 ketemu bunda Indah di sini yak...padahal baca blognya orang Bengkulu. Emang bunda Indah ada di mana-mana��.
    Lagi giat2nya literasi keuangan dini ni ya kan. Awak aja yg blm pernah ikut langsung materinya. Eh ada di sini. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, tulah kau gak apdet ama ponakan. Sampe namanya pun gak tau.
      Banyak x lho materinya keuangan anak kk indah itu. Mau kubahas semua tulisan ini aja udah cukup panjang. Mabok pulak orang baca kalo banyak x.

      Hapus
  13. Saya pernah belikan buku buat adik yang masih balita. Cuma pas diajak baca buku dianya lebih suka gambarnya. Memang kita yang harus pandai mengajarkan literasi kepada anak-anak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Respon awal memang begitu mas fadli. Tp itu bukan sia2 lho. Itu adalah goals awal seperti yg saya ceritakan diatas. Lanjutkaaan..

      Hapus
  14. Kalau dikenalkan buku sejak dini, tak begitu sulit mengajaknya membaca buku ketika usia sekolah dasar ya..

    BalasHapus
  15. Mengajarakan anak need and want itu yang susah. Karena tak jarang orang dewasa juga tidak dapat membedakan antara need dan want itu. Mungkin point ini perlu di eksplorasi lebih jauh lagi dalam tulisan lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masukan yg ajiiiib. Saya akan coba ulas lebih lengkap saat dedline beberapa tulisan dan job kelar. Makasih masukannya mas lamuna. Memang benar, kadang orang dewasa jg kebablasan dgn need and want ini

      Hapus
  16. wah, ngajarin anak menunda kesenangan ini masih peer banget sih buat aku hiks, susah banget asli.

    BalasHapus
  17. Waaah, bacaannya Little Abid neh, keren, hehehe. Budaya baca memang harus dimulai dari kecil biar terbiasa.

    BalasHapus