Search

Geliat Ekonomi KBA Lempuing di Tengah Pandemi

KBA Lempuing


Sore itu matahari mulai condong ke barat, berkilau. Memberi kabar bahagia kepada para pecinta sunset. Sebab beberapa hari sebelumnya hujan selalu mengambil posisi. Membuat matahari sore beranjak keperaduan sendirian, tanpa dihantar senyum paling manis para pemujanya. Aku memacu motor sedikit lebih cepat. Sebab janji dengan Pak Roni telah meleset beberapa menit. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, aku pun tiba di mulut gerbang Kampung Berseri Astra Lempuing. Sebuah kampung yang persis berhadapan dengan pantai.

Perkenalkan, Bapak Sahroni yang merupakan ketua RT 17 RW 03 Kel. Lempuing, Kec. Ratu Agung Kota Bengkulu. Selain menjabat sebagai RT, beliau juga merupakan ketua penggerak KBA Lempuing ini. Pak Roni, begitu orang biasa memanggilnya, telah menungguku di beranda rumahnya. Ia menyambut hangat kedatanganku bersama suami dan anak-anak. Tentu saja sebelum bertemu, kami telah berkomunikasi terlebih dahulu via WA. Setelah berkenalan dan berbincang ringan, aku mulai mencecarnya dengan beberapa pertanyaan yang menjadi misi kedatanganku kesana.

Pak Roni dengan senang hati bercerita bagaimana KBA ini menjalani hari-harinya. Sesuai dengan program CSR Astra yang menekankan pada bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program kewirausahaan, KBA Lempuing ini pun memiliki program yang sejalan dengan empat pilar tersebut. Sebut saja dalam bidang pendidikan, terdapat beasiswa bagi siswa di tingkat SD, SMP dan SMA. Sedang dibidang kesehatan KBA Lempuing ini menjalankan rutin kegiatan posyandu. Untuk lingkungan, masyarakat berlomba-lomba menghias rumah mereka dengan tanaman baik hidroponik maupun non hidroponik, mempercantik jalanan dengan memberikan cat warna-warni di kedua bahu jalan, serta memasang lampu-lampu jalan. Sementara di bidang kewirausahaan, KBA ini memiliki pentolan tersendiri. 

Wajah KBA Lempuing

Namun yang lebih memantik ketertarikanku adalah bidang kewirausahaan ini. Karena aku penasaran seperti apakah perkembangan wirausaha di sini di tengah pandemi yang telah memporak-porandakan ekonomi nasional, termasuk suamiku yang juga harus kehilangan pekerjaan. Dari pembicaraan kami, setidaknya ada dua hal menarik yang akan kubahas disini. Akhirnya pak Roni membawaku berkenalan dengan seorang wanita tangguh di kawasan KBA ini. 

đź’¦Mengenal Lebih Dekat Bu Sri Daryantiđź’¦

Dia hanyalah seorang wanita tamat SD yang dengan penuh ikhlas mau diboyong sang suami ke Bengkulu. Menunaikan kodrat perempuan yang harus ikut suami bila tanggung jawab itu telah diambil alih dari tangan sang ayah. Ia tidak kekurangan cinta dari suaminya, pun soal nafkah selalu dicukupkan suami sesuai kemampuannya. Sebagai istri ia tak banyak pinta, agar tak berat beban suami. Namun di satu waktu, tahun 2011 tepatnya, beliau meminta izin kepada suaminya untuk beternak lele. Kebetulan di samping rumahnya ada lahan yang kosong. Waktu itu suaminya tidak mengizinkan. Namun Bu Sri terus meminta agar tak hambar hari-harinya. Agar ada kegiatan yang bisa membawa kebermanfaatan bagi dirinya, keluarga dan orang lain. 

Owner Abon Tuna Lempuing
Aku dan Bu Sri yang sederhana

Akhirnya kolam lele itu pun dibuat. Perempuan kelahiran 20 Desember 1970 ini mulai bergelut dengan lele-lele lincah setelah tunai urusan domestik rumah tangganya setiap hari. Seekor, dua ekor, ratusan, hingga ribuan lele hidup di kolam besutannya. Dan tentu saja lele-lele ini mulai menghasilkan pundi-pundi baginya. Namun suatu hari, sendi-sendi tubuh Bu Sri serasa lumpuh saat menyaksikan ribuan ekor lelenya mati di kolam. Entah sebab apa, yang pasti begitulah takdir menyapanya. Air mata tak terbendung lagi. Berhari-hari ia melamun, mencari-cari musabab lelenya mati. Hingga saat ia meraba-raba jiwanya, ia teringat sesuatu. 

“Mungkin karena di awal suami saya gak ridho mbak. Sedangkan saya masih nekat saja melakukannya. Jadi mungkin ini balasan ketidakpatuhan saya kepada titah suami”, ungkapnya dengan air muka yang sendu. 

Hatiku tersentuh. Bagi perempuan yang sudah menikah, keridhoan suami amatlah penting dalam setiap langkahnya. Sebab ridho suami itu akan menjadi wasilah ridhonya Allah. Ini menjadi peringatan bagiku agar senantiasa tetap taat pada suami selama titah suami tidak bersebrangan dengan aturan agama. 

“Lantas apa langkah ibu selanjutnya?” aku menimpali. 

“Saya vakum beberapa saat sambil berfikir apa langkah saya ke depannya”.

Hingga di tahun 2015, Bank Indonesia mengadakan lomba wirausaha baru. Bu Sri memberanikan diri untuk mendaftar. Setelah diterima menjadi peserta, Bu Sri diberikan tantangan untuk membuat abon. Ahha! Bu Sri menerima tantangan dengan berencana membuat abon ikan tuna. Cocok banget dengan Bengkulu yang memang daerah pantai. Hasil ikannya banyak. 

Bu Sri mulai mencoba membuat abon di rumahnya. Tanpa ada bekal ilmu memasak, apalagi ia juga bukan tergolong perempuan yang hobi memasak, maka apa yang dilakukan Bu Sri ini menurutku terlalu nekat. Sekali coba gagal. Kali kedua gagal lagi. Yang ketiga masih gagal. Ada yang gosong, ada yang kurang rasa. Begitu terus hingga kali ketujuh abonnya baru berhasil. Itu abon ia cicipkan dulu kepada keluarga dan kawan-kawan terdekat sebagai tester. Ketika layak di lidah, ia mulai menjajakan abonnya ke kantor-kantor, tentu saja melalui bantuan teman-temannya yang sudah mencicipi terlebih dahulu. Alhamdulillah, abonnya ternyata berterima di hati orang-orang. 

Saat abonnya akan dihadapkan pada panitia dan juri lomba, nyalinya mulai ciut mengingat saingannya adalah orang-orang yang memang sudah malang melintang di dunia wirausaha, sedang beliau baru memulai. Tapi niat dan kerja keras memang tak pernah menghianati hasil. Dengan segala upaya dan kemampuan ia kerahkan, terlebih saat mempresentasikan hasil abonnya. Hingga akhirnya ia ditetapkan sebagai juara terbaik dua dalam lomba wirausaha baru Bank Indonesia tersebut. 


Selanjutnya, hanya ada hari-hari sibuk Bu Sri memproduksi dan memperluas jangkauan pasarnya. Beruntungnya Bu Sri mendapat banyak bantuan berupa alat dari beberapa badan seperti BNN, BKKBN dan dari dinas perikanan. Alat yang diberi berupa fiber (tempat ikan segar), kompor, tabung gas, dan lain-lain. Saat itu, ada beberapa UKM juga yang sedag merangkak tumbuh. Karena itulah, Lempuing ini terpilih menjadi Kampung Berseri Astra di tahun 2017, yang diresmikan oleh Bu Patriana Sosialinda selaku wakil walikota Bengkulu. Meski pada awalnya, menurut penuturan pak Indra selaku Ketua Grup Astra Bengkulu, Lempuing ini ingin dijadikan sebagai Kampung Berseri Astra Wisata, mengingat letaknya yang strategis dan berhadapan dengan pantai panjang Bengkulu. Namun karena melihat UKM mulai bergeliat di sini, akhirnya Lempuing ini dijadikan KBA produktif. Yang lagi jalan-jalan ke Bengkulu, boleh dong mampir ke sini. 



Kontribusi Astra Terhadap Usaha Rumahan Bu Sri

Seiring dengan terbentuknya Kampung Berseri Astra Lempuing, usaha abon ikan tuna Bu Sri pun semakin berkembang. Permintaan pasar membengkak. Akhirnya beliau memutuskan untuk mempekerjakan orang guna untuk membantunya memproduksi abon. Inilah cita-cita Bu Sri sejak dulu, bisa berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Beliau mengajak tetangganya untuk turut membantu. Mereka diberi Bu Sri upah seratus ribu perhari per orang. Harga yang fantastis menurutku untuk ukuran kerja harian.  Seakan bisa membaca raut wajahku yang keheranan, beliau berkata,

“Saya tidak menamakan itu upah mbak, Dahlia. Saya menganggap usaha abon saya ini juga milik mereka. Milik kita bersama. Sebagai pemilik mereka tentu harus dapat bagian dong. Jadi saya kasih seratus ribu per orang perhari agar mereka juga tetap semangat”.


Masya Allah, pelajaran yang berharga sekali buatku. Nampaknya ibu ini adalah orang yang meyakini bahwa semakin banyak memberi akan semakin banyak pula yang di dapat. 

Belakangan. abon ikan tuna ini tak lagi hanya untuk kalangan teman sejawat atau pun orang kantoran. Bu Sri juga mulai mendistribusikan abonnya ke pusat-pusat oleh-oleh Bengkulu. Astra yang memang terus berupaya berkontribusi terhadap pelaku UKM turut memberikan bantuan kepada Bu Sri berupa kemasan produk. Sehingga produk abon ikan tuna Bu Sri terlihat lebih kece dan semakin elegan. Untuk kemasan 250 gram, abon ikan tuna ini dibandrol seharga enam puluh ribu rupiah. 

Abon Ikan Tuna Bu Sri

Saat ini, bantuan Astra terhadap rumah produksi Bu Sri sedang digodok. Memang kondisi tempat produksinya saat ini masih kurang layak. Sebab lokasi yang dipakai adalah bekas kolam lele yang dulu bermatian. Kita doakan saja renovasi rumah produksi Bu Sri oleh Astra ini segera terealisasi. Agar semakin banyak warga KBA sekitar yang bisa dipekerjakan.

Dapur produksi yang sempat kuabadikan sebelum pulang


Pandemi & Sayap Yang Patah

Sepanjang 2015 hingga 2019, perkembangan usaha abon ikan tuna Bu Sri terus bertumbuh. Omsetnya mencapai 8 juta perbulan. Mungkin angka yang kecil buat usahawan di luar sana. Tapi bagi Bu Sri, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Hingga memasuki awal tahun 2020, sang lelaki jiwa dipanggil sang khalik. Hati Bu Sri hancur berkeping-keping. Belahan jiwa pergi meninggalkan banyak kenangan. Satu sayapnya patah, membuat Bu Sri merasa tak mampu terbang lagi. 

Belum kering luka di hati, pandemi covid menerjang bangsa. Walau tak kasat mata, tapi kehadirannya mampu menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia. Bu Sri tak berniat lagi memasak abon. Ia tenggelam dalam sepi. Menikmati hari-hari sendu bersama anak-anaknya.  Ia lebih sering merenung. Nelangsa. 

Enam bulan lamanya ia bagaikan mati suri. Hingga tersadar bahwa hidup harus tetap berjalan. Bu Sri lantas berniat memulai lagi produksi abonnya. Namun ketika dikaji-kaji, ditambah pandemi pula, penjualan abon dirasa kurang memadai. 

“Kalo dulukan hasil abon hanya untuk saya. Terserah saya mau diapain dan dibelanjain ke mana. Urusan perut saya dan anak-anak ada yang memenuhi. Tapi sekarang gak bisa mbak Dahlia. Saya harus menafkahi diri saya sendiri dan anak-anak. Makanya saya terus berpikir mencari ide apalagi yang harus saya produksi sebagai tambahan”.

Ya Allah, aku bisa banget membayangkan seberapa berat beban dipikulnya. Keluarganya sempat memintanya pulang saja ke Jawa, toh suami yang menjadi alasan tinggal di Bengkulu sudah tidak ada lagi. Tapi ia enggan. Sebab merasa ada tanggung jawab terhadap usaha dan para pekerjanya di sini. Akhirnya Bu Sri bangkit lagi dengan satu varian produk tambahan selain abon. Ialah Bandeng Fresto. 

Bandeng Fresto Buk Sri

Produksi bandeng fresto ini baru dimulainya sekitar 2 bulan yang lalu. Di mana bandeng ini diberi bumbu yang lezat, lalu dikukus di fresto. Setelah itu dipasarkan secara online. Pemasaran dibantu oleh menantunya. Konsumen hanya perlu menggoreng sedikit saja untuk bisa menikmati lezatnya bandeng fresto Bu Sri ini. Aku sendiri berkesempatan mencicipinya sepotong. 

Alahai, benar-benar ladzidz di lidah. Aku sempat menyisihkan tulangnya. Bu Sri lantas menimpali.

“coba dicicip tulangnya, mbak”.

Kugigit perlahan, dan oh, itu tulang lembut dan legit banget. Tidak berasa seperti tulang ikan. Bu Sri tersenyum penuh kemenangan melihatku. 



Menurut Bu Sri, bandeng fresto ini sepertinya lebih menjanjikan dari pada abon yang selama ini digelutinya. Ya walau pun abon masih tetatp diproduksi sih. Jika abon bisa mendatangkan omset hanya 8 juta sebulan, maka bandeng fresto ini bisa meraup omset 5 juta perminggu. Kalikan aja sebulannya dapat berapa. Itu baru online lho. 

Saat ini Bu Sri sedang menyusun rencana untuk mengurus perizinan dan brand bandengnya. Setelah itu mungkin akan siap di pasarkan secara online mau pun offline. Untuk bandeng sendiri dibandrol perekor mulai dari harga 6 ribu hingga 12 ribu rupiah. Harga yang sangat terjangkau untuk kualitas rasa yang seenak ini. Satu hari Bu Sri memproduksi 24 kilo bandeng per hari, dan itu selalu habis. Katanya beliau lagi memesan fresto ukuran 50 kg agar bisa memproduksi lebih banyak lagi bandeng setiap harinya. 

Begitulah tabiat rizki. Ia tak pernah salah alamat. Di saat pandemi meruntuhkan ekonomi kebanyakan orang, Bu Sri justru mampu menciptakan usaha baru yang menjanjikan. Tak hanya itu lho, Bu Sri ini sudah sering diundang sebagai pemateri atau narasumber di berbagai workshop dan pelatihan kewirausahaan hingga ke luar kota. Belum lagi lomba-lomba yang diikutinya beragam tak jarang ia meraih kemenangan di ajang lomba yang selalu semangat diperjuangkannya. 

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada semua pihak yang membantu saya mbak, baik yang membantu secara materi, alat, maupun dukungan moril. Jadi sebagai rasa syukur saya atas bantuan orang-orang ini, maka usaha ini akan tetap saya jalankan sedaya mampu saya agar apa yang telah diberikan orang-orang ini tidak sia-sia, dan mereka pun merasa dihargai atas bantuannya terhadap saya”, ujarnya membuat saya semakin kagum dengan kepribadian ibu yang satu ini. Dirinya adalah aset KBA yang sangat layak diperjuangkan dan diperhitungkan. 

đź’¦Pelatihan Membuat Maskerđź’¦

Ini adalah hal menarik kedua dalam perbincanganku bersama Pak Roni. Seperti yang kukatakan di awal bahwa ada dua hal menarik yang akan dibahas di sini. Setelah Bu Sri, program pelatihan pembuatan masker di KBA Lempuing ini cukup mencuri perhatian. 

Sekilas terkesan sepele memang, hanya membuat masker. Tapi jangan salah, program ini mampu melahirkan ibu-ibu rumah tangga yang produktif dan membantu ekonomi keluarga. Puluhan ibu-ibu warga KBA diberi pelatihan membuat masker dari ahlinya. Tentu saja pelatihan ini difasilitasi oleh Astra. Mereka diajarkan cara membuat masker mulai dari memotong kain hingga menjahit sampai terbentuk masker yang layak jual pada hari itu juga. 



Selain bertujuan meningkatkan ekonomi warga di tengah pandemi, kegiatan ini juga merupakan sebentuk dukungan KBA Lempuing terhadap pencegahan covid 19. Semakin banyak masker di produksi, diharapkan semakin tinggi pula kesadaran orang-orang untuk memakainya demi kesehatan diri. Begitu usai, masker-masker yang dihasilkan pada hari itu dikemas dalam plastik, lalu dipasarkan. Pembelinya ya orang Astra itu sendiri. 

Setelah pelatihan sehari itu, ibu-ibu yang menjadi peserta diharuskan terus memproduksi masker dan akan ditampung oleh grup Astra sendiri, untuk kemudian dipasarkan ke masyarakat luas. 



Demikianlah, sekeras apa pun ujian hidup, ia tetap harus diperjuangkan. Semoga pandemi ini segera mengucap salam pada bumi. Agar ekonomi kembali pulih dan UKM bisa semakin berjaya.

#SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia

*Poto merupakan dokumentasi pribadi dan istimewa  


27 komentar

  1. Kmapung bBerseri Astra dimana2 memamng menginspirasi ya. Geliat programnya mampu memproduktivitaskan warganya. Semmngat wahai para penggerak!

    BalasHapus
  2. Masya Allah salut sekali dengan perjuangan Bu Sri, aku hanyut sama ceritanya. Benar-benar meniti dari awal, sempat jatuh kemudian bangkit lagi.

    BalasHapus
  3. Syukurlah Bu Sri bangkit kembali usahanya. Murah nih bandengnya hanya 6-12ribu aja. Kalo di sini gak boleh tuh :))

    BalasHapus
  4. Mudah2an bu Sri sehat selalu, sukses mengembangkan usahanya juga.
    Aku jadi penasaran program ASTRA ini gimana ngikutnya yaa kak. Misal ada orang yang ingin kita calonkan sebagai nomine SATU. Tahun ini ada lagi ngga yaa.
    Btw tulisannya super lengkapp. Informatif banget. Saya malah penasaran dengan abon bikinan Buk Sri

    BalasHapus
  5. Keren banget Bu Sri. Sukses hiduo sebagai manusia yang bermanfaat. Turut berduka untuk kehilangan yang beliau rasakan, semoga diganti berlipat dengan kebahagiaan.

    Btw mbak, aku mupeng lihat kamu makan bandeng presto gitu hahaha. Jadi pengen ke KBA Lempuing kalau nanti pas pulkam ke Sumatera

    BalasHapus
  6. Kagum sama ceritanya Bu Sri disini, kegigihannya untuk memulai usaha akhirnya membuahkan hasil. Btw jadi mupeng sama bandeng prestonya euy, membacanya saja membuatku ngiler ingin mencoba.

    BalasHapus
  7. bu srii.. semangat terus yaa.. pasti pandemi ini memukul banyak pengusaha termasuk beliau. mudah2an astra dan banyak pihak bisa saling membantu dan menguatkan yaa

    BalasHapus
  8. luar biasa kampungnya. benar-benar sangat membantu warga sekitar untuk gotong royong membuka lapangan pekerjaan apalagi dimasa pandemi seperti ini. Semoga saja kampung berseri makin berjaya dan selalu menjadi inspirasi bagi kampung yang lain.

    BalasHapus
  9. menginspirasi sekali bu sri ini, tetap berinovasi walau terdampak pandemi. pandemi ini memang bikin orang-oarng jadi kreatif ya mbak.

    BalasHapus
  10. Sangat menginspirasi lho ini ada di kotaku ya ternyata kakak, saya support buat kewirausahaan dibidang perkebunannya lebih diperluas lagi kak, konsumsi sayuran kaya vitamin mineral sangat penting nih di masa pandemi. Suskes kakak

    BalasHapus
  11. Wah.. semoga kelurahan2 lain juga bisa di up mba.. krna bnyak kok ke khas an masing2 klruhan yang belum terekspos

    BalasHapus
  12. Wahh salut banget sama mbk sri heheh pendidikan tidak membatasinya untuk tetap berkarya, setelah abonnikan tuna tidak ada kelanjutan nya karena pandemi19 ini. Lanjut lagi membuka usaha bandeng Fresto. Menurut ku semangat buk sri dan mental buat buka usaha sudah di luar batas ya hehe semoga sukses untuk usahanya buk sri. Dan bisa menginspirasi semua ibuk2 rumah tangga yang tidak ada kegiatan.

    BalasHapus
  13. kalau baca tulisan yang bercerita tentang orang-orang yang semangat bangkit untuk menjadi pengusaha aku sangat suka dan antusias bacanya, apa lagi usaha tersebut sudah menampung pekerja dari orang-orang sekitar....MasyaAllah...menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain sudah diaplikasikan oleh ibuk Sri ini.....top dech buat buk Sri.

    Tulisan kak dahlia ini menjadi inspirasi banyak orang.

    BalasHapus
  14. Luar biasa menginspirasi, sebab tidak sedikit orang yang terpuruk di tengah pandemi...

    BalasHapus
  15. Kreatif sekali ya mba. Pandemi tidak mematikan kreatifitas. Banyak jalan untuk menjemput rezki.

    BalasHapus
  16. Wih keren bu sri.. menjadi seorang wanita yang menginspirasi orang banyak termasuk saya. Semoga bu sri sukses trus usahanya... Aamiin

    BalasHapus
  17. Masya Allah ibu Sri inspiratif sekali. Insya Allah akan selalu terbuka pintu rezeki bagi orang-orang yang tak putus asa untuk berusaha & berdoa. 🤗

    BalasHapus
  18. dalam hal membangun ekonomi emang dibutuhkan pikiran yg kreatif dalam mengolah suatu produk yah kak

    BalasHapus
  19. Luar biasa bu sri. Jadi mupeng mau nyicip abon nya juga mak.
    Waalau pandemi tetap semangat ya membangun usahanya

    BalasHapus
  20. Salut sama perjuangan, Bu Sri. Dalam hal apa pun beliau selalu ingat bahwa ridho suami itu penting hingga akhirnya tidak pernah berhenti mencoba dan Allah mengabulkan doanya.

    BalasHapus
  21. Menginspirasi banget tulisannya mbak. Belajar untuk tidak mudah putus asa nih dari ceritanya. Semangat!

    BalasHapus
  22. Mba lia, sejak lama aku cari bandeng presto di Bengkulu. Karena tulisan ini, aku jadi tahu deh mesti beli dimana, masyaallah, makasih ya mbak

    BalasHapus
  23. Dari cerita dan pengalaman bu sri , jadi tambah semangat dan motivasi bagi kita untuk menjalankan usaha. Kita jadi diingatkan bahwa setiap usaha itu tidak bisa instan, kegigihan dan keuletan yang akan mengalahkan kegagalan, semangat!

    BalasHapus
  24. Mandiri sekali kampung ini, patut jadi panutan

    BalasHapus
  25. MasyaAllah, salut bgt dengan perjuangan bu Sri... ya apapun it mmg psti byk ujiannya dan tntunya ad hikmah di balik itu semuanya.. Sungguh menginspirasi utk terus bersemangat setiap hrinya membaca tulisan Mbk ini. Suatu waktu aku mau order bandeng presto dan abon ikannya ☺

    BalasHapus
  26. Masya Allah..inspiratif sekali kisah Bu Sri.. Semoga jalan rezekinya terbuka lebar.. Semakin banyak lancar dan berkah rezekinya.. aamiin

    BalasHapus
  27. i am ever eat abon Bu Sri, all of my kidas like eat too, yummy an good nutrition and then simple, easy to bring anywhere

    BalasHapus