Rabu, 18 Oktober 2017

Aku, Kau, dan Tahun Kedua Pernikahan Kita

    

Dalam melayari bahtera rumah tangga
Ada masa kelam dan masa gelisah
Jangan nafsu diikut melulu
Sabar dan bermaafan itu perlu
(Hijjaz: Selamat Pengantin Baru)


Potongan bait nasyid Hijjaz ini merupakan alarm bagi para bujanghidin dan bujanghidat yang sudah berniat ingin memulai biduk rumah tangga. Pun sebagai bel peringatan bagi para mukminin dan mukminat yang telah berlayar mengarungi samudera pernikahan, bahwa kehidupan rumah tangga tak selamanya perkara romantisme dan bunga-bunga keindahan yang diumbar-umbar pilem India dan drama Korea selama ini. Banyak kenyataan yang kadang tak sesuai dengan harapan, dan banyak pula persoalan yang kadang tak senada dengan bayangan. SELAMAT DATANG DI DUNIA RUMAH TANGGA, DUNIA NYATA YANG PENUH DENGAN DIMENSI KOMPLEKS KEHIDUPAN! Dan, inilah rumah tanggaku..
Aku dinikahi oleh seorang lelaki tepat di tanggal ini, 18 Oktober 2015. Lelaki yang tak pernah kusangka kehadirannya, pun tak pernah tergambarkan sketsa wajahnya. Pertemuanku dengannya telah pernah kuurai saat pernikahan kami genap setahun. Kalian bisa membacanya di sini, di sini, sini, sini, dan di sini. Seperti jomblowati kebanyakan, aku membayangkan pernikahan itu yang enak-enaknya saja. Apalagi melihat para pasangan muda yang jenggoters dan jilbaber yang sedang bergandeng tangan di taman kota, senyuman merekah dengan candaan ringan, jemari tertaut seakan si dia tak boleh lepas ke lain sangkar, dan di bahu si wanita melingkar lengan kekar saat berjalan menuju parkiran, alahoooyyy..indahnyaaa...

Dan ketika para saksi berucap “SAH”, ternyata keindahan itu menguap ke awang-awang. Yang datang duluan justru rasa cemas dan khawatir. Cemas; apakah lelaki yang tak kukenal ini akan baik memperlakukanku? Khawatir; apakah aku mampu menjadi istri yang qurrata a’yun baginya. Barulah saat pertama kali kucium punggung tangannya usai melekatkan mas kawin di jariku, keindahan itu datang lagi bersama debaran yang menggemaskan. Dan kata indah sungguh tak terdeskripsikan lagi tatkala beranjak dari pelamninan menuju peraduan. Saat itulah aku percaya bahwa barakah pernikahan itu turun sesuai dengan cara kita menjemput cinta itu sendiri; dengan kemuliaan yang diridhoikah atau justru dengan jalan kehinaan yang dimurkai.


Seminggu pernikahan, aku diboyong ke rumah yang ditempati si abang selama ini. Di sinilah bermula dinamika rumah tangga kami yang sesungguhnya. *eeeaaak*. Sifat-sifat yang tertera di biodata ta’aruf dulu mulai kueja satu-satu. Kebiasaan-kebiasaan si dia pun perlahan kurekam baik-baik. Sedang perkara apa yang disukai dengan yang tidak, kami lebih senang membicarakannya face to face dengan waktu yang tentatif. Kita semua paham kan ya bahwa tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Maka seterpenuhi apa pun kriteria yang kuinginkan dari si abang, tetap saja beliau punya kekurangan yang mesti kupahami, walau mungkin tertatih bersama waktu yang tak berbatas. Tentu saja ia pun menemukan hal sama dalam diriku; kekurangan yang tak berkesudahan, bahkan mungkin lebih buruk dari apa yang dicernanya di biodata dulu. Maafkan aku, Bang..

Sebagai istri, tak ada cita-citaku yang lebih tinggi lagi selain bisa bersamamu hingga di keabadian. Menenangkan dirimu di kala gundah, menyenangkan batinmu di saat resah, dan menjadikan rumah sebagai surga bagimu dengan senyum yang terus merekah dan disempurnakan tawa riang anak-anak penentram jiwa. Tapi inilah aku, istrimu yang telah banyak membaca buku dan teori tentang pernikahan, berbagai panduan istri sholehah, namun tak juga sholehah-sholehah amat hingga kini. Bahkan mungkin aku lebih sering menjengkelkan hatimu dengan amarah yang tak berpenjelasan, yang tentu saja disponsori oleh kesensitifan hati yang datang sewaktu-waktu tanpa diundang. Rumit? Bisa jadi. Tapi aku sendiri pun kadang tak mengerti.

Kadang-kadang aku merasa tak tau diri juga. sudah paham bahwa aku bukan wanita yang sempurna, tapi sering menuntut kesempurnaan cinta darimu. Sehari saja kau lupa bilang cinta atau memanggil sayang, aku sudah baper. Berasa tak dicintai lagi. Ritual makan bersama minimal sekali sehari yang kadang tak terlaksana karena kesibukan dan hal lain, aku juga baper, merasa masakannya tak dihargai lagi. Lupa ngabari pulang kalo pulang telat, air mataku pun langsung mengambil posisi. Ruwet? Bisa jadi. Tapi ketahuilah, Bang, sungguh hal-hal sepele yang bikin aku baper itu adalah caraku menjaga keutuhan cinta agar tak memudar di telan masa. Kau tau, Bang? Ibu-ibu yang sudah puluhan tahun menikah banyak bercerita kepadaku. Bahkan yang usia pernikahannya belum genap lima tahun pun mengamini bahwa cinta sudah tak begitu penting lagi bagi mereka, apalagi kalau sudah punya anak. Yang penting itu duit untuk kehidupan yang lebih nyaman. Benarkah nyaman? Kenyataannya tidak. Banyak di antara mereka yang tampak senang di luar tapi pedih di dalam. Karena apa? Karena batin tak bahagia.


Sungguh aku bergidik mendengar dan menyaksikannya. Makna dan tujuan pernikahan yang sesungguhnya sirna entah ke mana. Kebanyakan orang-orang menikah hanya sekedar merubah status, punya momongan, gedein dan nyekolahin anak, menikahkan anak, lalu mati. Wajar saja jika belakangan banyak terjadi perselingkuhan bahkan berujung pembunuhan oleh suami/istri sendiri, sebab cinta tak lagi hadir di tengah-tengah anggota keluarga.

Sungguh tak dipungkiri bahwa hidup ini butuh duit. Butuh banget malah. Bahkan Islam pun menyuruh ummatnya untuk kaya raya agar bisa menginfakkan hartanya di jalan Allah. Tapi cinta juga di atas segalanya. Lebih dari itu, bahwa pernikahan itu ibadah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Jika cinta sudah tidak lagi hidup di hati pasangan, kemanakah sakinah akan bersandar? Aku ngeri, Bang. Pernikahan kita baru seumur jagung, bahkan baru mau dikaruniai anak (inysa allah, semoga sehat lancar hingga lahiran, aamiiin). Dan aku tak mau cinta memudar hanya karena desakan ekonomi, rutinitas kerja yang melelahkan, atau usia yang kebanyakan orang menganggap sudah tak layak lagi. Bagiku, kata-kata cinta, ungkapan sayang dan ekspresi kasih selamanya harus tetap hidup, tumbuh dan berkembang, sekali pun rambut kita telah memutih, kulit kita mengeriput dan cara berjalan kita mulai bengkok. Lebay? Biarkan saja orang menganggap demikian. Cinta kita yang rasa, rumah tangga kita yang bangun, dan kita harus bisa berbeda dengan orang lain dalam memaknai cinta dan rumah tangga.

Mungkin kau butuh waktu untuk sepenuhnya mafhum dengan pemikiranku ini. Karena itu aku akan setia menautkan jemari di tanganmu untuk melangkah bersama. Diam-diam, aku pun sedang belajar mafhum akan dirimu dan segala yang kau inginkan. Sebab sekali lagi kukatakan, tak ada cita-citaku yang lebih tinggi lagi selain bisa bersamamu hingga di keabadian.

Lalu, bagaimana masa kelam dan masa gelisah di sepanjang rumah tangga kita ini? ah, itu lebih unik lagi..

Bersambung......


NB: Dua gambar ilustrasi di atas diambil dari google


19 komentar:

  1. Baper boleh tp jangan sampe kebablasan ya.. :)

    BalasHapus
  2. Ada aku dan kau. aku♡kau.
    makasih cinta dah mau menerima kekuranganku...

    BalasHapus
  3. Mbak Lia ini bikin baper aja.. ^^

    BalasHapus
  4. Bukan bermaksud bikin baper lho ya..biar jd referensi aja sebelum menikah. Dan biar tau kalo menikah itu jg butuh banyak elmu..saya jg msh harus bnyk belajar :)

    BalasHapus
  5. Jadi keingat lagi dengan islam menyuarankan umatnya kaya

    BalasHapus
  6. Yups..kaya hati kaya harta, tentu kekayaan yg halalan thoyyibah.

    BalasHapus
  7. Wahh tulisannya bikin baper nih yang jomblo. Hahahaha

    BalasHapus
  8. samawa ya mbak.. semoga happy selalu

    BalasHapus
  9. rangkayan kata-katanya itu lho mbak, romantis

    BalasHapus
  10. alamak..bahasanya dalem banget..tak kuasa aku membacanya...

    BalasHapus
  11. Ah, mbak zefy n mas dayat bisa aja.. biarlah romantis asal tetap bisa mereguk makna dari si fakir ilmu dan pengalaman semacam kami ini.

    BalasHapus
  12. duhh,, kok bersambung sih mb. udah syahdu banget baca ny.. hahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar g capek jempol pas bacanya..heheh
      Udah terbit tuh yg part 2

      Hapus
  13. Romance sekali mbak. Jadi baper neh buat para jomblo ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapernya jgn kebangetan ya..ntar berabe..hehe

      Hapus